Muhaimin Minta AHWA Ditentukan Peserta Muktamar – FAJAR.co.id

FAJAR.co.id

Nasional

Muhaimin Minta AHWA Ditentukan Peserta Muktamar

FAJARONLINE, JOMBANG – Polemik tentang konsep ahlul halli wal aqdi (AHWA) atau musyawarah oleh sembilan panutan warga Nahdlatul Ulama (NU) dalam muktamar untuk memilih rais aam syuriah di organisasi islam terbesar di Indonesia itu terus bergulir. Pro dan kontra mengiringi penerapan AHWA untuk memilih posisi tertinggi di NU itu.

Namun, Ketua Umum DPP PKB Muhaimin Iskandar punya pandangan sendiri. Menurutnya, sebaiknya penentuan konsep pemilihan pimpinan NU itu ditentukan peserta muktamar.

“Intinya kami serahkan sepenuhnya pada proses muktamar,” kata Muhaimin di Pondok Pesantren Maba’ul Ma’arif, Denanyar, Jombang, Jawa Timur, Sabtu (1/8).

Hanya saja pria yang akrab disapa dengan panggilan Cak Imin itu mengingatkan bahwa konsep pemilihan atau voting dalam mencari pemimpin sudah tidak ideal untuk di terapkan di NU. Bahkan, partai politik pun sebisa mungkin tidak melalui voting dalam pengambilan keputusan.

“Partai politik saja sudah tobat menggunakan cara voting. Voting itu tidak selalu menghasilkan yang terbaik. Bagusnya musyawarah. Itu (AHWA) diusulkan agar NU jadi contoh,” tegasnya.

Keputusan penerapan sistem AHWA itu merupakan kesepakatan Musyawarah Nasional Alim Ulama NU pada pertengahan Juni lalu. Berdasarkan kesepakatan itu, AHWA terdiri dari 9 orang dalam muktamar nanti. Saat muktamar, setiap PWNU dan PCNU dari seluruh Indonesia mengusulkan 9 nama yang akan duduk diahlul halli wal aqdi.

Selanjutnya, nama-nama yang masuk berdasarkan usulan PWNU dan PCNU itu akan dibuat peringkatnya. Sembilan nama dengan tingkat dukungan terbanyak akan dipilih untuk duduk di AHWA.

Nantinya, AHWA akan bermusyawarah untuk memilih rais aam syuriah. Setiap anggota AHWA juga memiliki hak untuk memilih dan dipilih sebagai rais aam syuriah. Namun, AHWA juga dimungkinkan memilih nama di luar mereka sebagai rais aam syuriah.

Hanya saja penerapan konsep AHWA itu jadi polemik. Sebab, hal itu diputuskan bukan dalam muktamar namun justru dalam Munas Alim Ulama NU.(fat/jpnn)

To Top