Puasa Lebih dari 20 Jam, Boleh Ikuti Mekah – FAJAR.co.id

FAJAR.co.id

exciting-banten
Ragam

Puasa Lebih dari 20 Jam, Boleh Ikuti Mekah

FAJARONLINE, MAKASSAR — Umat Islam tersebar di berbagai belahan dunia. Namun pada beberapa negara, umat Islam menjalani ibadah puasa lebih berat karena durasi yang lebih panjang.

Tahun ini, penduduk muslim Islandia memiliki waktu puasa paling lama hingga 22 jam. Sedangkan Chili menjadi negara paling singkat menjalani puasa, yakni 9 jam dan 43 menit. Beberapa negara memang memiliki waktu siang atau malam lebih lama.

Mengenai negara yang memiliki waktu siang hingga 18 jam, Dr Rahmat Abdul Rahmat Lc MA menjelaskan, ada perbedaan pendapat dari kalangan ulama.

“Ada yang berpendapat mereka tetap mengikuti negaranya. Jadi apabila di negara itu waktu siangnya 20 jam atau lebih maka mereka puasanya selama itu,” ujar Dosen Ilmu Politik dan Hukum Islam STIBA Makassar ini.

Adanya juga ulama yang berpendapat, lanjut Rahmat, bahwa mereka puasa dengan menggunakan waktu Mekah. Misalnya, waktu berpuasa di Mekah adalah 14 jam dan 54 menit, maka umat muslim di Islandia boleh mengikuti waktu itu.

“Pendapat ini didasari bahwa Mekah adalah awal dari agama Islam. Ada juga pendapat lainnya. Mereka bisa berpuasa dengan mengikuti negara yang terdekat dari negara tersebut,” papar Rahmat.

Lebih lanjut Rahmat mengatakan, tentang perbedaan waktu menjalani puasa setiap negara, didasari tidak adanya hadis atau ayat yang menjelaskan secara terperinci. “Intinya, agama Islam memiliki prinsip kemudahan. Meskipun tidak boleh memudah-mudahkan. Islam juga tidak untuk membawa kemudharatan. Jadi apabila puasa sampai membawa kemudharatan, tentunya bukan ini yang diinginkan syariat,” jelas dia.

Ustaz Ikhwan Abdul Jalil Lc mengatakan, umat Islam tetap dapat berpuasa berdasarkan kondisi siang di negaranya. “Apabila waktu puasa itu masih dalam kemampuan manusia untuk menahan, maka tetap menggunakan waktu negaranya,” terang Ikhwan.

Menuru AGH Muhammad Ahmad, puasa bagi mereka yang durasi siangnya lama, tetap sama seperti di Indonesia. Mereka tetap menahan dari terbitnya fajar hingga terbenamnya matahari.

Sedangkan di negara yang tidak terdapat waktu malam atau siang sebagai waktu puasa, seperti negara-negara kutub, maka mereka bisa memperkirakan waktu mereka sesuai dengan negara yang paling dekat dengan mereka. Selain itu, mereka juga harus memiliki perkiraan waktu untuk beberapa aktivitas kehidupan mereka sehari-hari. Artinya, apa yang mereka lakukan menyangkut urusan dunia, maka mereka juga harus melakukannya pada hal-hal yang menyangkut urusan ibadah mereka. Yang demikian itu lebih mudah bagi mereka.

Dengan demikian, negara yang di dalamnya terdapat waktu malam atau siang sebagai waktu puasa, maka penduduknya harus menjalankannya, baik waktu siang itu panjang maupun pendek, Allah telah menetapkan hukum tersebut dengan terbitnya fajar dan terbenamnya matahari.

“Makan dan minumlah hingga terang bagi kalian benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakan-lah puasa itu sampai malam.” (Al Baqarah 187). Dengan demikian, selama masih ada waktu siang dan malam, maka mereka wajib mengerjakan puasa. (SURIALANG/yuk)

loading...
Click to comment
To Top