Guru di Magelang Minati Tulis Cerpen – FAJAR.co.id

FAJAR.co.id

exciting-banten
Ragam

Guru di Magelang Minati Tulis Cerpen

MAGELANG, RAJA – Musyawarah Guru Mata Pelajaran Bahasa Indonesia Kota Magelang, Sabtu (6/6), menggelar lokakarya penulisan cerita pendek (cerpen) di Hotel Atria Kota Magelang. Sekitar 30 guru SMP dan SMA di Kota Magelang dan sekitarnya mengikuti kegiatan yang menghadirkan sastrawan yang juga petinggi Dewan Kesenian Jawa Tengah Triyanto Triwikromo sebagai narasumber.

“Ternyata peminat lokakarya ini cukup banyak, tidak hanya guru-guru di Kota Magelang, tetapi juga beberapa daerah di sekitarnya,” kata Koordinator Hubungan Masyarakat Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGPM) Bahasa Indonesia Kota Magelang Wicahyanti Rejeki di sela-sela kegiatan tersebut di Ruang Cinnamon 1, Hotel Atria, Kota Magelang, Sabtu.

Apalagi, pihaknya sebagai penyelenggara kegiatan tersebut merencanakan penerbitan cerpen karya-karya mereka sebagai hasil lokakarya itu, menjadi buku antologi cerpen guru. Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Bahasa Indonesia Kota Magelang rencananya menerbitkan antologi tersebut pada Agustus mendatang.

Ia menjelaskan tentang manfaat lokakarya penulisan cerpen guru tersebut, yang terutama untuk mendorong para siswa gemar membuat karya tulis berlanggam sastra. Lokakarya tersebut, katanya, menjadi salah satu program penting MGMP Bahasa Indonesia Kota Magelang dengan membuka luas kesempatan kepada guru di luar daerah tersebut untuk mengikutinya.

“Supaya mereka menjadi teladan bagi siswa-siswa di sekolah masing-masing,” kata Wicahyanti yang juga guru Bahasa Indonesia di SMP Kristen I Kota Magelang, Jawa Tengah dan salah satu pendiri kelompok penyair Forum Kilometer Nol (FKN) Borobudur Kabupaten Magelang itu.

Ia menjelaskan tentang materi yang diberikan dalam lokakarya tersebut, antara lain karakter dengan penguatannya, penokohan, penciptaan konflik dalam cerita, penjelasan latar belakang cerita. “Setiap peserta diwajibkan menghasilkan karya cerpen yang kemudian akan dibukukan dalam antologi cerpen,” katanya.

Ia mengemukakan tentang sejumlah kesulitan guru selama ini dalam menulis cerpen. “Umumnya karena belum membiasakan diri menulis sastra. Ibarat orang bercerita dengan lancar, hal itu kemudian dibiasakan dengan menuangkan dalam bentuk karya cerpen. Jadi tinggal mengolah menjadi tulisan,” katanya. (sp)

loading...
Click to comment
To Top