IFACS, Kurangi Emisi Gas Melalui Pelestarian Hutan – FAJAR.co.id

FAJAR.co.id

Ragam

IFACS, Kurangi Emisi Gas Melalui Pelestarian Hutan

JAKARTA – Indonesia memiliki sejumlah hutan yang kaya dengan keanekaragaman hayati yang paling berharga di dunia. Namun, Indonesia juga memiliki emisi gas rumah kaca yang tinggi akibat deforestasi. USAID IFACS (Indonesian Forest  and Climate Suport) adalah salah satu proyek konservasi yang dibentuk untuk membantu pemerintah Indonesia dalam rangka mengurangi emisi gas rumah kaca yang berasal dari degradasi dan hilangnya hutan.

IFACS bekerja di lapangan dengan pemerintah, sektor swasta, dan masyarakat sipil melaksanakan atau mendukung kegiatan yang bertujuan untuk melestarikan hutan, keanekaragaman hayati dan ekosistem, serta merencanakan strategi pembangunan rendah emisi untuk lahan yang telah terdegradasi.

Sejauh ini, IFACS telah bekerjasama dengan total 13 kabupaten/kota yang tersebar di empat provinsi, diantaranya, Provinsi Aceh, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah dan Papua. Dalam kerjasama tersebut, seluruh pihak dilibatkan dengan mengangkat isu perubahan iklim.

“Seluruhnya kami libatkan dalam isu perubahan iklim ini, diantaranya pemerintah dan khususnya masyarakat yang tinggal disekitar hutan, media massa termasuk para akademisi. Media sendiri Kkita menganggap penting yang bertujuan mendorong agar penyebaran informasi ini menjadi lebih penting,” kata Rezki Mulyadi selaku Comunication and Outreach Specialis USAID IFACS saat ditemui di acara Indonesiaan Climate Change Education Forum and Expo di Jakarta Convention Center (JCC), Kamis (14/5).

Dalam pameran perubahan iklim yang diselenggarakan tersebut, yang ditampilkan IFACS adalah terkait dengan isu perubahan iklim, seperti isu kebakaran hutan dan gambut. Disamping itu juga, termasuk isu penyelamatan bakau atau mangrove seperti yang terjadi di Papua.

[NEXT-FAJAR]

“Sasarannya itu dengan mendukung strategi pembangunan rendah industry dengan memberikan bantuan teknis kepada pemerintah untuk menyusun kajian lingkungan hidup strategis,” tambahnya.

Dalam organisasi ini, lanjut Rezky, yang terpenting adalah dengan mendorong masyarakat sekitar hutan untuk terus menjaga hutan. “Misalkan di Kalimantan karena sudah terlalu banyak hutan yang terbakar, maka masyarakat ini kita dorong untuk mendukung perkebunan. Dengan begitu, warga akan menjadi orang yang melakukan pengamanan terhadap hutan serta dijadikan sebagai penghidupan alternative,” paparnya. “Nah, ini bukan hanya dilakukan di Kalimantan, tapi secara global,” tambahnya.

Di Papua sendiri mengingat didaerah tersebut merupakan daerah pertambangan, yang menjadi ancaman adalah menyangkut penyelamatan hutan bakau. Olehnya itu, masyarakat didaerah ini didorong agar bisa menjaga lahan mereka agar tidak terancam dialihkan menjadi lokasi pertambangan. “Kalau di Papua, disana ancamannya penyelamatan hutan bakau. Banyak kasus di Indonesia bakaunya hilang yang pada akhirnya masyarakat akan kesulitan dalam mencari ikan,” tutupnya. (hrm)

Click to comment
To Top