Mensos: Komunikasi Antar Pemimpin Agama Perluh Diperkuat – FAJAR.co.id

FAJAR.co.id

exciting-banten
Ragam

Mensos: Komunikasi Antar Pemimpin Agama Perluh Diperkuat

JAKARTA – Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa mengatakan, pihaknya sudah menanggulangi dampak lanjutan dari insiden di Tolikara, Papua. Saat ini beberapa staf Kementerian Sosial (Kemensos) sedang melakukan penilaian terhadap dampak yang ada.

”Dalam aspek bencana sosial, tugas kami ada beberapa. Pertama, memastikan dua tempat pengungsian mempunyai logistik yang cukup. Kedua, menangani korban-korban yang terdampak, baik secara fisik maupun mental. Karena di sana juga ada anak-anak yang akhirnya trauma melihat konflik tersebut,” terangnya.

Tugas lainnya adalah memperbaiki bangunan-bangunan yang terbakar saat insiden. Menurut laporan yang diterima, 63 rumah toko dan satu tempat ibadah harus direnovasi. Khofifah pun menegaskan, banyak juga ruko milik penduduk asli yang terbakar.

’’Itu membuat sekitar 38 kepala keluarga atau 153 jiwa harus mengungsi. Kami harap renovasi bangunannya bisa berjalan cepat karena dampaknya tak sampai parah. Saat ini masih kami akses untuk mendatangkan bahan-bahan bangunan. Kalau tenaga, sudah ada TNI yang siap membantu,’’ ungkapnya.

Selain logistik, dia menyebutkan bahwa para pengungsi bisa mendapakan jaminan hidup (jadup) selama 90 hari. Hal tersebut bisa didapatkan asal pemerintah daerah memang mengajukan itu kepada Kemensos. ’’Satu pengungsi akan mendapatkan Rp 20 ribu di luar hak logistik yang sudah diterima,’’ terangnya.

Khofifah pun mengaku bakal melihat langsung dampak-dampak bencana sosial tersebut pada 22 Juli besok. Menurut dia, peristiwa itu harus dijadikan sebuah pembelajaran berharga untuk meningkatkan toleransi antarumat beragama. ’’Saya harus melihat sendiri bagaimana keadaan di sana dan dampak yang ada. Untuk evaluasi ke depan,’’ jelasnya.

Dia juga memberikan pandangan terhadap isu ketegangan agama di Papua. Menurut Khofifah, komunikasi antar pemuka agama daerah dan nasional harus diperkuat. Sebab, pemuka agama daerahlah yang punya pengaruh kuat terhadap masyarakat lokal karena intensitas pertemuan yang jauh lebih banyak.

’’Kalau pemuka agama tingkat nasional hanya bisa menyampaikan fatwa lewat TV. Justru pemuka agama lokal yang hampir setiap minggu melakukan ceramah atau khotbah. Karena itu, garis komunikasi antar pemimpin agama ini perlu diperkuat,’’ terangnya. (idr/bil/byu/c10/end)

 

loading...
Click to comment
To Top