Sosialisasi Empat Pilar, Amirul Tegaskan Pentingnya Toleransi – FAJAR.co.id

FAJAR.co.id

Ragam

Sosialisasi Empat Pilar, Amirul Tegaskan Pentingnya Toleransi

BAUBAU – Anggota DPR/MPR RI DR. MZ. Amirul Tamim, menghimbau dan mengajak masyarakat Kota Baubau untuk menghormati setiap perbedaan yang ada. Baik Agama, suku, keyakinan serta perbedaan lainnya. Dengan tujuan, kehidupan berbangsa dan bernegara yang damai dan sejahtera.

Hal itu, dikemukakan Mantan Walikota Baubau dua periode ini dalam kegiatan Diskusi Kebangsaan saat melaksanakan tugas sosialisasi empat pilar kebangsaan di Kelurahan Liwuto, Kota Baubau Propinsi Sulawesi Tenggara beberapa waktu lalu.

Acara yang dimulai sekitar pukul 16.00 Wita itu dihadiri 150 undangan. Empat Pilar Kehidupan Berbangsa dan Bernegara, yang meliputi Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhineka Tunggal Ika. Dengan berlandaskan pada empat pilar itu, akan tercipta kehidupan berbangsa yang harmonis.

“Empat Pilar Kebangsaan adalah landasan filosofis kita bernegara sekaligus penyangga kokohnya NKRI sekaligus menjadi cermin karakter bangsa kita,” tegas Amirul.

Sangat penting untuk membangun karakter yang kuat pada diri tiap warga negara dengan semangat toleransi dan keberagaman, karena karakter itulah yang membuat bangsa kita dikenal dari dulu dengan pluralitas dan keterbukaannya sehingga dapat menciptakan kohesi sosial yang sangat lama hingga berbentuk Indonesia saat ini.

Lebih lanjut dikatakan bahwa, diperlukan adanya usaha bersama-sama yang terorganisir untuk melakukan sosialisasi dan penyadaran, pengembangan, serta pemberdayaan menyangkut Empat Pilar Kehidupan berbangsa dan bernegara.

Kegiatan sosialisasi tambah dia, menjadi hal penting untuk dilaksanakan oleh semua pihak. Para penyelenggara negara, baik pusat maupun daerah dan segenap warga negara Indonesia harus sama-sama bertanggung jawab untuk memahami dan melaksanakan nilai-nilai Empat Pilar dalam kehidupan sehari-hari.

Anggota Komisi II DPR RI dari Daerah Pemilihan Sulawesi Tenggara itu menyebutkan, sejak awal berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia, para founding father kita telah menyadari bahwa masyarakat kita yang beragam bahasa dan budaya ini merupakan kekayaan berharga bangsa yang harus diakui, diterima, dihormati dan dilestarikan.

”Keragaman yang ada di masyarakat jangan dipertentangkan satu sama lain. Keragaman dan kemajemukan ini harus dikelola menjadi kekuatan bangsa sehingga tiap warga negara di republik ini punya kewajiban bersama untuk menjaga dan menghargai tiap perbedaan. Dengan begitu, kita bersama-sama dapat mencegah terjadinya gesekan sosial akibat adanya berbagai perbedaan, karena perbedaan itulah yang menjadi kekuatan kita dengan syarat kita cerdas mengelolanya. Untuk kesatuan NKRI,” katanya.

Di Baubau ini misalnya, terdapat banyak suku bangsa yang hidup saling berdampingan sejak ratusan tahun silam. Berbagai suku seperti suku Wolio, Muna, Cia-Cia, Wakatobi, Tolaki, Bugis maupun Jawa, depat saling berinteraksi dan hidup berdampingan. Perbedaaan yang ada pada mereka justru menjadi warna tersendiri dalam khasanah kebudayaan yang tumbuh di Kota Baubau.

”Point pentingnya adalah toleransi. Dengan toleransi tesebut kita tetap bisa hidup berdampingan, saling menguatkan untuk masa depan Indonesia yang lebih baik. Sikap toleransi itulah yang harus terus dipupuk dan dikembangkan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara”, tegasnya. (hrm)

To Top