Wismilak Ajak Pekerja Keluar Zona Nyaman – FAJAR.co.id

FAJAR.co.id

Ekonomi & Bisnis

Wismilak Ajak Pekerja Keluar Zona Nyaman

FAJARONLINE, JAKARTA– Wismilak Foundation dan Wismilak Diplomat menantang para pekerja untuk keluar dari zona nyaman dan pindah kuadran wiraswasta. Karena itu, Diplomat Success Challenge (DSC) memberikan hibah permodalan senilai total Rp2 milyar untuk mengatasi hambatan klasik yang biasa dihadapi calon wirausaha.

“Kalau mau sukses harus berani mengambil sikap dengan keliar dari zona nyaman lalu memilih masuk pada wiayah tantangan yakni dengan menjadi pengusaha. DSC menyiapkan dana untuk mengatasi hambatan keterbatasan permodalan,” kata Manajemen Wismilak Inti Makmur Tbk yang juga berperan sebagai Ketua Dewan Komisioner DSC, Surjanto Yasaputera, di Jakarta, Selasa, 23 Juni.

Sebagaimana diketahui, Robert T. Kiyosaki memperkenalkan 4 kuadran untuk mengelompokkan cara orang mendapatkan penghasilan. Empat kuadran tersebut secara gambling memperlihatkan derajat relasi timbal balik antara orang dan uang. Susunannya berurutan yakni mulai dari yang paling tidak nyaman, yakni saat orang harus bekerja untuk mendapatkan uang, sampai kuadran yang mendekati kesempurnaan hidup yakni saat dikatakan “uanglah yang bekerja” untuk kita.

Kuadran pertama ditempati pekerja yang mendapat upah, berikutnya ditempati self-employed yakni para pekerja lepas, umumnya para professional semisal arsitek atau lawyer (ahli hukum). Kuadran ke 3 adalah tempat bagi para business owner, mereka yang mempekerjakan orang lain dan membayar upah. Kuadran ke 4 adalah tempat paling nyaman, yakni diisi para investor. Di kuadran ini orang melakukan investasi, saat uang bekerja untuk mereka. Pada kuadran terakhir, orang dikatakan mempunyai kebebasan finansial dan bisa memanfaatkan waktunya sesuai yang diinginkan.

Perpindahan kuadran bukanlah sekuel evolusi yang berlaku otomatis dan mulus. Bagi kebanyakan orang yang sudah terlalu lama bekerja sebagai karyawan dan berjuang meniti karir, motivasinya kemudian mandeg ketika sudah merasa aman dengan posisi serta gaji rutin yang diterimanya. Saat sudah berada dalam zona nyaman demikian, umumnya orang terhenti dan tidak berani mengambil tantangan berikutnya untuk menjadi wirausaha.

Dalam situasi demikian, sesungguhnya banyak juga orang yang ingin bermetamorfosa menjadi wirausaha. Sebab ketika sampai di puncak karir banyak orang merasa tantangan hidupnya hilang dan hanya merasakan pekerjaan sebagai beban dan rutinitas. Pada saat itu orang berfikir untuk menjadi wirausaha dan menikmati sisi kebebasan, terutama agar bisa melakukan hal yang disukai. [NEXT-FAJAR]

“Namun bagi orang yang sudah lama berkarir dalam suatu perusahaan, menjadi wirausaha adalah lompatan besar, sebab memasuki wilayah tidak menentu yang penuh resiko. Ketika dihadapkan pada pilihan menjadi business owner atau wiraswasta, alasan paling umum yang menjadi penghambat adalah tidak adanya modal yang mencukupi,” Sebut pria yang akrab disapa Pak Sur ini.

Dengan demikian, jika Anda baru mempunyai ide untuk berwirausaha, kompetisi yang digelar Wismilak Diplomat ini akan membantu merumuskannya menjadi wujud usaha yang lebih. Sebab peserta akan diminta mempresentasikan idenya dan serangkaian ujian dari tim juri akan merangsang peserta untuk melihat segala kemungkinan yang bakal terjadi.

Bagi para pemenang, yang tahun ini jumlahnya ditingkatkan menjadi 13, bimbingan usaha masih terus berlanjut. “Mereka, maksud saya tim Wismilak DSC tidak akan melepaskan begitu saja, buktinya bisnis saya terus dikawal dalam bentuk berbagai konsultasi manajemen,” ujar Ryan Ade Pratama yang tahun lalu masuk dalam 4 besar finalis DSC 2014. Tim Wismilak berjanji untuk mengawal jalannya pelaksanaan suatu ide bisnis maksimal selama 2 tahun, tambah anak muda yang muncul dengan ide bisnis memproduksi alat music Cajon.

Saat ini Tim Wismilak DSC tengah giat melakukan road show, berkeliling ke beberapa kota menyebarkan informasi untuk meraih peluang menjadi wirausaha melalui kompetisi DSC – Diplomat Success Challenge. Sampai hari ini sudah 3 kota yang dikunjungi, yakni Yogyakarta, Semarang dan Solo. Di Yogya, tim Wismilak berkunjung ke UGM, UPN Yogyakarta serta Universitas Ahmad Dahlan. Di Semarang, mereka berkunjung ke UNDIP, lalu melakukan talkshow di Car Free Day – Simpang Lima serta di Balaikota. Sedangkan di Solo, kampus yang dikunjungi antara lain UNS serta Universitas Muhammadiyah Solo selain juga di Car Free Day – Slamet Riyadi.

Sampai saat ini downloader untuk mendapatkan program ini sudah mencapai 7.000 orang, sedangkan proposal yang diunggah sudah melebihi 1.600. “Di tahun ke 6 ini peminat meningkat drastis, sehingga kami yakin target kami yang semula 2.000 proposal masuk akan terlampaui. Mari mengambil kesempatan menjadi bagian pembangunan Indonesia melalui peningkatan wirausaha ini,” kata Pak Sur menutup perbincangan. (arm)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top