Pasar Ramai Pembeli, Hati-hati Uang Palsu! – FAJAR.co.id

FAJAR.co.id

Ragam

Pasar Ramai Pembeli, Hati-hati Uang Palsu!

TEMANGGUNG – Berdalih untuk membelikan baju buat cucunya, sepasang kakek-nenek di Temanggung nekad mengedarkan uang palsu (upal) di pasar tradisional. Bahkan saat rumahnya digeledah, polisi menemukan ratusan lembar upal dengan total nilai mencapai puluhan juta rupiah.

Kapolres Temanggung AKBP Wahyu Wim Hardjanto melalui Kasat Reskim AKP Suharto menjelaskan penangkapan Danuri (59) dan Wurni (62), warga RT 01 RW 06, Dusun Bandung, Desa Bandunggede, Kecamatan Parakan berdasarkan laporan Ngarilah (70) pedagang daging Pasar Candiroto, yang menerima uang palsu pecahan 50 ribuan dari Wurni.
“Begitu menerima uang palsu korban langsung lapor ke polsek, terus kita lakukan pengejaran. Tersangka saat hendak ditangkap sempat ingin kabur, namun akhirnya tertangkap di Kecamatan Bejen,” terangnya di Mapolres Temanggung, Minggu (12/7).
Pihaknya terus melakukan pengembangan dengan melakukan penggeledahan di rumah tersangka. Hasilnya, ditemukan ratusan kertas upal dari pecahan 20 ribu, 50 ribu hingga 100 ribu. Jika ditotal, nilainya mencapai Rp26.620.000.
“Kemungkinan upal tersebut akan diedarkan di Temanggung, memanfaatkan ramai pasar jelang lebaran, bila dilihat sekilas uang palsu bentuknya sangat mirip dengan uang asli, baik ukuran, warna yang persis maupun keberadaan gambar air pada cetakan uang. Hanya saja, jika dicermati, terdapat perbedaan yakni tidak ada tulisan Bank Indonesia, hologram yang tidak berubah warna,” jelasnya.
Tak hanya uang palsu saja, dari tangan kedua tersangka polisi juga mengamankan sebuah mobil pikap warna hitam dengan nopol AA 1923 JY yang digunakan untuk mengedarkan uang palsu. Termasuk daging sapi seberat tiga ons yang telah dibeli kedua tersangka.
Kasatreskrim mengatakan saat ini pihaknya masih terus mendalami kasus upal tersebut, apakah kedua pelaku merupakan anggota jaringan peredaran upal, juga termasuk asal-usul uang palsu tersebut didapakan.
“Keduanya terancam pasal 36 ayat (3) UU nomor 7 tahun 2011 tentang mata uang dengan ancaman hukuman selama-lamanya lima belas tahun penjara dan denda paling tinggi sebesar Rp50 juta,” pungkasnya.
Sementara itu salah seorang tersangka, Danuri mengaku mendapatkan uang palsu dari seseorang warga Kabupaten Semarang berinisial An.
“Saya kenal dia saat jual kendaraan padanya, sekitar tujuh bulan yang lalu. Saat itu saya ditawarin upal dengan perbandingan 1 banding 3, 100 ribu uang asli ditukar dengan 300 ribu uang palsu. Pertama saya edarkan 1,5 juta di Jakarta, kedua di Bekasi dengan nilainya sama. Terus yang ketiga mau diedarkan di pasar Candiroto oleh istri saya, tapi terus ketangkep ini,” akunya.
Dirinya terpaksa mengedarkan uang palsu dengan alasan ingin membelikan baju buat cucunya saat lebaran nanti. (din)

To Top