Demam Batu Akik, Pengrajin Sangkar Burung Murung – FAJAR.co.id

FAJAR.co.id

exciting-banten
Ragam

Demam Batu Akik, Pengrajin Sangkar Burung Murung

BANYUMAS, RAJA – Sejumlah perajin sangkar burung di Desa Banjarsari, Kecamatan Ajibarang, mulai merasakan dampak buruk demam akik. Penyebabnya, demam batu mulia itu telah membuat sebagian masyarakat beralih profesi dari pecinta burung menjadi kolektor akik.

Salah satu perajin sangkar burung di Banjarsari, Eri Yulifian (34), mengaku sangat merasakan badai batu akik itu. Dalam beberapa bulan terakhir ini, omzet penjualannya terjun bebas. Dia menduga banyaknya para pecinta burung beralih profesi menjadi kolektor dan pemburu batu akik. “Sekitar tiga bulan ini, produksi sangkar saya turun 50 persen dari biasanya. Padahal sebelumnya banyak pemesan yang sudah menghubungi untuk diantar,” jelas Eri yang biasa menjual sangkar burung di wilayah Jawa Barat seperti Kuningan dan Ciamis, kemarin.

Sebelum demam batu akik melanda, Eri mampu memproduksi dan menjual sangkar burung 80-100 unit per pekan atau senilai Rp4 juta sampai Rp5 juta. Namun saat ini, dia hanya mampu menjual 40-50 unit sepekan. Kabar buruk itu datang setelah booming batu akik.

Eri dan sejumlah tetangganya yang berprofesi serupa hanya bisa pasrah. Produksi sangkar burung dan omzetnya pun anjlok. Bahkan dia bisa menjual separuh sangkar burung saja setiap pekan, itu sudah terbilang ngos-ngosan. “Kalau sebelumnya di dua tempat atau kios sudah ludes terjual, kali ini saya harus keliling kampung untuk menjual sangkar burung karena banyak kios yang tutup. Walaupun keliling, tetap saja sepi. Di mana-mana masyarakat demam akik terpaksa sampai dua hari keliling wilayah Kuningan sampai ke Subang Jawa Barat,” ujar Eri.

Padahal, harga sangkar burung bervariasi dari harga termurah yaitu Rp15 ribu sampai termahal Rp100 ribu. Saat ini yang masih stabil ada sangar burung merpati. “Kalau burung merpati harganya sekitar Rp35 ribu sampai Rp70 ribu. Dan permintaan sangkar burung merpati stabil dan yang memproduksi sangkar burung hanya beberapa orang,” ujarnya.

Kepala Desa Banjarsari, Mukhtarom menjelaskan, sebanyak 800 warga Desa Banjarsari menjadi perajin sangkar burung. Namun setelah demam batu akik booming, omzet perajin sangkar burung menurun gratis. “Saat ini omzet perajin turun drastis sejak demam batu akik melanda wilayah Indonesia. Sebagian besar perajin memasarkan produksinya ke wilayah Jakarta dan Jawa Barat, saat ini mereka keliling kampung. Perajin hanya bisa pasrah, walaupun tetap memproduksi sangkar burung tetapi produksinya dikurangi,” jelasnya. (RB)

loading...
Click to comment
To Top