Parpol Demak, “Ngetem” Menunggu Cabup Terkuat – FAJAR.co.id

FAJAR.co.id

exciting-banten
Pilkada

Parpol Demak, “Ngetem” Menunggu Cabup Terkuat

DEMAK, RAJA – Wacana Pilkada sudah sejak beberapa bulan silam diselentingkan oleh pihak-pihak pemerhati politik, tetapi kegairahan para pelakunya seakan terhalangi. Selain beberapa move politik kelas kroco serta aksi aksi kader parpol yang mengklaim siap dicalonkan tak ada lagi event besar yang menunjukkan kesiapan untuk menyongsong pesta demokrasi rakyat daerah ini. Sementara ini tercatat baru ada 2 parpol besar di Kota Wali yang berani membuka lapak pendaftaran bakal calon kepala daerah, parpol-parpol lainnya hanya berani melakukan pedekate alih alih melakukan konsolidasi internal maupun eksternal.

Demak terkesan tak punya stok kader daerah yang menjadi figur terkuat untuk maju di medan laga 9 Desember mendatang. Hal tersebut disampaikan oleh Muhammad Rifai, Tokoh Pemuda Mranggen. Menurutnya parpol di Kota Belimbing ini seperti tak berani memperlihatkan jati diri sebagai sebuah institusi politik yang seharusnya mampu membawa Demak menjadi merah hijau biru sehingga demokratisasi menjadi bagian hidup secara real. “Kalo parpol tidak pengen kehilangan momentum. Sebenarnya inilah saatnya untuk melakukan war position dan bargaining position. Jangan sampe parpol yang mempunyai garis politik dan ideologi jelas, malah mengekor atau tergantung kepada lembaga atau perseorangan” Tandas Rifai.

Terlepas dari masalah gamangnya parpol mengepakkan sayap untuk menunjukkan eksistensinya di pilkada yang sudah di depan mata, kini di warung kucingan maupun di pos kamling serta perkumpulan arisan atau pengajian kaum lelaki di penjuru Demak sudah mulai ada kasak kusuk tentang pasangan calon yang mereka raba pantas untuk memimpin Demak.

Masyarakat menjagokan beberapa pasang calon untuk bertanding di arena politik kota wali. Uniknya untuk memudahkan penyebutan, mereka menggunakan akronim yang akrab ditelinga dan sudah dianggap sebagai istilah yang lazim. Pasangan yang ramai diperbincangkan layaknya pertaruhan di ajang judi ayam, pasangan  incumbent,  Dakhirin Said – Munhamir ( Ketua DPC PKB Demak) yang disingkat PEMUDA MAHIR. Kemudian Dakhirin Said jika dipasangkan dengan Wahyu Priyanto (PNS, Penyuluh Pertanian ) maka akan membentuk akronim DAKWAH. Sementara calon yang dinilai terkuat selanjutnya yakni pasangan M. Natsir ( Ketua PGRI  Demak) – Joko Sutanto ( Pensiunan PNS Demak) yang anehnya disingkat menjadi NASJOK.

Edi Maharani salah satu pengusaha kuat di Demak kemungkinan berpasangan dengan Wahyu dan mengusung slogan “Masyarakat berHarap Edi-Wahyu” disingkat MAHADIWA.

Mewakili tokoh masyarakat yang menggadang gadang suksesnya pilkada serentak, Muslihun tokoh masyarakat Sayung menyatakan bahwa akronim pasangan calon yang santer beredar di tengah tengah warga baru berupa gothak gathik gathuk ( perkiraan, ramalan hasil menghubung hubungkan). “ Kami hanya menunggu aksi nyata pihak parpol untuk berani melakukan aksi aksi politik sehingga pilkada tidak terkesan adem ayem, nasyarakat kan penasaran terhadap perkembangan menuju pilkada serentak ini. Jadi nama nama yang disebutkan itu belum tentu akan menjadi calon yang maju di kancah pemilihan kepala daerah akhir tahun ini. (Piet)

loading...
Click to comment
Pilkada

Parpol Demak, “Ngetem” Menunggu Cabup Terkuat

DEMAK, RAJA – Wacana Pilkada sudah sejak beberapa bulan silam diselentingkan oleh pihak-pihak pemerhati politik, tetapi kegairahan para pelakunya seakan terhalangi. Selain beberapa move politik kelas kroco serta aksi aksi kader parpol yang mengklaim siap dicalonkan tak ada lagi event besar yang menunjukkan kesiapan untuk menyongsong pesta demokrasi rakyat daerah ini. Sementara ini tercatat baru ada 2 parpol besar di Kota Wali yang berani membuka lapak pendaftaran bakal calon kepala daerah, parpol-parpol lainnya hanya berani melakukan pedekate alih alih melakukan konsolidasi internal maupun eksternal.

Demak terkesan tak punya stok kader daerah yang menjadi figur terkuat untuk maju di medan laga 9 Desember mendatang. Hal tersebut disampaikan oleh Muhammad Rifai, Tokoh Pemuda Mranggen. Menurutnya parpol di Kota Belimbing ini seperti tak berani memperlihatkan jati diri sebagai sebuah institusi politik yang seharusnya mampu membawa Demak menjadi merah hijau biru sehingga demokratisasi menjadi bagian hidup secara real. “Kalo parpol tidak pengen kehilangan momentum. Sebenarnya inilah saatnya untuk melakukan war position dan bargaining position. Jangan sampe parpol yang mempunyai garis politik dan ideologi jelas, malah mengekor atau tergantung kepada lembaga atau perseorangan” Tandas Rifai.

Terlepas dari masalah gamangnya parpol mengepakkan sayap untuk menunjukkan eksistensinya di pilkada yang sudah di depan mata, kini di warung kucingan maupun di pos kamling serta perkumpulan arisan atau pengajian kaum lelaki di penjuru Demak sudah mulai ada kasak kusuk tentang pasangan calon yang mereka raba pantas untuk memimpin Demak.

Masyarakat menjagokan beberapa pasang calon untuk bertanding di arena politik kota wali. Uniknya untuk memudahkan penyebutan, mereka menggunakan akronim yang akrab ditelinga dan sudah dianggap sebagai istilah yang lazim. Pasangan yang ramai diperbincangkan layaknya pertaruhan di ajang judi ayam, pasangan  incumbent,  Dakhirin Said – Munhamir ( Ketua DPC PKB Demak) yang disingkat PEMUDA MAHIR. Kemudian Dakhirin Said jika dipasangkan dengan Wahyu Priyanto (PNS, Penyuluh Pertanian ) maka akan membentuk akronim DAKWAH. Sementara calon yang dinilai terkuat selanjutnya yakni pasangan M. Natsir ( Ketua PGRI  Demak) – Joko Sutanto ( Pensiunan PNS Demak) yang anehnya disingkat menjadi NASJOK.

Edi Maharani salah satu pengusaha kuat di Demak kemungkinan berpasangan dengan Wahyu dan mengusung slogan “Masyarakat berHarap Edi-Wahyu” disingkat MAHADIWA.

Mewakili tokoh masyarakat yang menggadang gadang suksesnya pilkada serentak, Muslihun tokoh masyarakat Sayung menyatakan bahwa akronim pasangan calon yang santer beredar di tengah tengah warga baru berupa gothak gathik gathuk ( perkiraan, ramalan hasil menghubung hubungkan). “ Kami hanya menunggu aksi nyata pihak parpol untuk berani melakukan aksi aksi politik sehingga pilkada tidak terkesan adem ayem, nasyarakat kan penasaran terhadap perkembangan menuju pilkada serentak ini. Jadi nama nama yang disebutkan itu belum tentu akan menjadi calon yang maju di kancah pemilihan kepala daerah akhir tahun ini. (Piet)

loading...
Click to comment
To Top