Ngabuburit Puisi “Dari Rumah Dedari Menuju Merangkai Damai” – FAJAR.co.id

FAJAR.co.id

exciting-banten
Budaya & Pariwisata

Ngabuburit Puisi “Dari Rumah Dedari Menuju Merangkai Damai”

MAGELANG, RAJA – Alun-alun Kota Magelang yang setiap sore ramai, pada Minggu (05/07) kemarin semakin bertambah semarak dengan kehadiran 87 penyair nasional yang berparade puisi.

Menjelang buka puasa dengan tajuk “Dari Rumah Dedari Menuju Merangkai Damai” yang dikoordinir oleh Bambang Eka Prasetya dengan bendera Lembaga Nittramaya yang sudah malang melintang dan menjelajah nusantara untuk berpuisi. Tajuk tersebut diambil dari dua nama buku antologi puisi yaitu 69 Puisi Di Rumah Dedari karya Dewa Putu Sahadewa dan antologi puisi Merangkai Damai karya 149 penyair Nusantara. Peserta yang datang selain dari sekitar Magelang juga banyak yang dari luar daerah seperti Annie Kasianik dari Yogya, Imam Subagyo dari Semarang, Edi S Febri (Jurnalis Rakyat Jateng) dari Batang, Dewa Putu Sahadewa dari Kupang NTT yang sekalian melounching buku, ada juga yang dari Bali, NTB, Kalbar dan Kaltim.

Dengan jumlah peserta sebanyak itu dan waktu terbatas, akhirnya disiasati dengan membaginya menjadi  4 kelompok yang disebar dan memilih tempat sesuai keinginan untuk membacakan puisinya baik karya sendiri maupun dari dua buku tersebut. Ada kelompok yang mengambil tempat di bawah pohon beringin, disekitar patung Diponegoro, dibawah menara air ataupun berbaur diantara pengunjung yang sedang menikmati suasana sore. Banyak diantara pengunjung alun-alun yang kaget dan heran karena tiba-tiba ada yang berpuisi tapi akhirnya mereka ikut menikmati tontonan langka penyair berparade puisi diluar ruangan ini dan bergabung. Pengunjung yang lalu lalang mejadi bagian dari penempilan peserta yang semakin menarik. Dan walaupun tidak ada aturan yang membatasi, para penyair rupanya tahu diri untuk sedikit membatasi “keliarannya” karena acara ini digelar di bulan ramadhan. Puisi yang dibacakan semuanya sopan dan bertutur tentang religi ataupun tentang cinta yang indah sehingga suasana syahdu tercipta. Bambang Eka Prasetya selaku penggagas sekaligus ketua penyelenggara mengatakan kegiatan ini murni dari seniman untuk seniman”. “Semuanya mandiri. Tidak ada akomodasi khusus yang diberikan kepada peserta. Mereka datang dan mengurusi dirinya dengan biaya sendiri. Mereka semua adalah penyair sejati yang berdedikasi dan mengabdikan diri sepenuhnya untuk seni khususnya puisi”, kata Bambang Eka.

Selain gelar puisi acara ini juga diselingi dengan pertunjukan dari Kelompok Primitif Reptil Magelang yang membawa aneka jenis ular dari yang jinak sampai King Kobra yang masih liar. Tontonan ekstrim yang membuat banyak orang menjerit ngeri ketika ada seorang pemain membiarkan lidahnya digigit ular hijau sampai mengucurkan darah tapi tidak apa-apa. Ada pula yang dengan santainya bermain dan berciuman dengan King Kobra dewasa yang gesit menyambar dengan patukan mautnya.

Acara ini selesai saat maghrib dan diakhiri dengan berbuka puasa bersama di area lapangan bintang. “Kita akan bertemu lagi di acara Kemah Budaya yang teknik pelaksanaannya masih kami matangkan dengan mendatangkan penyair-penyair Nasional papan atas”, kata Bambang Eka Prasetya kepada Rakyat Jateng. (Feb)

loading...
Click to comment
To Top