IPW Heran Dengan Sikap Syafii Maarif yang Intervensi Proses Hukum – FAJAR.co.id

FAJAR.co.id

Ragam

IPW Heran Dengan Sikap Syafii Maarif yang Intervensi Proses Hukum

JAKARTA-Ketua Presideum Indonesian Police Watch (IPW), Neta S. Pane, mengaku heran dengan sikap Mantan Ketua Umum Muhammadiyah, Syafii Maarif yang berupaya mengintervensi proses hukum yang sedang berjalan.

Sebagai seorang tokoh, Maarif seharusnya paham bahwa dirinya tidak boleh mengintervensi proses hukum yang sedang berjalan.

“Saya heran saja seorang tokoh seperti Syafii Maarif berupaya mengintervensi proses hukum yang sedang dilakukan oleh Polri, terhadap laporan warga negara dalam hal ini, Hakim Sarpin yang melaporkan dugaan pencemaran nama baiknya ke Polri. Tidak seharusnya seorang tokoh sekelah Syafei Maarif mengintervensi proses yang sedang dijalankan Polri,” ujar Neta kepada wartawan di Jakarta, Sabut (18/7).

Apa yang dilakukan oleh Polri jelas Neta sudah sesuai atau on the track. Langkah Polri memproses laporan Sarpin menurutnya adalah langkah profesional dengan meminta keterangan Sarpin maupun kedua hakim Komisi Yudisial, yang dilaporkan dan memeriksa bukti-bukti yang ada.

“Lah ini kok malah menyalahkan?Apalagi sampai meminta Jokowi untuk memecah Kabareskrim,” tegasnya.

Syafii Maarif harusnya memprotes langkah Polri, kalau Polri justru tidak juga bertindak kalau ada laporan masyarakat, meski bukti-bukti dan segala yang dibutuhkan untuk menindaklanjuti sudah ada. “Ini proses hukum, kalau semua bukti ada yah harus ditindaklanjuti.Protes itu kalau semua bukti ada, tapi tidak ditindaklanjuti, baru itu benar,” imbuhnya.

Dia menambahkan, langkah Syafii Maarif ini hanyalah penyakit paranoid terhadap polisi dan oleh karena itu menurutnya, Jokowi tidak perlu mendengarkannya. “Mereka ini sangat paranoid, mau Polisi kerja atau tidak, mereka selalu mengkritik. Ini kan salah kaprah dan keblingrer ketika polisi mengerjakan tugasnya justru dikritik,” imbunya.

Dia menyarahkan kepada Syafii Maarif, kalau memang punya itikad benar, maka seharusnya dia meloby Hakim Sarpin supaya menarik laporannya ke polisi.

“Ini kan delik aduan, kalau aduanya dicabut, yah polisi tidak bisa menindaklanjuti. Jadi yah lobi saja Sarpin supaya menarik gugatannya. Jadillah mediator untuk kedua belah pihak. Jangan menyalahkan Polri terus,” tandasnya.

Sebelumnya Mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah Syafii Maarif meminta ketegasan Presiden Joko Widodo atas dugaan kriminalisasi terhadap dua komisioner Komisi Yudisial (KY), yang ditetapkan sebagai tersangka atas lapooran Hakim Sarpin karena dituduh mencemarkan nama baiknya.

“Kok mudah sekali menjadikan tersangka. Saya berharap bangsa ini jangan dipimpin oleh orang yang tidak keru-keruan ini,” ujar Syafii di Gedung KPK, Jakarta, Senin (13/7) lalu.

Syafii berpendapat Polri harus melakukan reformasi, dengan mengganti orang-orang yang terlihat ingin melemahkan instansi penegak hukum lainnya. Ia mengatakan, seharusnya Jokowi memerintahkan Kapolri untuk segera mengganti oknum-oknum tersebut.

“Ada aparat yang jelas-jelas melukai publik, melukai hukum, diganti. Kenapa sulit amat perintahkan Pak Haiti mengganti?” kata Syafii.

Kemudian, muncul petisi untuk Presiden berjudul “Copot Kabareskrim Budi Waseso” di situs change.org. Petisi itu dibuat Ketua Umum Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah Danhil Anzar Simanjuntak, dan Direktur Eksekutif Lingkar Madani Indonesia Ray Rangkuti.

Mereka menilai gerakan antikorupsi tengah dilemahkan sejak Budi Waseso dilantik menjabat sebagai Kabareskrim Polri. Menurut catatan pihaknya, ada 49 orang yang melawan praktik korupsi lalu dilaporkan ke Kepolisian dalam berbagai tuduhan. Hingga Jumat pukul 13.15 WIB, petisi itu setidaknya sudah ditandatangani 12.732 orang. Mereka menyampaikan berbagai alasan agar Kabareskrim diganti.

Menanggapi permintaan Syafii Maarif sendiri, Kapolri Jendral (Pol) Badrodin Haiti hanya menjawab ringan masalah tersebut. Menurutnya semua ada prosedurnya.

“Semua kan ada mekanismenya, ada cara dan alasannya. Tidak semua hal bisa dilakukan cuman karena alasan personal,” ujar Badrodin saat ditemui di Lapangan Bhayangkara, Jumat (17/7). (fmc)

To Top