Prosesi Tuk Sikopyah, Awali FGS – FAJAR.co.id

FAJAR.co.id

Ragam

Prosesi Tuk Sikopyah, Awali FGS

PURBALINGGA, RAJA – Prosesi pengambilan air dari Tuk atau mata air Sikopyah mengawali rangkaian kegiatan Festival Gunung Slamet (FGS) 2015 yang digelar di Desa Serang, Kecamatan Karangreja, Purbalingga,  4 – 6 Juni.

Dari sejak Kamis pagi, suasana di sekitar lokasi Tuk Sikopyah sudah ramai. Sedikitnya ada 40 pemuda pemudi yang bersiap mengenakan pakaian adat Banyumasan. Mereka berkumpul di masjid Dusun Kaliurip bersama sejumlah sesepuh desa setempat. Dari tempat inilah proses pengambilan air Tuk Sikopyah diberangkatkan oleh Kepala Staf Kodim 0702 Purbalingga Mayor ARM Sudarno. Kemudian di Balai Desa, air itu diterima dan disemayamkan oleh Ketua DPRD, Tongat.

Prosesi diawali dengan pembacaan doa di teras masjid Kaliurip diiringi salawat berlanggam jawa dan music rebana. Usai prosesi di masjid tersebut, rombongan kemudian berangkat menuju tuk Sikopyah yang berjarak sekitar 2 kilometer menyusuri lereng Gunung Slamet.

Dalam iring-iringan itu, terlihat sejumlah wanita yang mengenakan kain warna hijau dan kaum pria memakai pakaian serba hitam disertai ikat kepala. Beberapa wanita tampak membawa sesaji dan sisanya membawa kokok atau gelondongan bambu kecil sepanjang 1,5 meter yang digunakan sebagai tempat air. Sedangkan lainnya termasuk para pria juga membawa lodong atau wadah air yang berukuran lebih besar.

Sesampainya di Tuk Sikopyah, sesepuh masyarakat memimpin doa yang dilanjutkan dengan pengambilan air untuk dimasukkan ke dalam lodong dan kokok.

Usai pengambilan air, sesepuh masyarakat kembali membacakan doa sebelum rombongan berjalan menuju Balai Desa Serang untuk menyemayamkan lodong dan kokok berisi air yang nantinya akan dibagikan pada hari terakhir FGS 2015, Sabtu (6/6).

Kepala Desa Serang Sugito menuturkan, air Tuk Sikopyah merupakan air kehidupan bagi warga desa Serang, Kutabawa dan Siwarak. Bahkan dialirkan hingga wilayah kabupaten tetangga Pemalang. Mata air Sikopyah merupakan satu dari mata air terbesar di lereng timur Gunung Slamet. Yakni mata air panas Guci, mata air panas Baturaden dan mata air dingin Sikopyah di desa Serang. “Dari cerita masyarakat, asal mula nama Sikopyah berasal dari legenda Haji Mustofa yang tinggal di padepokan dukuh Kaji milik Ndara Subali yang suka bertapa di Tuk Sikopyah. Tuk itu merupakan tempat mandi dari Haji Mustofa,” jelasnya.

Nama Sikopyah sendiri, lanjut Sugito, berasal dari kata kopyah dalam bahasa jawa yang berarti peci atau ditempat lain ada yang menyebutnya songkok atau kupluk. Suatu saat, kopyah Haji Mustofa ketinggalan dan hilang di tempatnya bertapa. “Maka Haji Mustofa menamakan tempat tersebut sebagai Tuk Si Kopyah,” bebernya.

Secara turun temurun, masyarakat desa Serang dan sekitarnya menyakini air Tuk Sikopyah tersebut sebagai air kehidupan. Ada juga yang meyakini kalau air Tuk Sikopyah dapat meningkatkan derajat dan menyembuhkan penyakit kulit. Bahkan lebih berkasiat dibanding air panas Guci dan Baturaden.

Ketua Panitia FGS, Tri Daya Kartika mengaku terharu dengan terselenggaranya Festival Gunung Slamet ini. Dia berharap kegiatan ini mampu mendukung pariwisata di segitiga desa wisata yakni desa Serang, Kutabawa dan Siwarak. “Adanya kegiatan seperti ini kita harapkan mampu meningkatkan kunjungan wisata di tiga desa tersebut,” katanya.

Diungkapkan oleh Kepala Dinas Kebudayaan Pariwisata Pemuda dan Olah Raga (Dinbudparpora) Purbalingga, Subeno, kegiatan Festival Gunung Slamet yang baru pertama diadakan di Purbalingga telah disetujui Gubernur Ganjar Pranowo akan diangkat menjadi event Provinsi. “Tahun ini event provinsi ada di Festival Serayu di Banjarnegara. Tahun depan akan bergeser ke Purbalingga dan Dinbudpar Jateng sudah siap membackup,” ujar Subeno disela-sela prosesi pengambilan air kehidupan tuk (mata air-red) Sikopyah.

Menurut Subeno, kegiatan FGS nantinya diharapkan jadi ikon bukan hanya untuk Purbalingga tetapi juga untuk wilayah Banyumas raya utamanya yang ada di lereng Gunung Slamet. Sebenarnya, lanjut Subeno, tahun ini sudah diagendakan mengundang kabupaten tetangga untuk berpartisipasi. Namun karena terkendala dana, mereka batal diikutkan. “Tahun depan, Dinbudparpora bersama pemkab juga akan memback-up penuh kegiatan ini.  Mudah-mudahan akan lebih besar dari yang sekarang,” katanya. (Pn)

To Top