Ternyata Harga Premium Saat ini Permainan Mafia Migas – FAJAR.co.id

FAJAR.co.id

Ragam

Ternyata Harga Premium Saat ini Permainan Mafia Migas

JAKARTA- Mafia sektor minyak bumi dan gas alam (migas) masih mencari keuntungan di sektor ini sampai sekarang. Pemerintah yang seharusnya memberikan perlindungan bagi pemanfaatan sumber daya alam Indonesia seolah tak berdaya melakukan pemberantasan.

Ekonom Universitas Indonesia (UI) Faisal Basri mengungkapkan, praktik mafia migas meraup keuntungan dari akal-akalan dasar perhitungan produksi bahan bakar minyak.

“Harga BBM Premium (ron 88) kita dekat sekali dengan ron 92, di situ mafianya,” jelasnya dalam diskusi bertajuk ‘Mekanisme Harga Baru dan Pengaruhnya Terhadap Masyarakat’ yang digelar The Habibie Center di Jalan Kemang Selatan, Jakarta, Senin (15/6).

Padahal, Premium ron 88 merupakan BBM hasil oplosan yang hanya bisa dibuat di Singapura dengan ongkos oplos 0,5 USD per liter. Namun, dengan menggunakan rumus hitung ron 92 memberi keuntungan bagi mafia migas.

Setelah diproduksi dengan biaya 0,9842 (87% x mops 92) + (13% x mops nafta) + 0,5 USD x 36%, ron 88 kemudian diimpor oleh pemerintah Indonesia untuk dijual kembali kepada konsumen.

“0,5 dolar ongkos blending. Tidak ada kilang yang menghasilkan hasil campuran sehingga dioplos di Singapura, supaya mafia dapat bermain,” beber Faisal.

Karena itu, dia berharap pemerintah dapat turun tangan langsung mengatasi praktik mafia migas yang selama ini bercokol.

Faisal bersama Tim Reformasi Tata Kelola Migas yang pernah diketuainya telah memberi rekomendasi kepada kementerian terkait soal praktik mafia migas.

“Kita kasih ke menterinya, kita tidak tahu apakah diteruskan kepada Presiden atau tidak,” ujarnya.

Ditambahkan Faisal, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) sendiri juga pernah menelisik dugaan penyelewengan dalam pengelolaan sektor migas Indonesia.

“Kita akan berikan informasi kepada siapapun, untuk mempermudah pengungkapan (mafia) itu,” katanya menjawab perlu tidaknya mafia migas ditangani aparat hukum.[dem]

loading...
Click to comment
To Top