Jika Bersenggama di Malam Hari, Mandi Sebelum Fajar atau Ketika Fajar? – FAJAR.co.id

FAJAR.co.id

exciting-banten
Ragam

Jika Bersenggama di Malam Hari, Mandi Sebelum Fajar atau Ketika Fajar?

Alhamdulillahirabbil’alamin. Jika seseorang junub’ dikarenakan hubungan suami istri atau lainnya, jawabannya dimulai pada hadits berikut ini:

Imam Muslim Rahimahullah meriwayatkan, bahwa Abdullah bin Abdurrahman-Ibnu Ma’mar bin Hazm Al-Anshari Abu Thuwalah-telah mengabarkan kepadaku, bahwa Abu Yunus pelayan Aisyah telah mengabarkan kepadanya dari Aisyah Radhiyallahu’anha, bahwasanya ada seorang laki-laki yang mendatangi NabiShallahu’alaihiwassalam meminta fatwa, sementara itu Aisyah mendengar dari belakang pintu. Orang itu bertanya, ‘Wahai Rasulullah, aku mendapatkan waktu shalat sementara aku dalam kondisi junub, apakah aku boleh berpuasa?’ Maka Rasulullah Shallahu’alaihiwassalam menjawab, “Aku pernah mendapatkan waktu shalat dalam kondisi junub dan aku tetap berpuasa…..”

Imam Muslim Rahimahullah, meriwayatkan dari Urwah bin Az-Zubair dan Abu Bakar bin Abdurrahman, bahwa AisyahIstri Nabi Shallahu’alaihiwassalam berkata,“Sungguh Rasulullah Shallahu’alaihiwassalam pernah mendapatkan waktu fajar pada bulan Ramadhan dalam kondisi junub yang bukan disebabkan mimpi basah, dan beliau pun mandi lalu berpuasa.” (HR. Muslim, No. 2585).

Hadits ini menunjukkan bahwa Rasulullah saw mendapati fajar dalam keadaan junub sedang beliau tetap melanjutkan puasa. Beliau mandi, kemudian shalat subuh, dan tidak membatalkan puasanya.

Imam An-Nawawi mengatakan, hadits yang diriwayatkan merupakan petunjuk untuk melakukan yang lebih utama, yaitu mandi sebelum terbit fajar. Namun seandainya tidak melakukannya maka tidak apa-apa. Ini adalah mazhab para sahabat kami dan penjelasan mereka tentang hadits tersebut. Apabila ada yang mengatakan, “Bagaimana mungkin mandi sebelum terbit fajar dikatakan lebih utama padahal ada dalil keterangan bahwa Nabi Shallahu’alaihiwassalam tidak melakukannya?” Jawabannya adalah, bahwa Nabi Shallahu’alaihiwassalammelakukan demikian untuk menjelaskan bahwa perbuata tersebut boleh dilakukan, dan perbuatan Nabi Shallahu’alaihiwassalam ini merupakan hal yang lebih utama baginya; karena bermaksud untuk menerangkan kepada manusia karena beliau Shallahu’alaihiwassalam diperintahkan untuk hal itu. Hal ini sama dengan perbuatan beliau ketika berwudhu dengan membasuh setiap anggota wudhu satu kali saja dalam beberapa kesempatan untuk menerangkan bahwa hal itu diperbolehkan, dan sudah diketahui bersama bahwa membasuh sebanyak tiga kali adalah adalah yang lebih utama, sebab itulah lebih banyak beliau lakukan dan disebutkan secara jelas dalam banyak hadits.[1]

Beliau Shallahu’alaihiwassalam juga pernah thawaf di atas untanya, ini juga untuk menerangkan bahwa perbuatan itu boleh dilakukan, dan sudah kita ketahui bersama bahwa thawaf dengan berjalan kaki itu lebih utama, sebab beliauShallahu’alaihiwassalam sering melakukannya demikian. Hal-hal semacam ini banyak sekali dijumpai dalam praktek ibadah yang dicontohkan NabiShallahu’alaihiwassalam.[2] Demikianlah, segala puji dan keagungan hanya milik Allah. (*)

 

[1] Syarah Sahih Muslim, Imam An-Nawawi, Pembahasan Puasa. Jilid 5, Hal 593.

[2] Syarah Sahih Muslim, Imam An-Nawawi, Pembahasan Puasa. Jilid 5, Hal 594.

loading...
Click to comment
To Top