Kasus Pemerkosaan Penumpang, Karena Kelalaian Dishub – FAJAR.co.id

FAJAR.co.id

Ragam

Kasus Pemerkosaan Penumpang, Karena Kelalaian Dishub

JAKARTA- Kasus pemerkosaan penumpang mendapat sorotan dari berbagai pihak. Salah satunya adalah dari Wakil Ketua DPRD DKI Triwisaksana.

Anggota politisi Kebon Sirih ini ‎mengatakan, harus ada pengawasan ketat dari Dinas Perhubungan DKI untuk mencegah terulangnya kasus sopir angkot yang memperkosa penumpang.

“Dalam peristiwa yang terakhir masih saja terjadi menggunakan sopir tembak. Karena itu membuktikan ada tindakan indisipliner juga dari Dinas Perhubungan yang lalai terhadap pengawasan dari angkot yang beroperasi,” ucap Triwisaksana di Gedung DPRD DKI, Jakarta, Senin (22/6).

‎Triwisaksana mengatakan, penghapusan trayek armada angkot sopir yang melakukan pemerkosaan tidak perlu dilakukan. Namun, pemerintah harus menjamin keselamatan warga ketika naik angkutan umum yang sudah mendapatkan izin.

Selain itu, sambung Triwisaksana, harus ada ketentuan jam operasional bagi angkot. “Enggak bisa sampai malam hari, apalagi pakai sopir tembak. ‎Angkot bukan operasional sampai malam sebenarnya. Kalau enggak salah sampai jam 21:00 WIB atau 22:00 WIB,” ujar pria yang akrab disapa Sani itu.

Sementara itu, Wakil Ketua Komisi B DPRD DKI Verry Yonevil tak sepakat dengan penghapusan trayek angkot sopir pelaku pemerkosaan. “Karena itu ulah oknum kan,” kata Verry.

Menurut Verry, penambahan jumlah bus Transjakarta sehingga bisa beroperasi selama 24 jam bisa mengatasi persoalan itu. Politikus Partai Hanura itu juga meminta agar pelaku pemerkosaan diberikan hukuman yang seberat-beratnya. (gil/jpnn)

RMOL. Berbagai kecaman dan masukan datang Pasca terjadi pemerkosaan oleh supir angkot terhadap salah Penggiat @naikumum Andreas Lucky Lukwira menyesalkan terjadinya kasus perkosaan di dalam angkutan umum. ‎Dia meminta kepolisian untuk menindak tegas pelaku.

Selain itu, dia meminta ‎Dinas Perhubungan (Dishub) mencabut trayek armada itu. “Hal ini sebagai pelajaran kepada juragan-juragan (pemilik) angkot dalam memilih atau mempekerjakan sopir,” ucap Andreas dalam pesan singkat, Minggu (21/6).

‎Dia menjelaskan, pemilik angkot harus memiliki sopir yang memiliki surat izin mengemudi dan bertanggungjawab kepada armada serta penumpang. “Terungkap bahwa pelaku adalah sopir tembak, menunjukan sopir yang dipilih pemilik angkot tidak memiliki tanggungjawab terhadap armada,” ujar Andreas.

Selain itu, Dishub harus memperbanyak angkutan malam hari, tidak hanya di Transjakarta. Karena, jalur terjadinya perkosaan adalah rute yang tidak dilintasi Transjakarta. “Dishub harus mengadakan Amari dalam bentuk angkutan konvensional yang tetap dalam pengawasan Dishub,” kata Andreas.

‎Dia menyatakan, harus ada angkutan umum 24 jam yang terjamin keamanannya di Jakarta. “Kondisi Jakarta sebagai kota 24 jam harus turut pula didukung oleh angkutan umum 24 jam yang terjamin keamanannya,” tandas Andreas. [jpn/zul]

loading...
Click to comment
To Top