Pemilik Lahan Konservasi Mangrove di Passo Bantah Dituduh Melakukan Penebangan – FAJAR.co.id

FAJAR.co.id

Ragam

Pemilik Lahan Konservasi Mangrove di Passo Bantah Dituduh Melakukan Penebangan

AMBON- Tarce Fatlolon membantah tudingan yang menyebut dirinya melakukan penambangan pohon mangrove yang ada di lokasi tanah miliknaya di Perbatasan Desa Lateri-Passo. Lokasi tersebut merupakan wilayah penanaman pohon manggrove yang cukup padat.

Tudingan tersebut disampaikan setelah ditemukan lahan garapan baru yang sudah berdiri pondasi beton. Karena itu, Tarce membantah kalau pengerjaan lahan itu hingga menebang pohon manggrove.

“Kita belum melakukan pembangunan apapun pada kawasan itu. Kalau membangun talud penahan ombak, ia, ada. Namun itu semata-mata untuk melindungi tanah tersebut ketika musim hujan. Jadi saya heran, kok kita dituduh telah menebang pohon mangrove?” cetusnya dalam ketarangan pers Kamis (5/6).

Menurutnya, pihaknya berencana membangun ruko sekaligus tempat tinggal pribadi. Namun sebelum merealisasi rencana tersebut, dia telah meminta pakar lingkungan dari Universitas Pattimura yang diketuai Prof Semmy Khow dan empat orang doctor lingkungan untuk melakukan analisa lingkungan. Begitu pula dengan izin prinsip dari lokasi tersebut.

“Jadi kita tidak merusak, bahkan kita berniat membangun jalan setapak guna memudahkan akses bagi semua pihak yang ingin melakukan penelitian maupun berwisata hutan bakau. Dengan begitu ada biaya pemeliharaan untuk tanaman-tanaman sekaligus memberi nama mangrove itu,” terangnya.

Tarce menegaskan, pada prinsipnya pihaknya akan mematuhi setiap aturan yang berlaku mengenai lingkungan hidup.Ia mengaku, tidak keberatan apabila Pemerintah Kota (Pemkot) Ambon ingin menjadikan kawasan diatas lahan miliknya sebagai daerah wisata. Namun harus diingat bahwa lahan tersebut adalah lahan bersertifikat atas kepemilikan dan bukan tanah milik Negara.

“Kita beli lahan itu senilai Rp3 Milyar. Jadi kalau pemerintah ingin mengambilnya, ayo kita bicarakan sesuai aturan yang berlaku pula,” tandasnya.

Tarce juga berjanji, jika hasil analisa lingkungan telah dikeluarkan dan menyatakan bahwa kawasan tersebut tidak layak untuk dilakukan pembangunan, maka dirinya akan menerima.

Dikatakan, kronologis kepemilikan lahan tersebut, awalnya dikuasai oleh Keluarga Thenu dan dipakai sebagai kebun tanaman pala dan kelapa sejak 1960-an. Kemudian ditahun 1980-an, tanaman pala tidak bisa bertahan alias mati dan hanya terdapat pohon kelapa dan jambu. (IO)

Click to comment
To Top