Hendi Naik Kereta Kencana, Warga Berebut Kue Ganjel Rel – FAJAR.co.id

FAJAR.co.id

exciting-banten
Ragam

Hendi Naik Kereta Kencana, Warga Berebut Kue Ganjel Rel

SEMARANG – Dentuman meriam dan pemukulan beduk menjadi puncak acara prosesi tradisi kirab budaya Dugderan di Kota Semarang. Dugderan merupakan tradisi tahunan untuk menyambut datangnya bulan Ramadhan.

Tradisi tahunan tersebut diawali dari halaman Balaikota Semarang, dengan pertunjukan seni dan atraksi Tari Warag Ngendok. Prosesi dilanjutkan dengan upacara pembukaan tradisi Dugderan dan pemukulan bedug oleh Kanjeng Bupati Raden Mas Tumenggung Aryo Purbaningrat, yang diperankan oleh Walikota Semarang Hendrar Prihadi.
Tampak para peserta karnaval Dugderan itu, perwakilan dari kecamatan-kecamatan di Kota Semarang, antara lain Kecamatan Semarang Tengah, Semarang Barat, Pedurungan, Genuk dan Banyumanik.
Pelajar yang mewakili sekolah juga terlihat, seperti Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Muhammadiyah 1 Semarang yang mengenakan pakaian Paskibra.
Arak-arakan semakin meriah dengan hadirnya maskot dugder, yakni Warak Ngendog yang merupakan binatang imajiner perpaduan kambing dan naga ditampilkan dalam bentuk replika oleh masing-masing peserta Dugderan.
Selain itu, kembang manggar yang dibuat dari lidi berbalut kertas minyak berwarna-warni yang menjadi ikon khas Dugderan, serta kesenian liong dan barongsai yang atraktif.
Di sejumlah jalan protokol, terlihat ribuan masyarakat yang menyaksikan gelar budaya tersebut. Kemeriahan karnaval mengundang antusiasme warga, yang memadati sepanjang perjalanan yang dilewati peserta karnaval.
Walikota Semarang Hendrar Prihadi mengatakan, karnaval Dugderan merupakan tradisi yang menjadi agenda rutin Pemerintah Kota Semarang sebagai pertanda segera datangnya bulan Ramadhan.
“Sebagai tradisi budaya khas Semarang, Dugderan mengandung makna ungkapan suka cita khususnya kaum muslim akan datangnya bulan suci Ramadhan. Namun, kami tetap menunggu pemberitahuan pemerintah tentang awal puasa,” ungkap Hendi, sapaan akrab Hendrar Prihadi seusai pembukaan tradisi Dugderan, Selasa (16/6).
Namun yang lebih penting, kata Hendi, even Dugderan mengandung makna kebersamaan yang dilambari semangat mengangkat kearifan budaya lokal yang digambarkan dengan ikon warak ngendog.
Ikon ini, lanjut Hendi, menyiratkan adanya kebersamaan, kerukunan dan guyubnya masyarakat Kota Semarang tanpa melihat etnis atau latar belakang budaya maupun agama.
“Intinya karnaval ini bukan hanya sekadar arak-arakan saja, namun menjadi salah satu cerminan keberagaman yang ada di Kota Semarang yang rukun dan guyub. Selain itu, ini merupakan bagian daripada tradisi turun-temurun yang harus dilestarikan,” katanya.
Pada kesempatan itu, Hendi beserta istri, Krisseptiana Hendrar Prihadi menaiki kereta kencana yang dikawal oleh pasukan pandanaran dan diikuti pasukan berkuda serta belasan bendi hias yang dinaiki para pejabat, di antaranya Ketua DPRD Kota Semarang Supriyadi, dan jajaran satuan kerja perangkat daerah (SKPD) melakukan pawai menuju Masjid Kauman Semarang untuk pembacaan shuhuf ulama sebagai simbol penentuan awal puasa.
Di Masjid Besar Semarang Kauman, dilaksanakan prosesi pembacaan skukuf halaqah, diikuti pemukulan bedug dan dan bunyi dentuman meriam serta pembagian makanan khas Semarang Kue Ganjel Rel dan air khataman Qur’an. Secara simbolis, Walikota juga memberikan makanan khas kue ganjel rel kepada Lurah Kauman.
Salah satu warga, Subianto mengatakan, rela berebut dan berdesak-desakan untuk memperoleh air dan kue ganjel rel karena dipercaya jika kedua hal itu diperoleh akan mendapatkan berkah dan rejeki. Sehingga setiap tahun dia selalu ikut tradisi dugder ini dan mencari air dan kue ganjel rel. “Tiap tahun saya ikut tradisi dugder ini karena ingin merasakan suasana menjelang puasa,” katanya.
Usai prosesi di masjid Kauman, rombongan melanjutkan perjalanan menuju Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT) dengan menaiki bus. Walikota Semarang akan menyerahkan shuhuf halaqah atau keputusan ulama kepada Raden Mas Tumenggung Probohadikusumo yang diperankan Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo. (Art)

loading...
Click to comment
To Top