Jadi Apa Sepak Bola Indonesia, Terlantarkan Pemain Sakit hingga yang Meninggal – FAJAR.co.id

FAJAR.co.id

Bola

Jadi Apa Sepak Bola Indonesia, Terlantarkan Pemain Sakit hingga yang Meninggal

DUNIA sepak bola Indonesia sejatinya bukan kali pertama dihadapkan dengan jaminan kesehatan dan asuransi yang diabaikan. Alfin Tuasalamony adalah contoh terkini pengabaian standar kontrak pemain profesional.

Sebelum Alfin, sudah banyak contoh kasus pemain diabaikan. Yang fenomenal, adalah Diego Mendieta, yang tak memiliki asuransi kesehatan sama sekali, sehingga kesulitan berobat.

Parahnya, dia juga tak dibayarkan gajinya oleh klubnya Persis Solo sehingga tak bisa berobat. Saat itu, PSSI hanya diam dan tak memberi sanksi apapun ke klub yang lalai membayar gaji.

Salomon Begondo, adalah contoh kedua abainya klub di Indonesia terhadap kontrak khususnya asuransi pemain. Salomon sempat ngamen di jalan karena tak dibayar klubnya, Persipro Probolinggo. Tidak memiliki uang untuk berobat, dia ternyata menderita maag akut dan meninggal.

Sikap yang sama ditunjukkan, PSSI dan klubnya, saling lempar tanggung jawab dan tak memberikan solusi. Sama-sama tak mau disalahkan dan mencari pembenaran.

Sebenarnya, persoalan asuransi kesehatan atau jaminan atlet ini memang masalah lama dan belum terselesaikan. Di era Menpora Roy Suryo, ada kasus pemain Pelita Bandung Raya (PBR) asal Mali, Camara Sekou, yang terkena serang jantung saat latihan. Dia juga ternyata tak tercover asuransi.

“Terus terang sebenarnya ini soal lama yang muncul kembali. Ini jadi pintu masuk buat kita semua untuk bisa mulai menyadari sehingga peristiwa Alfin ini tidak terulang kembali,” terang Menpora Imam Nahrawi, Senin (29/6) di kantor Kemenpora, Jakarta.

Wajar jika Menpora geregetan dengan klub dan PSSI. Sebab, masalah pemain tak digaji, pemain mati, kontrak tak dijalankan dengan baik oleh klub, ternyata terus berulang tiap tahunnya. Sebagai regulator sepak bola, PSSI justru melindungi klub, bukan membuat klub jera. (dkk/jpnn)

loading...
Click to comment
To Top