Politisasi Momen Ramadan – FAJAR.co.id

FAJAR.co.id

Makassar

Politisasi Momen Ramadan

MAKASSAR, FAJARONLINE –Bulan ramadan menjadi dambaan umat muslim seantero dunia. Sebagai bulan suci, momen ini juga jadi berkah berbagi untuk sesama. Misal dengan zakat, infak, sedekah, dan lainnya.

Termasuk bagi balon bupati yang menyasar 11 pilkada di Sulsel saat ini. Karenanya, semua cabup akan terus meningkatkan proses sosialisasinya selama ramadan mendatang.
Direktur Eksekutif PT Duta Politika Indonesia (DPI) Dedi Alamsyah Mannaroi mengatakan politisasi kesucian ramadan sulit dihindari. Walau mesti butuh tenaga dan finansial lebih.
“Itu tidak bisa dihindari, karena kebetulan ramadan jatuh saat jelang pilkada. Semua tergantung kepada niat masing-masing calon,” beber Dedi Alamsyah, Sabtu 13 Juni.
Menurutnya, momen ini tetap penting menjadi ukuran kualitas balon bupati yang akan bertarung. Setidaknya mengetahui ahlaq para calon pemimpin tersebut. Karenanya, sosialisasi dibulan ini tetap penting bagi balon.
“Soal siapa yang diuntungkan, saya pikir masyarakat dan calon sama-sama untung. Tergantung siapa saja cabup yang mau tetap lakukan sosialisasi meski dibulan ramadan yang penuh berkah,” bebernya.
Pengamat Politik UIN, Firdaus Muhammad mengatakan di bulan ramadan, peluang para kandidat mencuri star sangat terbuka.Minimalmensosialisasikan dirinya bakal maju dalam perhelatan lima tahun sekali tersbeut.
“Potensi terjadinya politisasi keshalehan kandidat cukup besar. Apalagi kandidat yang memiliki keahlian ceramah,” kata Firdaus Muhammad, Minggu 14 Juni. Dengan begitu, kekhawatiran tersebut harusnya di antisipasi penyelenggara pilkada.
Apalagi, bila kandidat sudah masuk dalam ranah masjid melakukan kampanye yang dikemas dalam bentuk khotbah. Kandidat yang melakukan itu disebutnya telah curi start, dan perlu pengawasan serius.
“Selain itu, potensi terjadinya money politics berkedok sedekah diprediksi marak,” ungkapnya. Untuk menghindari hal itu, masyarakat diminta cermat melihat kandiat yang memanfaatkan momen ramadan.
Lain halnya dengan Pengamat Politik Unhas Andi Haris. Menurutnya, para kandidat sebaiknya tidak perlu mempolitisasi bulan ramadan untuk kepentingan pilkada.
Pasalnya, dampak yang ditimbulkan bisa sangat negatif ke masyarakat umum.
“Kalau para kandidat sadar bahwa hal ini tidak baik dilakukan. Maka tidak perlu dilakukan. Masyarakat luas akan menyimpulkan berbeda-beda yang berimbas negatif bagi calon,” ungkapnya. (taq)

Click to comment
To Top