Mendagri : Kasus Tolikara Bukan Isu Sara’ – FAJAR.co.id

FAJAR.co.id

exciting-banten
Ragam

Mendagri : Kasus Tolikara Bukan Isu Sara’

JAKARTA – Menteri Dalam Negeri (Mendagri), Tjahjo Kumolo menegaskan kejadian yang menimpa umat muslim di Kabupaten Tolikara, Propinsi Papua bukanlah merupakan isu Sara’. Namun,apa yang terjadi di Tolikara menurutnya lebih kepada luapan sekelompok anggota masyarakat yang emosional.

“Akan sangat bagus bila tokoh masyarakat dan lintas agama di Tolikara bergotong royong membangun kembali bangunan, kios, tempat ibadah yang rusak atau terbakar sebagai bukti toleransi masyarakat Kabupaten Tolikara adalah sangat baik dan bahkan terbaik,” kata Tahjo Kumolo yang didampingi Dirjen Kesbangpol Kemendagri dalam kunjungan kerja di Tolikara pada 20 – 21 Juli.

Dikatakan, kunjungan yang dilakukan ke Kabupaten Tolikara adalah bukan untuk melakukan investigasi masalah yang terjadi di masyarakat Tolikara. Mengingat hal tersebut sudah menjadi bagian tanggung jawab aparat kepolisian dan aparat keamanan terpadu yang mengusutnya secara hukum.

“Kemendagri sebagai poros pemerintah pusat sampai dengan daerah semata ingin memberikan motivasi kepada jajaran pejabat dan staf pemda Kabupaten Tolikara khususnya untuk hadiri bersama masyarakat demi menjaga stabilitas dan membangun daerah secara gotong royong,” tambahnya.

Mantan Seken PDI Perjuangan ini menjelaskan, kehadirannya bersama dengan Dirjen Kesbangpol adalah sebagai simbol pemerintah pusat yang ingin mencari solusi permasalahan Papua secara komprehensif. Oleh karena itu, ada beberapa kata kunci untuk pelaksanaan pembangunan Papua yang jadi prioritas. Pertama, orientasi pembangunan yang sudah bergeser ke percepatan peningkatan kesejahteraan masyarakat Papua.

Kedua, paradigma lama membangun di Papua kini telah bergeser ke paradigma Papua Membangun. Dimana, rakyat Papua kini telah menjadi subjek pembangunan daripada sebagai objek yang harus tetap dijaga dinamikanya dalam panggung demokrasi dan wadah NKRI. Ketiga, dalam menangani Papua, lanjutnya, harus dengan menggunakan pendekatan hati dan cinta kasih.

“Dengan cinta kasih kita ciptakan kedamaian di Papua. Dengan kebersamaan mari kita bangun Papua yang damai. Dengan kedamaian mari kita wujudkan kesejahteraan rakyat Indonesia di wilayah NKRI Papua ini,” pungkasnya.

BACA JUGA: Tangkap Pimpinan GIDI, Sekte Gereja Radikal Ini Harus Bertanggungjawab

[NEXT-FAJAR]

Keempat, Papua merupakan salah satu daerah khusus. Otonomi Khusus Papua adalah pengakuan Negara yang perlu mendapatkan perlakuan khusus atas Papua dalam kontek sosio kultural masyarakatnya yang harus diperhatikan dalam kesuksesan pembangunan.

“Pemerintah pusat yakin dan pastikan akan keberhasilan Otsus dengan memperkuat segitiga sinergitas yang saling memperkuat antara Pemprov, DPRD, dan MRP sebagai sebuah teamwork yang solid di Papua sebagai wakil pusat di Daerah,” tukas mantan anggota DPR RI ini.

Selain itu, Kemendagri juga minta intensitas BinWas, Kesbangpol tingkat Propinsi kabupaten/kota agar lebih ditingkatkan koordinasi antar aparat keamanan dan intelejen daerah. Serta melakukan dialog dengan tokoh-tokoh masyarakat agama setempat sehingga kejadian seperti di Kabupaten Tolikara beberapa waktu lalu bisa dari awal dapat diantisipasi dan tak terulang kembali.

Disamping itu, Kemendagri juga menyampaikan apresiasi kepada jajaran TNI, khususnya Kodam Trikora yang dengan cepat mempersiapkan Karya Bhakti di Kabupaten Tolikara. Kemendagri juga  berharap peran Pemda Tolikara dapat bersama-sama menggerakkan dan mengorganisir masyarakat untuk bergotong royong membangun Kabupaten Tolikara. Kemendagri meyakini pihak kepolisian dan aparat intelejen terpadu sudah cepat tanggap untuk melakukan investigasi menguak akar masalah yang terjadi dan memproses secara hukum.

Tjahjo berharap, dalam pertemuan dengan jajaran Pemda Tolikara, khususnya Bupati dan Forkompinda agar dapat terus saling koordinasi, berdialog dengan seluruh elemen masyarakat di Tolikara khususnya dan seluruh Kepala Daerah tingkat Propinsi dan kabupaten/kota seluruh Propinsi Papua dan Propinsi Papua Barat.

“Dengan harus memperhatikan pola gerak yang sinergis serta mengayomi dan dekat bersama rakyat dan memahami apa yang diinginkan masyarakat dan diselesaikan secara musyawarah dan gotong royong,” pintanya. (hrm)

loading...
Click to comment
To Top