Siapa Pelaku Penyerangan Anggota Polisi? Kapolri : Sedang Diselidiki – FAJAR.co.id

FAJAR.co.id

exciting-banten
Ragam

Siapa Pelaku Penyerangan Anggota Polisi? Kapolri : Sedang Diselidiki

JAKARTA – Momen HUT ke-69 Bhayangkara, Rabu (1/7) kali ini menjadi momen yang bakal tidak dilupakan bagi aparat kepolisian, khususnya Polda Sulselbar. Betapa tidak, dalam momen bahagia itu, terjadi aksi penyerangan yang menyebabkan satu polisi gugur dan dua mengalami luka.

Sampai saat ini polisi pun belum berhasil mengungkap siapa pelaku penyerangan yang terjadi pada tiga tempat di Sulsel dan Gorontalo itu. “Itu sedang diselidiki,” tegas Kapolri Jenderal Badrodin Haiti, kemarin (3/7).

Aksi penyerangan pertama terjadi pada 1 Juli 2015 tengah malam. Empat kamar kos anggota Polda Gorontalo dilempari bom molotov oleh orang tak dikenal. Beruntung keempat anggota polisi itu selamat dari serangan. Tapi kamar kosnya hangus terbakar.

Penyerangan kedua terjadi di rumah pribadi Komandan Satuan Brimob Polda Gorontalo, di Kecamatan Sipatana, Kota Gorontalo. Rumah itu dilempari bom molotov oleh orang tak dikenal pada Rabu dinihari pukul 02.30 Wita. Akibatnya, kaca jendela bagian depan pecah dan api membakar gorden rumah namun berhasil dipadamkan.

Penyerangan ketiga dialami lima anggota Shabara Polres Gowa, Sulselbar, yang diserang sekelompok orang tak dikenal saat bertugas di pos penjagaan. Dalam serangan itu Briptu Irfanudin tewas dan dua rekannya luka parah di RS Bhayangkara Makassar. Diduga penyerangan ini terkait dengan aksi balapan liar.

Haiti mengaku belum tahu siapa pelaku penyerangan yang mengakibatkan anggotanya di Goa gugur. “Belum, sedang diselidiki. Saya belum dapat laporannya kalau itu,” kata Haiti.

[NEXT-FAJAR]

Begitu juga dengan aksi pelemparan bom molotov di Gorontalo, masih diselidiki. “Belum ada perkembangannya kalau yang di Gorontalo,” katanya. Haiti enggan berspekulasi siapa pelaku penyerangan tersebut.

Ketua Presidium Indonesia Police Watch Neta S Pane menegaskan, sudah saatnya jajaran kepolisian meningkatkan kepedulian, kepekaan, deteksi dini serta antisipasi agar tidak terus menerus menjadi bulan-bulanan kelompok radikal.

Mabes Polri perlu membuat peta daerah rawan bagi anggotanya, sehingga polsek, polres dan polda di daerah rawan bisa benar-benar melindungi dirinya secara terlatih dan profesional.

“Sebab bagaimana publik bisa percaya dan merasa aman, sementara mereka melihat anggota Polri sendiri tidak mampu mengamankan dirinya sendiri dari serangan para kriminal,” katanya, Kamis (2/7). (boy/jpnn)

loading...
Click to comment
To Top