1.000 Warga Sulsel Mengungsi ke Wamena – FAJAR.co.id

FAJAR.co.id

Ragam

1.000 Warga Sulsel Mengungsi ke Wamena

FAJARONLINE, MAKASSAR — Banyak warga Sulsel yang menjadi korban kerusuhan di Karubaga, Kabupaten Tolikara, Provinsi Papua, Jumat, 17 Juli. Mereka terpaksa mengungsi di Wamena. Jumlahnya kurang lebih 1.000 orang yang didominasi asal Luwu. Pasca pembakaran musala dan 70 rumah toko (ruko) oleh kelompok massa saat salat Id, mereka memilih menyelamatkan diri. Orang tua anggota DPRD Luwu, Andi Firdaus, berada di Tolikara saat peristiwa tersebut terjadi. ”Orang tua saya, Andi Sanalebbi Opu Wata, dalam kondisi selamat,” kata Andi Firdaus, Sabtu, 18 Juli. Andi Sanalebbi bersama keluarga dan beberapa warga Sulsel lainnya saat ini berada di Wamena. Kepada FAJAR saat dihubungi melalui telepon, Andi Sanalebbi mengakui bahwa suasana di Tolikara masih mencekam. ”Warga Muslim yang berada di daerah ini memilih mengungsi ke Wamena,” kata Andi Sanalebbi.

Warga Sulsel yang sebagian besar orang Luwu mengungsi menggunakan mobil dan sepada motor yang tersisa dari pembakaran. Selama perjalanan menuju Wamena, warga tidak membawa harta benda. Pasalnya sudah ikut terbakar bersama ruko. Saat Lebaran, jelas Andi Sanalebbi, memang ada surat yang dilayangkan agar warga muslim tidak melaksanakan salat Id. Alasannya, bersamaan acara GIDI (Gereja Injili Di Indonesia) yang menghadirkan lima negara. Andi Sanalebbi mengisahkan, saat salat Id, tiba-tiba ada serangan batu dan panah. ”Kalau tidak ada petugas kami tidak mungkin selamat,” tuturnya.

* Empat Poin Kesepakatan
Telah ada kesepakatan antara Gereja Injili Di Indonesia (GIDI) dengan tokoh agama se-Tolikara. Isi kesepakatan itu yang paling utama adalah GIDI dan tokoh agama saling menjaga kerukunan dan Pemkab akan membangun kembali kios dan masjid yang sempat dibakar.

Kabagpenum Mabes Polri, Kombespol Suharsono, menjelaskan, ada empat poin kesepakatan yang telah diambil. Di antaranya saling menjaga kerukunan, Pemkab membangun kios dan musala yang terbakar. Selain itu ada juga janji dari Kapolda Papua, Irjen Pol Yotje Mende, dan Pangdam XVII Cendrawasih, Mayjen Fransen Siahaan, untuk memberikan bantuan tunai kepada para korban.

Poin terakhir, pelaku pembakaran tetap akan diusut sesuai aturan hukum yang berlaku. “Jadi, dipastikan telah ada antisipasi kemungkinan adanya peristiwa balasan. Dengan perjanjian ini, semua itu bisa ditekan,” paparnya.(syah/ian-har)

loading...
Click to comment
To Top