Bolehkah Mencium Istri Saat Berpuasa? – FAJAR.co.id

FAJAR.co.id

Ragam

Bolehkah Mencium Istri Saat Berpuasa?

Alhamdulillahirabbil’alamim. Shalawat dan salam kepada Nabi Muhammad tercinta, dan keluarganya, juga kepada para sahabat dan umat Islam seluruhnya.

Dari Hisyam bin Urwah, dari ayahnya, dari Aisyah Radhiyallahu Anha, ia berkata: “Rasulullah Shalallahu Alahi Wasallam pernah mencium salah seorang istrinya ketika berpuasa.” lalu ia (Aisyah) tersenyum. (HR. Muslim, No 2568).

Juga diriwayatkan dari Al-Qasim dari Aisyah Radhiyallahu Anha, ia berkata: “Rasulullah Shallallahu Alahi Wasallam pernah menciumku ketika beliau sedang berpuasa, siapakah di antara kalian yang bisa menahan syahwatnya sebagaimana Rasulullah Shallallahu Alahi Wasallam menahan syahwatnya?.” (HR. Muslim No 2570).

Hadits lainnya adalah dari Masruq, dari Aisyah Radhiyallahu Anha, ia mengatakan: Rasulullah Shallallahu Alahi Wasallam pernah mencium ketika sedang berpuasa, dan mencumbui saat sedang berpuasa, akan tetapi beliau orang yang lebih bisa menahan syahwatnya dari pada kalian.” (HR. Muslim No. 2571).

Begitu juga dalil berikut ini, dari Amru bin Maimun, dari Aisyah Radhiyallahu Anha, ia berkata: “Nabi Shallallahu Alahi Wasallam pernah mencium (istrinya) pada bulan Ramadhan saat beliau sedang berpuasa.” (HR. Muslim No. 2579).

Imam Syafi’i dan sahabat-sahabatnya berpendapat bahwa mencium tidak diharamkan bagi orang yang sedang berpuasa dan mampu menahan syahwatnya, akan tetapi yang lebih utama adalah meninggalkannya.

Mereka tidak berpendapat bahwa hal itu tidak makruh, akan tetapi menyelisihi perbuatan yang lebih utama, dengan tetap meyakini bahwa Nabi Shallallahu Alahi Wasallam memang melakukannya. Hal itu karena Nabi Shallallahu Alahi Wasallam memiliki kemampuan untuk menahan syahwatnya sehingga aman dari hal yang akan melampaui batas, sementara orang selain beliau dikhawatirkan akan melampaui batas, sebagaimana ucapan Aisyah, “Beliau adalah orang yang lebih bisa menahan syahwatnya daripada kalian.”

Adapun orang yang tidak menahan syahwatnya, maka hal itu diharamkan baginya menurut pendapat yang lebih kuat dari kalangan sahabat-sahabatnya kami (sahabat Imam An-Nawawi-Mazhab Syafi’i–red). (Lihat Kitab Syarah Sahih Muslim Imam An-Nawawi Jilid 5, Darus Sunnah: Hal. 573-585).

Al-Qadhi mengatakan, “Ada yang mengatakan, Aisyah tersenyum karena heran terhadap orang yang tidak membolehkan perbuatan tersebut. Ada juga yang menafsirkan, bahwa ia tersenyum karena takjub pada dirinya, karena ia meriwayatkan hadits yang biasanya seseorang akan merasa malu ketika menyebutkannya, terutama hadits tentang seorang wanita mengenai dirinya sendiri di hadapan laki-laki. Akan tetapi ia tetap menyebutkan hadits tersebut karena pentingnya menyampaikan hadits dan ilmu agama, sehingga ia merasa takjub karena harus menyampaikan sesuatu yang penting.

Sementara yang lain mengatakan, bahwa ia tersenyum bahagia dengan menyebutkan kedudukannya di sisi Nabi Shallallahu Alahi Wasallam, dan sikap lemah lembut Nabi Shallahu Alahi Wasallam terhadap dirinya. (Lihat Kitab Syarah Sahih Muslim Imam An-Nawawi Jilid 5, Darus Sunnah: Hal. 573-585).

Kesimpulannya bahwa mencium istri saat berpuasa boleh dilakukan. Karena ada dalilnya. Asalkan mampu menahan syahwat. Dan tidak terjadi jima atau senggama. Namun jika tidak mampu menahan syahwat, maka meninggalkannya lebih utama.

Demikian, dan segala puji hanya kepada Allah yang telah mengajarkan manusia baca tulis dengan perantara Pena.

Click to comment
Ragam

Bolehkah Mencium Istri Saat Berpuasa?

Alhamdulillahirabbil’alamim. Shalawat dan salam kepada Nabi Muhammad tercinta, dan keluarganya, juga kepada para sahabat dan umat Islam seluruhnya.

Dari Hisyam bin Urwah, dari ayahnya, dari Aisyah Radhiyallahu Anha, ia berkata: “Rasulullah Shalallahu Alahi Wasallam pernah mencium salah seorang istrinya ketika berpuasa.” lalu ia (Aisyah) tersenyum. (HR. Muslim, No 2568).

Juga diriwayatkan dari Al-Qasim dari Aisyah Radhiyallahu Anha, ia berkata: “Rasulullah Shallallahu Alahi Wasallam pernah menciumku ketika beliau sedang berpuasa, siapakah di antara kalian yang bisa menahan syahwatnya sebagaimana Rasulullah Shallallahu Alahi Wasallam menahan syahwatnya?.” (HR. Muslim No 2570).

Hadits lainnya adalah dari Masruq, dari Aisyah Radhiyallahu Anha, ia mengatakan: Rasulullah Shallallahu Alahi Wasallam pernah mencium ketika sedang berpuasa, dan mencumbui saat sedang berpuasa, akan tetapi beliau orang yang lebih bisa menahan syahwatnya dari pada kalian.” (HR. Muslim No. 2571).

Begitu juga dalil berikut ini, dari Amru bin Maimun, dari Aisyah Radhiyallahu Anha, ia berkata: “Nabi Shallallahu Alahi Wasallam pernah mencium (istrinya) pada bulan Ramadhan saat beliau sedang berpuasa.” (HR. Muslim No. 2579).

Imam Syafi’i dan sahabat-sahabatnya berpendapat bahwa mencium tidak diharamkan bagi orang yang sedang berpuasa dan mampu menahan syahwatnya, akan tetapi yang lebih utama adalah meninggalkannya.

Mereka tidak berpendapat bahwa hal itu tidak makruh, akan tetapi menyelisihi perbuatan yang lebih utama, dengan tetap meyakini bahwa Nabi Shallallahu Alahi Wasallam memang melakukannya. Hal itu karena Nabi Shallallahu Alahi Wasallam memiliki kemampuan untuk menahan syahwatnya sehingga aman dari hal yang akan melampaui batas, sementara orang selain beliau dikhawatirkan akan melampaui batas, sebagaimana ucapan Aisyah, “Beliau adalah orang yang lebih bisa menahan syahwatnya daripada kalian.”

Adapun orang yang tidak menahan syahwatnya, maka hal itu diharamkan baginya menurut pendapat yang lebih kuat dari kalangan sahabat-sahabatnya kami (sahabat Imam An-Nawawi-Mazhab Syafi’i–red). (Lihat Kitab Syarah Sahih Muslim Imam An-Nawawi Jilid 5, Darus Sunnah: Hal. 573-585).

Al-Qadhi mengatakan, “Ada yang mengatakan, Aisyah tersenyum karena heran terhadap orang yang tidak membolehkan perbuatan tersebut. Ada juga yang menafsirkan, bahwa ia tersenyum karena takjub pada dirinya, karena ia meriwayatkan hadits yang biasanya seseorang akan merasa malu ketika menyebutkannya, terutama hadits tentang seorang wanita mengenai dirinya sendiri di hadapan laki-laki. Akan tetapi ia tetap menyebutkan hadits tersebut karena pentingnya menyampaikan hadits dan ilmu agama, sehingga ia merasa takjub karena harus menyampaikan sesuatu yang penting.

Sementara yang lain mengatakan, bahwa ia tersenyum bahagia dengan menyebutkan kedudukannya di sisi Nabi Shallallahu Alahi Wasallam, dan sikap lemah lembut Nabi Shallahu Alahi Wasallam terhadap dirinya. (Lihat Kitab Syarah Sahih Muslim Imam An-Nawawi Jilid 5, Darus Sunnah: Hal. 573-585).

Kesimpulannya bahwa mencium istri saat berpuasa boleh dilakukan. Karena ada dalilnya. Asalkan mampu menahan syahwat. Dan tidak terjadi jima atau senggama. Namun jika tidak mampu menahan syahwat, maka meninggalkannya lebih utama.

Demikian, dan segala puji hanya kepada Allah yang telah mengajarkan manusia baca tulis dengan perantara Pena.

Click to comment
To Top