Pasca Reformasi, Panen Perhutani Turun Drastis – FAJAR.co.id

FAJAR.co.id

Ragam

Pasca Reformasi, Panen Perhutani Turun Drastis

SEMARANG, RAJA – Pasca revormasi tahun 1998, wilayah hutan Kawasan Pemangkuan Hutan (KPH) Semarang yang semula sebagai salah satu andalan panenan kayu Perum Perhutani, berubah drastis menjadi kawasan yang memiliki hasil hutan sangat kecil.

Dibanding sebelum tahun 1998 yang mencapai 17 ribu meter kubik perhari, saat ini menurun drastis, bahkan tidak mencapai 3 ribu meter kubik perhari. Pengurangan panenan terjadi hampir merata di beberapa BKPH yang tersebar.

Administratur KPH Semarang Gunawan SP, diruang kerjanya, Kamis (2/7) mengungkapkan, akibat pembalakan liar besar-besaran di tahun 1998 lalu, jumlah tegakan sangat berkurang. Akibatnya, jumlah panenanpun mengalami penurunan sangat tinggi. “Untuk hari ini saja panenan hanya mencapai 2.600 meter kubik,” ungkapnya.

Kurangnya tegakan, belum bisa diminimalisasi dengan cara melakukan pengkayaan dengan melakukan penanaman kembali untuk memperbanyak jumlah tegakan. Pasalnya, beberapa kali dilakukan penanaman selalu gagal karena banyaknya penebangan untuk keperluan pembuatan rencek kayu bakar oleh warga.

“dengan kemampuan penanaman sekitar 1.200 hektar pertahun diperkirakan luasan 9 ribu hektar memerlukan waktu hingga 2022 untuk bisa dikembalikan. Dari 9 ribu hutan yang dibabat, saat ini telah dilakukan penanaman sebanyak 5 ribu hektar, “Penanaman jati saat ini telah dilakukan disekitar Kedungjati,” tambahnya, yang juga usai menggelar kegiatan konsultasi publik di kantor KHP Jalan dr. Cipto Semarang.

Selain melakukan penanaman pohon, penyelamatan konservasi juga dilakukan dengan menjaga situs dan tempat ziarah yang ada di lahan perum Perhutani menjadi salah satu langkah bagi wilayah Pemangkuan Hutan (KPH) Semarang dalam menjaga kelestarian hutan. Dari 9 ribu hektar luasan yang ada, terdapat empat situs yag tersebar.

Situs pertama yakni Gua Maria, di Desa Penadara, Kecamatan Gubug. Yang secara administrasi masuk BKPH Manggar. Situs kedua yakni sebuah candi Jembolo yang ada di Desa Pringapus Timur, Kecamatan Bergas. Situs ke tiga yakni Makam Keramat di Pojok, yang masuk kawasan Desa Mprisi, Kecamatan Tanggungharjo, BKPH Tanggung dan situs makam Syeh Ibrahim, yang secara administrasi masuh BKPH Barang, Kabupaten Demak.

Penjagaan situs dilakukan KPH Semarang, dilakukan oleh warga sekitar sedang penjagaan kawasan hutan dilingkungan situs dilakukan oleh Perum Perhutani. Pendekatan ini dilakukan untuk mengajak warga menjaga lingkungan hutan.

Sementara itu, Joko Sulistiyo, Lurah Penawangan yang ikut dalam kegiatan penyusunan dokumen KBKY kawasan hutan bernilai konservasi tinggi mengungkapkan, kerusakan hutan disekitar disenya sangat parah. “Tanaman apa, termasuk di lingkungan sungai perlu ada kerjasama LMDH atau pesanggem. Untuk pohon yang ada disamping jalan besar jangan ditebang karena bisa menambah keteduhan,” ungkapnya. (Ibr)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top