Walah.. Pura-Pura Jadi Profesor Jepang, Ternyata Tipu LSM dengan Modus Penggalangan Dana – FAJAR.co.id

FAJAR.co.id

Ragam

Walah.. Pura-Pura Jadi Profesor Jepang, Ternyata Tipu LSM dengan Modus Penggalangan Dana

UNGARAN – Kasihan benar nasib para sejumlah penggiat sosial Jakarta ini. Niat baik ingin menyumbang uang, mereka malah tertipu oleh Iwan Kusuma alis Wisnu yang mengaku sebagai seorang profesor dari salah satu Universitas di Jepang.

Akibatnya,uang puluhan juta pun ludes dibawa kabur oleh profesor gadungan itu. Merekapun melaporkan kejadian tersebut ke Mapolres Semarang,

Modusnya ialah profesor gadungan itu membuat kegiatan sosial fiktif dan menarik donatur ke sejumlah pihak dengan mengatasnamakan panti asuhan Madinatul Laili di Kabupaten Batang yang ternyata hanya fiktif.

“Untuk meyakinkan kami dan para donatur, Iwan kusuma mengaku sebagai profesor universitas di Jepang dan doktor dari IPB. Lalu dia percaya menjadi ketua LSM. Banyak bantuan masuk tapi tidak jelas kemana uangnya. Sehingga kami curiga dan melakukan investigasi,” kata Wahyudi, 40, saat di temui di Mapolres Semarang.

Wahyudi dan bersama teman anggota LSM melakukan penelusuran ke tempat-tempat dimana Wisnu memberitahukan modus tersebut, seperti di panti asuhan Madinatul Laili, di Batang, Jawa Tengah.

Mereka juga mengecek ke BNN sebagaimana kata profesor gadungan juga ada program-program yang disebut kerja sama dengan BNN. Setelah di cek ternyata BNN tidak ada mengadakan acara tersebut.

“Dia mencari donatur dengan modus menawarkan program sosial dan bantuan langsung untuk yayasan sosial seperti panti asuhan. Dia beroperasi di berbagai kota seperti di Jawa dan Sumatera. Saat ini dari hasil penelusuran kami total ada sejitar Rp 21 juta dana yang tidak disalurkanbahkan mungkin lebih,” ungkapnya.

Direktur Kesehatan LSM Nasa Jakarta, Lili Indria, 39, warga Jakarta Selatan menjelaskan, sudah banyak bantuan yang masuk, namun diduga tidak disalurkan. Lalu pada saat di mintai pertanggung jawaban pelaku malah kabur.

“Saya bergabung baru tiga bulan,jadi tidak tahu sebelumnya seperti apa. Kalau saya pribadi kerugiannya sekitar Rp 4 juta,”katanya. (mg4/jpnn)

To Top