Jaksa Aneh, Orang Sudah Meninggal Malah Diajukan Jadi Saksi – FAJAR.co.id

FAJAR.co.id

exciting-banten
Hukum

Jaksa Aneh, Orang Sudah Meninggal Malah Diajukan Jadi Saksi

KENDARI – Pengadilan Tipikor Kendari kembali menggelar sidang lanjutan perkara korupsi proyek Pembangkit Listrik tenaga Uap (PLTU) Lasunapa di Kecamatan Duruka Kabupaten Muna. Sidang kali ini menghadirkan sebanyak 14 orang saksi. Kasus ini menempatkan dua tersangka, yaitu La Ora dan La Ode Mbirita.

Terdakwa La Ora didampingi pemgacara kondang di Kendari, Dr Muh Yusuf SH MH. Sementara La Ode Mbirita menggandeng pengacara La Fenta SH. Perkara ini diperiksa majelis hakim yang dipimpin Jarasmin Purbach SH.

Sedianya, pengadilan meminta dihadirkan 16 saksi, namun yang datang hanya 14 orang. Satu di antara yang absen adalah istri La Ode Mbirita, beralasan sakit. Waktu hakim tanya mana saksi yang seorang lagi, para saksi serentak menjawab,”sudah meninggal, Pak!”

Saksi yang hadir antara lain Ahmad Isran SE, Yeyen Astriani, Titin Umpah Isti, La Ode Hanafia, La Ubu, La Tani, Muliati, Lahasira, Ahmad Latip, Ambrin Posito, La Unsuli, Nur Said, La Ode Sanaiya, dan Muh Ridwan SAg.

Dalam sidang sebelumnya, pihak PLTU kepada pengadilan menerangkan, semua anggaran untuk lahan masyarakat di Lasunapa sudah dicairkan seluruhnya.

Tapi fakta itu dibantah masyarakat Lasunapa dalam sidang, kemarin. Terungkap, para pemilik lahan mengungkapkan, uang memang sudah masuk di rekening mereka, tapi tidak sesuai dengan yang nominal sesungguhnya.

Dalam perkara ini, tersangka sebenarnya berjumlah tiga orang, namun yang dituduhkan hanya dua terhadap dua orang saja, yaitu La Ora dan La Ode Mbirita. Dari semua saksi di atas, hampir semua punya lahan untuk pembangunan PLTU, namun beberapa saksi mengeluh dengan anggaran yang masuk di rekening mereka.

Misa, saksi La Ode Hanta mengaku, dirinya punya lahan seluas 4.443 hektare, menerima uang ganti rugi di rekeningnya sebesar Rp 200 juta. “Tapi pada saya menarik uang di bank, tinggal Rp 95 juta. Yang Rp 105 jutanya saya tidak tahu kemana,” ungkapnya.

Majelis hakim mengejar La Ode Hanta,”apa kamu rela uangmu Rp 105 juta hilang begitu saja. Dan, apa kamu keberatan kalau pihak PLTU membangun di lahan itu?” tanya hakim.

Kebanyakan pemilik lahan ikhlas tanahnya diberikan untuk PLTU. Hanya saja, hampir semua saksi mengatakan uang ganti rugi lahan mereka yang masuk di rekening mereka cuman setengahnya dari jumlah yang disebutkan.

Lucunya, ada salah satu saksi yang mengaku uang ganti rugi lahanya tidak dikenai potongan satu sen pun. Kata dia, uang yang masuk di buku rekeningnya dibayar semua.

Mendengar keluguan warga ini, majelis hakim menggeleng-gelengkan kepala, dan lalu menampakkan mata melotot kepada para saksi. “Tahukah (kalian) uang itu hanya setengah dari ganti rugi lahan kalian. (Setengahnya) Lari kemana, Siapa yang ambil?” kata hakim meluruskan.

Sampai akan dilanjutkan kembali pekan depan, masih dengan pemeriksaan saksi. (BKK)

loading...
Click to comment
To Top