Wisata Budaya Ruwatan Rewandha di Goa Kreo – FAJAR.co.id

FAJAR.co.id

Ragam

Wisata Budaya Ruwatan Rewandha di Goa Kreo

SEMARANG, RAJA – Bagi wisatawan yang datang ke Goa Kreo pada Kamis (23/7) lalu, ada suguhan menarik yang hanya dapat dinikmati setahun sekali. yaitu, nguri-nguri budaya napak tilas kanjeng Sunan Kalijaga yang dikemas dalam Karnaval Sesaji Rewandha. Ritual ini digelar oleh warga Dukuh Talun kacang Kelurahan Kandri, Kecamatan Gunung Pati, Kota Semarang.

Acara dibuka oleh juru kunci Goa Kreo Mbah Sumar yang juga sesepuh Desa Talun Kacang.

Tujuan dari Tradisi Rewandha/Ritualan Goa Kreo itu merupakan suatu peringatan kisah perjalanan Sunan Kaljaga dalam mencari kayu jati yang akan digunakan sebagai Soko Guru atau tiang penyangga Masjid Agung Demak, yang dibantu oleh para kera pada waktu itu.

Mbah Sumar selaku juri kunci mengungkapkan, Sesaji Ritual Rewandha sendiri sudah turun temurun dan dilakukan tiga hari setelah Lebaran, tapi ada perubahan dari pihak pemerintah dan ditentukan tujuh hari setelah lebaran.

Menurutnya, jadi seolah-olah disini ada dua periode dalam memperingati Tradisi rewandha, yang pertama 3 hari setelah Lebaran dan 7 hari setelah lebaran dengan tujuan yang sama yaitu minta berkah dan restu kepada yang maha kuasa.

Peserta dalam Ritual Sesaji Rewandha ini sendiri berasal dari Dukuh Talun Kacang Kelurahan Kandri, dan tiap -tiap RT diwajibkan membuat sesaji yang berupa bentuk gunungan hasil dari palawija dan beberapa nasi bungkus yang telah dibentuk gunungan.

Dalam acara ini, peserta kirab budaya siap berjalan berjejer dengan rapi melakukan pawai karnaval. Ini merupakan tradisi orang Jawa yang memiliki unggah-ungguh dan sopan santun.

Upacaranya sendiri dibuka oleh Asisten Perekonomian, Pembangunan Dra. Ayu Enthys., MM pada Kamis (23/7) pukul 08.00 di arena Goa Kreo, Waduk Jatibarang, Gunungpati Semarang.

Uniknya, kegiatan ini dilengkapi dengan kirab gunungan buah, gunungan sego kethek, gunungan palawija, tumpeng sego kuning dan replika kayu jati sokoguru Masjid Demak. Adapula Tarian Wanara Parisuko yang dilanjutkan dengan Prosesi Sesaji Rewandha.

Pimpinan Kirab, Mbah Sumar menjelaskan untuk prosesi adat budayanya dimulai dengan memberikan sedekah kepada kera ekor panjang yang mendapat titah Sunan Kalijaga untuk menjaga Goa Kreo.

“Ini sebagai wujud terima kasih kepada Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan dan menjaga kelestarian alam bagi umat manusia. Sebagai catatan kirab dan tradisi ini bukan dalam rangka mengkultuskan kera,” ungkapnya.

“Semua sesaji didapatkan dari hasil bumi dari masyarakat Desa Kandri, imbuh Kasi Kesos, panitia kelurahan Kandri,” Budi Hutomo.

Mantna Walikota Semarang, Hendrar Prihadi, sempat memotong tumpeng. Berbarengan dengan itu, para pengunjung langsung berebut sesaji tiga bunungan Sesaji Rawenda. Alhasil, tumpeng belum usai dipotong, gunungan sudah lenyap menyisakan kerangka.

Tiga dari total empat gunungan lenyap dalam waktu kurang dari lima menit. Tiga gunungan itu masing-masing berhias sayur mayur, ketupat, dan nasi bungkus.

Dari kejauhan, Hendi hanya diam sambil tersenyum menonton aksi para pengunjung saling rebut sesaji.

Sedangkan gunungan terakhir yang dipenuhi hiasan buah, ditujukan untuk makan para kera di habitat Goa Kreo. Buah-buah yang disediakan antara lain jeruk, tomat, apel, pisang, nanas, dan sayur berupa kacang panjang. (*)

To Top