Fahri Hamzah: Istana, Elemen Paling Lemah di Indonesia – FAJAR.co.id

FAJAR.co.id

exciting-banten
Ragam

Fahri Hamzah: Istana, Elemen Paling Lemah di Indonesia

JAKARTA-Wakil Ketua DPR, Fahri  Hamzah, mengatakan saat ini suka atau tidak suka rakyat Indonesia harus mengakui bahwa elemen yang paling kuat di Indonesia menjadi elemen yang paling lemah di Indonesia.

Elemen itu, adalah lembaga kepresidenan yang meskipun punya legitimasi pemenangan pemilu yang sudah didapatkannya, walau juga tidak mutlak selalu bermasalah dan seperti selalu menggiti dirinya sendiri.

“Suka atau tidak suka, rakyat Indonesia harus mengakui bahwa titik lemah bangsa ini terletak pada lembaga kepresidenan. Makanya harus dipikirkan bagaimana mengatasi titik lemah ini tanpa merusak apa yang kita perjuangkan. Kalau kita sasar justru seharusnya kita berkewajiban membaca titik lemah ini untuk kemudian dikompromikan dan dijinakkan,” ujar Fahri ketika dihubungi, Rabu (7/7).

Dia menjelaskan, karena menyadari kondisi ini maka KMP pun pada akhirnya mendukung semua keinginan presiden. KMP sebisa mungkin menjaga komitmen demokrasi dan tidak ingin pemerintahan berhenti ditengah jalan. Meski menurutnya kebijakan pemerintah tidak sepenuhnya sesuai dengan nurani KMP seperti kebijakan yang mengacak-acak harga BBM.

“KMP di DPR mendukung  sepenuhnya APBN yang disusuh pemerintahan Jokowi, dan sama sekali tidak mengganggu pemerintahannya. Namun sayangnya justru pemerintahan ini yang memang tidak konsisten,” tegasnya.

Putusan untuk mendukung Jokowi menurut Fahri, sudah menjadi keputusan resmi KMP dan KMP bahkan sudah memerintahkan anggotanya untuk tidak mengkritik Jokowi, meski kadang keputusan pemerintahan Jokowi bertentangan dengan nurani anggota KMP.

“8 Bulan di DPR kita dukung, termasuk kebijakan mengacak-acak harga BBM. Kita tidak mau dianggap sebagai perusak. Namun sayangnya pemerintahan ini tidak konsisten dengan keputusannya,” tegasnya.

Bukan itu saja, dirinya pun harus rela menerima kritikan dari ayah kandungnya sendiri, yang menudingnya sudah menjadi karyawan Jokowi.

“Karena keputusan KMP untuk sepenuhnya mendukung Jokowi, saya sampai dibilang sama ayah saya, bahwa saya sudah jadi karyawan Jokowi, lantaran membelanya terus saat ini, termasuk dari para pendukungnya,” paparnya.

Namun demikian keluh Fahri, dirinya, KMP maupun DPR tetap saja dianggap menjadi masalah bagi pemerintahan, meski sebenarnya yang bermasalah justru pemerintahan sendiri.

Dia mencontohkan masalah revisi UU KPK. Semua  pihak pada awalnya sepakat bahwa ada masalah dengan KPK, tapi kemudian pemerintah menarik diri dan balik badan karena takut dengan citra tidak pro pemberantasan korupsi.

“Coba lihat asal muasalnya yang menjadikan pimpinan KPK sebagai tersangka yah pemerintah, yang menonaktifkan pimpinan KPK yah pemerintah, yang mengangkat Plt pimpinan KPK yah pemerintah, yang mondar mandir ingin merevisi pemerintah. Lantas kita bertemu sepakat untuk merevisi dan dimasukkan dalam prolegnas dan Plt KPK seperti Indiarto dan Taufikurahman pun sepakat bahwa UU KPK jahiliyah dan musti direvisi.Tapi terakhir yang disalahkan DPR  dan dianggap ingin melemahkan KPK. Pemerintah pun menarik diri dari rencana revisi,” jelasnya.

Wakil Sekjen PKS ini pun menceritakan pengalaman lainnya, bagaimana pemimpin daerah pun dibuat pusing oleh Jokowi. Dia mengatakan pada saat festival Tambora terbang  bersama Jokowi diatas bukit jagung, yang luasnya tadinya hanya 2000 ha kini menjadi 40.000 ha. Mereka pun jelasnya mendarat diatas lahan petani yang menuntut harga jual jagung.

“Jokowi yakin betul memberikan janji kenaikan harga jagung basah dan kering. Harusnya kan dia jawab saja itu nanti diurus oleh menteri pertanian. Dia kasih kenaikan harga, rakyat pun tepuk tangan. Tapi sampai hari ini SK keputusan harga jagung belum juga ditandatangani, bupatinya pun pusing dibuatnya karena ditekan para petani,” tandasnya. (fmc)

loading...
Click to comment
To Top