Margarieth Enggan Peragakan Adegan Pembunuhan ANG – FAJAR.co.id

FAJAR.co.id

exciting-banten
Hukum

Margarieth Enggan Peragakan Adegan Pembunuhan ANG

DENPASAR – Meski sempat molor karena menunggu kuasa hukum Margareith yang tak kunjung datang, akhirnya rekonstruksi kasus pembunuhan Engeline, 8, di rumah orang tua angkatnya, Jalan Sedap Malam No 26, Denpasar Timur, kemarin (6/7)  dimulai sekitar pukul 11.00.

Tepatnya setelah kuasa hukum Margareith yang terdiri atas Dion Pongkor, Jeffry Kam, Posko, dan Aldres Napitupulu tiba di TKP. Bahkan, tak sedikit warga yang menanti karena penasaran dengan Hotma Sitompoel yang selama ini menjadi kuasa hukum Margareith. Namun sayang, Hotma tak mendampingi kliennya.

Kedatangan empat pengacara tersebut disusul dengan kehadiran anak Margareith, yakni Yvonne dan Christine. Kedatangan dua kakak angkat korban itu juga menyulut emosi warga.

Sebaliknya, kuasa hukum Agus, yakni Hotman Paris Hutapea dan Haposan Sihombing, telah siap di TKP bersamaan dengan kedatangan kliennya. Hotman mengatakan, kliennya sehat dan siap untuk menjalani rekonstruksi. ”Klien kami dalam kondisi fit,” ujar dia.

Hotman menyatakan, meski Agus berada di TKP bersama Margareith, keduanya tidak berinteraksi. ”Jarak mereka sekitar 2 meter lah, tetapi diawasi juga oleh petugas. Mereka tidak berinteraksi,” lanjutnya.

Rekonstruksi itu berlangsung tertutup. Haposan menyampaikan, rekonstruksi dimulai dari kamar Agus, berlanjut ke kamar Margareith, kemudian di lokasi penguburan Engeline.

“Rekonstruksi kan sudah di kamar Agus, sekarang TKP di kamar tersangka M. Kemungkinan dari kamar Agus, baru ke kamar M, kemudian ke TKP penguburan,” jelas Haposan.

Pada pukul 15.41, Hotman keluar dari TKP dan menyampaikan kepada awak media bahwa kliennya menjalani 81 adegan dengan tenang dan lancar. ”Penguburan ada di adegan ke-80 dan disaksikan oleh Margareith. Bahkan, yang memutar jenazah Engeline itu Ibu Margareith,” terang Hotman.

Menurut Hotman, dalam rekonstruksi tersebut, TKP pembunuhan Engeline adalah kamar Margareith. Situasi itu, papar dia, dapat membuat penyidik yakin bahwa pelaku utama pembunuhan Engeline adalah ibu angkatnya. ”Pembunuhan dilakukan pada adegan ke-50-an,” lanjutnya.

[NEXT-FAJAR]

Saat rekonstruksi, Margareith menolak melakukan adegan. Menurut Hotman, itu tidak menjadi masalah karena Margareith diperankan oleh penyidik. Margareith tidak menyangkal ataupun mengiyakan adegan-adegan dalam rekonstruksi tersebut.

Selisih pendapat juga sempat terjadi antara Agus dan Margareith. Sebab, ada keterangan Agus yang tidak diakui oleh Margareith. ”Sebelum adegan ke-20, Agus sempat marah, lalu membanting tiang dan bilang, ’Bohong!’” ujar Hotman, menirukan apa yang dilakukan Agus.

Menurut Hotman, dalam rekonstruksi, ketika Engeline sudah tergeletak di kamar Margareith, Agus dikatakan sedang berdiri di depan kamar. Padahal, menurut Agus, saat itu dirinya dipanggil oleh Margareith serta menyaksikan Engeline sudah tergeletak, dijambak, dan dibenturkan.

Berbeda dengan Agus yang sempat emosional, Margareith sama sekali tidak menunjukkan kemarahan. Bahkan, papar Hotman, janda tersebut sering tersenyum.

Meski demikian, Hotman sedikit lega karena kliennya akan aman dari dugaan pembunuhan. “Sampai hari ini (kemarin, Red) dan ke depan, Agus sepertinya akan aman dari dugaan pembunuhan. Meski memang benar dia membantu mengubur Engeline atas perintah Margareith,” katanya sambil tergesa-gesa agar tidak ketinggalan pesawat untuk kembali ke Jakarta.

Setelah adegan penguburan jenazah Engeline, Agus dan Margareith masih akan menjalani adegan ketika Handono dan Susiani pulang kerja. Juga adegan saat Ibu Rohana dan Yvonne mendatangi kediaman Margareith sebelum memutuskan untuk melaporkan hilangnya Engeline kepada kelian adat. ”Rekonstruksi ini sesuai dengan BAP Agus yang terakhir,” tambah Haposan.

Dia menuturkan, tidak ada tambahan di luar BAP Agus tersebut dan Margareith tidak mau memperagakan adegan pembunuhan Engeline. ”Margareith mau memerankan adegan yang menguntungkan buat dia. Adegan pembunuhan, dia tidak mau memperagakan, makanya digantikan oleh penyidik. Sedangkan setelah Ibu Rohana dan Yvonne datang, dia mau memperagakan,” jelasnya.

Haposan juga menyampaikan, dalam rekonstruksi tersebut, juga ada adegan ketika Agus diminta menyundut rokok ke punggung Engeline. Namun, karena Agus enggan, Margareith-lah yang akhirnya melakukannya. ”Adegan pemerkosaan juga tidak ada dalam rekonstruksi tadi. Jadi, keseluruhan adegan ada 98,” lanjutnya.

[NEXT-FAJAR]

Sementara itu, kuasa hukum Margareith, Jeffry Kam, mengakui bahwa kliennya tidak mau memperagakan adegan seperti yang ada di BAP Agus. ”Rekonstruksi itu kan memperagakan fakta-fakta dalam BAP. Jadi, kalau itu bukan fakta yang terjadi, ya klien kami tidak mau memperagakan,” terangnya.

Sedangkan mengenai emosi Agus yang sempat meledak karena menganggap Margareith berbohong, dia memandang bahwa hal tersebut sangat mengagetkan. Sikap Agus yang emosional menjadi pertanyaan di benaknya. ”Apa iya orang yang seemosional seperti itu bisa disuruh dan diancam oleh nenek-nenek umur 50 tahun? Itu yang menjadi pertanyaan,” tegasnya.

Kepala Kedokteran Forensik RS Sanglah Dudut Rustyadi juga hadir dalam rekonstruksi pembunuhan Engeline. Korban diperankan oleh remaja berumur 17 tahun yang menggunakan baju berwarna biru.

Rustyadi menyampaikan bahwa kehadirannya tidak lain bertujuan memastikan apakah adegan kekerasan tersebut sesuai dengan luka-luka yang ada di tubuh Engeline. ”Ada banyak kesesuaian hasil otopsi dengan proses rekonstruksi,” ujarnya.  (ras/ken/yes/c11/end/jpnn)

loading...
Click to comment
To Top