Jual Rumah karena Nyaris Bangkrut, Kini Pekerjakan 300 Karyawan – FAJAR.co.id

FAJAR.co.id

Makassar

Jual Rumah karena Nyaris Bangkrut, Kini Pekerjakan 300 Karyawan

Sosoknya sederhana. Siapa sangka, dia pemilik usaha jasa konstruksi yang kini mempekerjakan 300 karyawan.

TAUFIK HASYIM, MAKASSAR

PENGUSAHA keturunan Kabupaten Gowa, Sulsel, ini ditemui FAJAR di sela-sela forum bisnis Pertemuan Saudagar Bugis Makassar (PSBM) XV, Selasa 28 Juli. Namanya, Nurjaya.

Dengan ramah, pria delapan anak ini mulai berkisah. Kiprahnya di dunia bisnis, dimulai sejak tahun 1984 silam.
Kala itu, Nurjaya remaja sudah sering membantu orang tuanya yang merupakan pebisnis di Manokwari. Kesempatan tersebut digunakan untuk mengasah insting bisnisnya.

Tak lama, pria yang kini berusia 45 tahun itu, memilih mandiri dengan mendirikan bisnis sendiri akhir tahun 1996. Usaha konstruksi dibangunnya dengan modal tiga karyawan.
Sebelumnya, ia sempat mencoba usaha dagang di pasar. Hanya saja, merasa kurang cocok. Hasilnya pun tak maksimal.
Sejak saat itu, dia banting setir. Ia mulai fokus di usaha jasa kontruksi. Lag-lagi, lewat usaha jasa konstruksi ini, ia hampir gulung tikar akibat krisis ekonomi melanda Indonesia pada 1998. Sebagai imbas, rumahnya terpaksa dijual untuk melunasi utang-utangnya ke klien bisnis.

Rupanya, kejadian tersebut memberinya pelajaran besar. Ia mulai usaha lagi dari nol. Alhamdulillah, kini dia telah menjadi Direktur Utama PT Pulmon (Pulau Lemon). Perusahaan jasa konstruksi terbesar di Papua Barat dengan mempekerjakan 300 karyawan.

Meski tak tamat SMA, bukanlah halangan baginya melahirkan ide bisnis. Terbukti, PT Pulmon kini menggurita dan punya dua anak perusahaan. Namanya, PT Irman Tiara Putra dan PT Manokwari Bangun Pratama. Dengan divisi enam usaha dari konstruksi, developer, hingga transportasi laut.

Terkait kehadirannya di PSBM, bukanlah hal baru. “Sejak aktif di KKSS (Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan) enam tahun silam, saya tak pernah absen ikut PSBM. Meski lahir dan besar di Manokwari tapi saya tak akan lupa tanah asal leluhur saya. Malah kadang tiap minggu saya ke Gowa,” katanya ramah. (*)

Click to comment
To Top