Sepanjang Puasa Hingga Lebaran, Pengunjung Mall Lesu – FAJAR.co.id

FAJAR.co.id

Ekonomi & Bisnis

Sepanjang Puasa Hingga Lebaran, Pengunjung Mall Lesu

FAJARONLINE, JAKARTA – Impian para pedagang pusat perbelanjaan menikmati banjir pembeli sepanjang puasa dan Lebaran tahun ini mulai sirna. Hingga sepekan menjelang Lebaran, jumlah pengunjung mal atau pusat perbelanjaan tahun ini tidak seramai tahun-tahun sebelumnya.

Ketua Dewan Pembina Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) Stefanus Ridwan menyatakan, berdasar laporan para pedagang kepada pengelola pusat perbelanjaan, penjualan produk fashion menjelang Lebaran kali ini tak seramai tahun lalu. ’’Ekonomi sedang lesu, jadi belanjanya ikut lesu,’’ ujarnya Sabtu (11/7).

Berdasar pantauan pengelola pusat perbelanjaan, tidak terlihat kenaikan yang signifikan pada periode dua pekan menjelang Lebaran yang biasanya menjadi puncak ramainya pengunjung, kecuali pada Sabtu dan Minggu. Padahal, tahun-tahun sebelumnya, ramainya pengunjung terjadi setiap hari. ’’Kalau dibandingkan bulan sebelum puasa memang lebih ramai, tapi kalau dibanding puasa tahun lalu masih kalah,’’ katanya.

Menurut Stefanus, dengan waktu tersisa sepekan menjelang Lebaran, sulit bagi para pedagang untuk menggenjot penjualan. Sebab, khusus di kota-kota besar, sebagian warganya sudah mudik ke kampung halaman sehingga kunjungan ke pusat perbelanjaan akan turun. ’’Jadi mungkin pusat perbelanjaan di daerah yang masih bisa mendapat banyak pengunjung,’’ ucapnya.

Geliat aktivitas belanja masyarakat pada puasa kali ini yang tidak seramai tahun lalu memang sejalan dengan survei penjualan eceran yang dirilis Bank Indonesia (BI). Pada April 2015, pertumbuhan ritel di Indonesia masih bisa mencatat kenaikan 23,1 persen dibanding April 2015. Lalu, pada Mei 2015, pertumbuhannya melambat menjadi 19,8 persen, dan angka estimasi Juni yang turun lagi menjadi 18,5 persen.

Dari sisi konsumen, survei indeks keyakinan konsumen (IKK) pada Juni 2015 juga melemah ke level 111,3 jika dibandingkan dengan IKK periode Mei 2015 yang sebesar 112,8. Melemahnya IKK inilah yang lantas tecermin dari turunnya daya beli masyarakat.

Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Suryo Bambang Sulisto menambahkan, penurunan daya beli masyarakat inilah yang harus diwaspadai pemerintah maupun pelaku usaha. ’’Sebab, konsumsi masyarakat masih menjadi motor utama pertumbuhan ekonomi kita,’’ ujarnya.

Suryo mengatakan, jika pelemahan daya beli dibiarkan berlanjut, turunnya permintaan akan direspons pelaku usaha dengan menurunkan produksi sehingga kian memperlemah ekonomi. ’’Kita tentu tak ingin hal itu terjadi,’’ katanya.

Karena itu, pelaku usaha pun meminta pemerintah mengeluarkan kebijakan yang tepat dan ramah dengan dunia usaha. Sebab, lanjut dia, masih ada kebijakan pemerintah yang justru kontraproduktif dengan upaya menggenjot pertumbuhan ekonomi. Misalnya, terkait kian ketatnya aturan pajak, bea masuk, hingga pajak ekspor. ’’Padahal, saat ini yang dibutuhkan adalah pelonggaran fiskal,’’ ucapnya. (owi/c17/sof)

Click to comment
To Top