Industri Logam Akui Sulit Tembus Pasar Mancanegara – FAJAR.co.id

FAJAR.co.id

Ekonomi & Bisnis

Industri Logam Akui Sulit Tembus Pasar Mancanegara

SEMARANG, RAJA – Koperasi Industri Batur Jaya Klaten, Jawa Tengah, mengaku kesulitan untuk bisa menembus pasar mancanegara. Hal itu diungkapkan oleh Siswanto, pengelola dari koperasi industri logam tersebut dalam acara gelar produk logam bertajuk Berdikari Industri dalam Negeri akhir Mei 2015 kemarin.

Siswanto menjelaskan, kesulitannya dalam menembus pasar mancanegara disebabkan karena kekurangcanggihan alat-alat yang digunakan untuk memproduksi produk-produk logam garapannya. Menurutnya, hal itu bisa memengaruhi kualitas maupun harga jual.

“Mengenai ekspor, tentu tujuan kami ke arah sana. Tapi, itu kan persaingannya ketat. Kalau bahan baku, dari dalam negeri itu sudah cukup. Namun, peralatannya jika mau membeli yang canggih itu kan harus pakai dolar. Nah, itu masalahnya,” terangnya.

Untuk saat ini, industri penyupply kampas rem kereta api ini hanya memnuhi pasar dalam negeri. Dalam satu tahun, pendapatan yang diterima perusahaan berkisar antara Rp20-35 miliar. “Ini kan masih skala kecil, jadi ya segitu yang masuk,” papar Siswanto.

Hal senada juga diungkapkan oleh Amir. Pengelola industri otomotif dari Koperasi Usahawan Baru (KUB) Teknik Jaya, yang juga memproduksi produk dari logam, itu pun merasakan hal yang sama. Menurutnya, menembus pasar ekspor memang sangat sulit.

Masih dengan alasan yang serupa, Amir juga mengeluhkan akan peralatannya yang masih manual. Selain itu, menurutnya, SDM yang ada sekarang ini belum memiliki standar di atas rata-rata. Hal pokok itulah yang menyebabkan dorongan untuk ekspor amat kecil.

“Peralatan kami masih tradisional. Selain itu, SDM juga masih kekurangan. Jadi, untuk ekspor, kami belum ada niat,” terangnya saat ditemui di pameran di Java Mall Semarang. Oleh sebab itulah, Amir juga mengakui bahwa industri yang digelutinya masih berada dalam skala kecil dengan pendapatan kotor sampai dengan Rp200 juta per bulan.

Sebelumnya, Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jawa Tengah Prijo Anggoro BR mengatakan bahwa untuk bisa menembus pasar ekspor, perlu dipahami adanya teknik marketing yang jitu. Menurutnya, produk-produk dalam negeri itu kualitasnya sudah mumpuni. Namun, disebabkan karena kekurangterbukaan jaringan pasar, maka itu akan menghambat perluasan usaha.

“Teknik marketing itu penting. Jadi, harus dikuasai betul. Apalagi, sebentar lagi kita menghadapi pasar bebas MEA. Persaingan pasti terjadi. Jadi, harus pandai membaca pasar,” kata Prijo Anggoro BR belum lama ini.

Dia mencontohkan pula pentingnya teknik marketing dalam sebuah industri. Sebut saja produk souvenir. Buah tangan produksi dalam negeri tentu bermacam-macam dan juga kualitasnya tidak buruk-buruk amat. Namun, sering kali produsen dalam negeri tidak punya pasar. Jika pun ada yang membutuhkan, karena sebelumnya tidak banyak yang tahu jika ada produk tersebut, maka bisa dibilang telat (kehadirannya,red).

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jawa Tengah itu juga menyebutkan bahwa sampai saat ini, ada tiga sektor yang mendominasi ekspor. “Ada produk garmen, kayu atau mebel, dan makanan olahan.”

Dikatakannya pula bahwa total ekspor, khususnya dari Jawa Tengah, dipantau naik; meskipun impornya juga sama menanjak. Dia mengatakan, sampai saat ini memang belum bisa menghentikan impor karena tidak semua bahan baku itu tersedia di dalam negeri. “Seperti terigu dan gandum itu kan kita tidak produksi sendiri. Jadi, itu harus impor,” jelasnya. (SS)

Click to comment
To Top