Menggugah Masyarakat Melalui Kebudayaan – FAJAR.co.id

FAJAR.co.id

exciting-banten
Budaya & Pariwisata

Menggugah Masyarakat Melalui Kebudayaan

SEMARANG, RAJA – Peraih Hibah Seni Kelola 2015, “Kapai-kapai (atawa Gayuh)”, sebuah versi “Jawa” lakon “Kapai-kapai” karya Arifin C Noer oleh Kalanari Theatre Movement, Yogyakarta, akan segera dipentaskan di dua kota: Kudus dan Salatiga. Pertunjukan yang disutradarai Ibed Surgana Yuga ini merupakan salah satu hasil gerakan budaya yang dilakukan Kalanari Theatre Movement (Yogyakarta) bersama Sanggar Bangun Budaya (Magelang), sejak 2013.

Program Hibah Seni Kelola 2015 didukung oleh First State Investment Indonesia.

Kapai-kapai merupakan lakon masterpiece Arifin C Noer, bercerita tentang wong cilik Abu dan Iyem yang tertindas sistem dan terjebak dalam kemiskinan terstruktur kaum buruh. Ada tokoh Emak yang menyusun skenario penjerumusan Abu ke dalam lapis-lapis penderitaan, melalui lapis-lapis dunia dongeng dan janji-janji muluk yang tampak mulia bin membahagiakan. Emak terus menekan Abu untuk mencari Cermin Tipu Daya, sebuah jimat yang bisa mengabulkan apa pun permintaan pemiliknya. Bagian demi bagian lakon Kapai-kapai diwarnai dengan kisah Abu mencari Cermin Tipu Daya dan represi demi represi penguasa (bos pabrik).

Sebagaimana siaran berita yang diterima Rakyat Jateng, bahwa Kalanari Theatre Movement nantinya berkolaborasi dengan Sanggar Bangun Budaya mentransformasikan lakon Kapai-kapai ini menjadi Kapai-kapai (atawa Gayuh), dengan “men-Jawa-kan”-nya, membawa berbagai anasir dalam lakon ke dalam “kosmologi Jawa” yang diciptakan dalam proses. Bukan hanya bahasanya saja yang kemudian menjadi bahasa Jawa, namun juga tokoh, simbol, dan idiom pemanggungan lainnya. Salah satu perubahan besar yang dilakukan adalah mengubah tokoh Emak (perempuan) menjadi Ki Dhalang (laki-laki).

Awalnya, lakon Kapai-kapai Arifin C Noer hanya diposisikan sebagai media dialog antara Kalanari – yang menekuni teater modern dan membuka diri dalam mempelajari seni tradisi ­– dengan Bangun Budaya – yang getol dengan kesenian tradisi Jawa namun terbuka dengan berbagai pembaruan yang kontemporer. Proses inilah yang memunculkan ide untuk men-“Jawa”-kan masterpiece Arifin C Noer ini. Sebelumnya, Kapai-kapai (atawa Gayuh) telah dipertunjukkan pada event Mimbar Teater Indonesia (Solo, 2013), Festival Teater Jogja (Yogyakarta, 2013) serta Helateater Salihara (Jakarta, 2015).

Kapai-kapai (atawa Gayuh) merupakan pertunjukan teater yang digelar di ruang terbuka, dengan merespon ruang tempat pertunjukan menjadi bagian yang integral dengan pertunjukan. Pertunjukan juga dirancang untuk luluh dengan penonton, sehingga pertunjukan-penonton menjadi sebuah kosmologi yang utuh. Pentas Kapai-kapai (atawa Gayuh) di Kudus dan Salatiga merupakan dukungan dari Hibah Seni Kelola. Kalanari meraih Hibah Seni Kelola melalui sebuah kompetisi yang diselenggarakan Yayasan Kelola, Jakarta.

Kalanari Theatre Movement merupakan lembaga pergerakan budaya melalui serangkaian kerja teater. Kalanari menggunakan teater sebagai pintu masuk (sekaligus pintu keluar) untuk mempelajari, menginterpretasi, mengeksplorasi, lalu merepresentasikan kebudayaan suatu masyarakat. Teater bukan semata sebagai pencipta pertunjukan atau sekadar melakukan kerja artistik, namun juga memiliki visi dan misi yang luhur dalam mengembangkan kebudayaan masyarakat dengan mengedepankan nilai-nilai utama kemanusiaan. Berdiri di Yogyakarta, pada 8 Maret 2012, tujuan internal (bagi dunia teater) kami adalah untuk meneguhkan kembali ikatan pertunjukan dan masyarakat; serta secara eksternal (bagi masyarakat) kami ingin menggugah masyarakat untuk mengembangkan kebudayaannya. (Idw)

 

loading...
Click to comment
To Top