Subhan Setor ke BKN Rp. 2,2 Miliar – FAJAR.co.id

FAJAR.co.id

Hukum

Subhan Setor ke BKN Rp. 2,2 Miliar

KENDARI – Penyidik Ditreskrim Polda Sultra Sultra saat ini sedang mendalami kasus dugaan penipuan yang menyeret nama mantan Wakil Bupati Bombana, Subhan Tambera. Sebanyak 50 honorer kategori satu (K1) Kabupaten Konawe Utara melapor ke Polda Sultra. Subhan Tambera diduga telah menerima sejumlah uang dari para honorer K1 tersebut senilai Rp 2,2 miliar.

Kabid Humas Polda Sultra, AKBP Sunarto mengungkapkan, perkara tersebut terjadi tahun 2013 lalu. Subhan Tambera ketika itu telah selesai masa baktinya sebagai Wakil Bupati Bombana. Namun, Subhan masih mendapat kepercayaan dari honorer K1 untuk mengurus kelulusannya menjadi CPNS di BKN. Subhan pun gagal memediasi mereka dan iming-iming menjadi PNS tak kunjung datang.

“Penyidik sementara mendalami dugaan penipuan penggelapan yang dilakukan oleh Subhan. Uang yang dilaporkan berjumlah Rp 2,2 miliar dikumpul dari 50 orang CPNS pada tahun 2013 lalu.  Uang itu diberikan kepada oknum BKN namun ternyata orang itu juga tidak bisa meloloskan 50 CPNS ini. Makanya pada tahun 2014, kemarin, dia (Subhan) dilaporkan,” ungkap AKBP Sunarto.

Polisi, kata dia, telah melakukan pemeriksaan baik terlapor maupun pelapor. Untuk penetapan tersangka, kata Narto, belum dilakukan karena harus memeriksa satu saksi yang juga calon tersangka yang bekerja di BKN. “Masih perlu keterangan oknum pegawai BKN. Nanti setelah kami dapatkan keterangannya, kemungkinan bisa dinaikan statusnya dari saksi menjadi tersangka,” ujarnya.

Sementara itu, Subhan Tambera yang dihubungi melalui telepon selulernya, membantah telah melakukan penipuan penggelapan. Katanya, ia hanya membantu para honorer itu yang meminta tolong padanya. Subhan mengklaim sebagai korban penipuan oleh oknum pegawai BKN.

“Saya juga tidak tahu bagaimana. Saya serahkan sepenuhnya saja ke pihak kepolisian. Saya juga diminta tolong sama mereka (honorer), karena kebetulan keluarga juga,” ungkapnya.

Subhan juga membantah telah menikmati keseluruhan uang senilai Rp 2,2 miliar itu. Ia mengklaim tidak pernah menikmati uang itu sepeserpun. Tindakannya sebagai calo pada saat itu, adalah upaya untuk membantu keluarganya yang meminta tolong. “Tidak pernah kasian saya terima itu uang. Saya tidak nikmati itu uang. Seluruhnya saya berikan sama itu pegawai BKN. Namanya orang minta tolong masa saya tidak bantu,” terangnya. (egy/b/KP)

To Top