Kekerasan Seksual Anak Meningkat? – FAJAR.co.id

FAJAR.co.id

exciting-banten
Ragam

Kekerasan Seksual Anak Meningkat?

SEMARANG, RAJA – Belakangan ini kasus kekerasan seksual pada anak semakin banyak dilaporkan. Terungkapnya kasus yang menimpa siswa JIS (Jakarta International School) ternyata diikuti pula dengan laporan kasus serupa di beberapa tempat lainnya. Hingga Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) pun menyatakan bahwa kejahatan seksual terhadap anak sudah masuk situasi darurat.

Di Kota Semarang, Pusat Pelayanan Terpadu Seruni melaporkan bahwa pada tahun 2014 telah melayani 75 kasus kekerasan terhadap anak dari total 244 kasus yang ditangani. Dari sejumlah kasus kekerasan terhadap anak tersebut, 39 kasus (52%) adalah kekerasan seksual. Sementara pada tahun 2015 higga bulan April, sudah ada 11 kasus kekerasan seksual yang ditangani, dengan korban sebanyak 21 anak. Sebagian besar korban berjenis kelamin perempuan dan berusia 7-12 tahun (masih SD).

Tentunya kasus yang terlaporkan hanyalah segelintir dari kasus yang senyatanya. Faktor malu karena dianggap membuka aib keluarga dan takut melapor karena mendapat ancaman dari pelaku sering menjadi hambatan bagi korban untuk melapor. Yang memprihatinkan lagi, bahwa pelaku kekerasan ini sebagian besar adalah orang terdekat korban. Bisa orang tua, kakak, paman, nenek, teman maupun tetangga. Oleh karena itu, negara mempunai kewajiban untuk melindungi anak dari ancaman kekerasan seksual. Tentunya, peran orang tua, guru dan juga masyarakat secara luas dibutuhkan.

Direktur Eksekutif PKBI Jateng, Elisabet S.A Widyastuti, SKM, M. Kes mengungkapkan, guna mencegah kekerasan seksual pada anak, pendidikan kesehatan reproduksi perlu diberikan sejak dini. “Meski kadang orang tua maupun guru masih banyak yang enggan dan merasa tabu untuk membincangkan hal ini baik di sekolah maupun di rumah. Rasa khawatir dan ketidaktahuan tentang bagaimana metode penyampaian kepada anak sering menjadi hambatan utama,” ucap dia, dalam siaran berita yang diterima redaksi, Kamis (7/5).

Oleh karena itu, Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) Jawa Tengah, LSM yang bergerak di bidang kesehatan reproduksi dan seksualitas, berinisiatif untuk menyelenggarakan Workshop Pendidikan Kesehatan Reproduksi untuk Anak Usia Dini. Salah satu narasumber dari PKBI Kalimantan Timur, akan berbagi pengalaman tentang Bina Anaprasa (Bina Anak Pra Sekolah) dimana di dalamnya ada konten kesehatan reproduksi. Sedangkan praktisi dari Rutgers WPF (partner PKBI Jateng) akan berbagi pengalaman pengembangan modul “Aku dan Kamu” sebuah modul pendiikan kesehatan reproduksi untuk anak usia dini yang sudah diterapkan di beberapa provinsi di Indonesia.(Ibr)

loading...
Click to comment
To Top