Rumah Disita, Keluarga Anas Urbaningrum ‘Mengungsi’ – FAJAR.co.id

FAJAR.co.id

exciting-banten
Ragam

Rumah Disita, Keluarga Anas Urbaningrum ‘Mengungsi’

JAKARTA – Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) melakukan penyitaan terhadap rumah milik tersangka tindak pidana pencucian uang, Anas Urbaningrum. Rumah yang terletak di Jalan Selat Makassar, Kavling TNI-AL Blok C9, Duren Sawit, Jakarta itu dipasangi plang berwarna putih bertuliskan “Tanah dan bangunan ini telah disita dalam perkara tindak pidana pencucian uang dengan tersangka Anas Urbaningrum,”.

Meski rumah ini kecil, namun memiliki pos satpam. Posisinya di sebelah kanan luar pagar. Pos ini memiliki jendela kaca yang menghadap ke samping dan ke depan. Jendelanya dilapisi kaca film model cermin dua arah. Orang dari luar tak bisa melihat isi pos. Tapi dari dalam bisa terlihat situasi di sekitar rumah yang dijaga.

Kaca jendela di samping tampak pecah. Dari sela-sela kaca yang pecah itu bisa terlihat bahwa pos ini kosong. Pintu masuk pos yang berada di samping dalam kondisi terkunci.

Pagar rumah di samping pos tertutup rapat. Pagarnya model teralis. namun celah-celahnya ditutupi lembaran fiber warna putih pekat, sehingga orang tidak bisa mengintip ke dalam. Tak ada untuk mengintip dari pagar ini.

Rumah ini sebelumnya milik Nurkasanah. Tanah berikut bangunan seharga Rp 690 juta ini kemudian dibeli Anas melalui Nurachmad Rusdam pada 28 Juni 2011. Kepemilikannya di atas namakan Attabik Ali, mer­tua Anas.

Masih di kompleks ini, ru­mah Anas lainnya yang terle­tak di Jalan Teluk Semangka Blok C9 Nomor 1 juga disita telah disita KPK sejak tahun lalu. Rumah seluas 639 meter persegi ini sebelumnya milik Reny Sari Kurniasih. Dibeli lewat Nurachmad Rusdam pada 16 November 2010 se­harga Rp 3,5 miliar. Kemudian kepemilikannya di atas nama­kan Anas sendiri.

Sama seperti rumah ada di Selat Makassar, bangunan ini juga tampak sepi. Gerbang uta­manya dalam kondisi terkunci. Pos jaga yang berada di samping gerbang utama, juga kosong. Dibagian kiri terdapat markas Perhimpunan Pergerakan Indonesia (PPI), ormas yang didirikan Anas dan pendukung­nya. Tembok setinggi 2 meter mengelilingi sisi ini.

[NEXT-FAJAR]

Di sisi rumah yang menghadap Jalan Langsa terdapat satu pintu masuk. Pintu terletak di sebelah kanan halaman, yang dijadikan tempat parkir. Pintu kayu beror­namen itu hanya cukup dilewati satu orang.

Ketika didorong, pintu ini ternyata tak terkunci. Melangkah ke dalam, terlihat suasana rumah ini gelap. Semua lampu dima­tikan. Kolam yang terletak di kanan dan kiri jembatan menuju pendopo, hanya berisi air dan daun-daun yang rontok.

Pendopo itu terletak di sebelah kanan kolam. Desainnya ala jo­glo. Pendopo ini juga gelap. Di dinding bagian dalam pendopo terlihat bendera ada dan logo PPI, yang terdiri dari gabungan warna merah, putih, dan hitam.

Di sebelah kiri dalam terdapat sebuah pintu yang menjadi akses masuk ke bangunan utama. Pintu ini terkunci. Kemudian pada bagian kanan dalam halaman parkir seluas 81 meter persegi yang disulap menjadi tempat berkumpul.

Tenda semi permanen me­lindungi tempat parkir ini dari terik panas dan hujan. Di sisi kiri parkiran, terdapat sebuah span­duk besar berukuran 2×13 meter. Di spanduk itu, terpampang lambang PPI dengan tulisan: Bergerak..! Serentak..! Gerakan Kebangkitan Indonesia.

Khodir, warga di situ mengungkapkan, sejak disita KPK tahun lalu, rumah ini tidak ditempati. Keluarga Anas juga tidak per­nah menginjakkan kakinya di rumah ini.

“Yang saya lihat sih, tidak ada keluarga yang datang. Soalnya saya nggak pernah lihat lagi, ada mobil yang keluar-masuk ger­bang. Kalau mobil yang parkir di samping itu biasanya milik tetangga,” katanya.

Sebelumnya, keluarga Anas menyatakan siap hengkang dari rumah ini KPK menyitanya. “Kalau mau disita ya silakan,” ujar Yulianto Wahyudi yang mewakili keluarga Anas.

Menurut Khodir, anggota PPI juga sudah jarang datang ke tempat ini. Ia melihat anggota ormas ini datang terakhir kali pada Januari 2015. “Mereka berkumpul dalam rangka peringatan setahun di­tahannya Anas. Itu sepanduknya masih terpasang,” terang Khodir, sambil menunjuk ke salah satu sepanduk.

[NEXT-FAJAR]

Spanduk tersebut terletak tak jauh, dari gerbang utama markas PPI. Warnanya merah putih. Pada sisi kiri spanduk tersebut, terpampang sketsa wajah Anas Urmaningrum dengan posisi menghadap agak menyamping.

“Jangan menyerah untuk men­cari keadilan,” tulisan dukungan di spanduk itu. Di tulisan ini dicantumkan tanggal 1 Januari 2014 -1 Januari 2015.

Di seberang gambar sketsa wajah Anas dicantumkan angka “1” selebar spanduk, yang dilanjutkan tulisan “Tahun Penzaliman”.

Menurut Khodir, sejak rumah ini disita belum pernah terlihat petugas KPK maupun pengadi­lan yang mengecek kondisinya. “Yang saya tahu, rumah itu ham­pir selalu kosong,” tandasnya.

Belum lama, Mahkamah Agung (MA) memutuskan perkara kasasi Anas. MAmemvonis Anas bersalah dalam kasus yang menjeratnya dan dihukum 14 tahun penjara. Tak hanya itu, hak politik Anas dicabut, diwajibkan membayar denda Rp 5 miliar, dan uang pengganti kerugian negara Rp 57,59 miliar plus 5,261 juta dolar Amerika.

Dengan keluarnya putusan kasasi MAini, kasus Anas mendekati babak akhir. Anas tinggal memiliki satu upaya hukum yang bisa ditempuhnya, yakni penin­jauan kembali (PK).

Sesuai ketentuan hukum yang berlaku, PK tak menghalangi ek­sekusi putusan kasasi. Akankah aset-aset Anas akan disita per­manen untuk mengganti uang kerugian sebesar Rp 57,59 miliar plus 5,261 juta dolar AS?

Yudi Kristiana, jaksa penuntut umum dalam kasus Anas belum memutuskannya. Ia beralasan masih menunggu salinan putusan kasasi dari MA.  “Hal-hal yang terkait aset itu sesuatu yang rumit dan pelik, bahkan sensitive, Jadi kita harus menunggu putusan resminya,” katanya. (RMOL)

loading...
Click to comment
To Top