Aisyiyah Berharap Perempuan Tetap Diakomodir – FAJAR.co.id

FAJAR.co.id

Makassar

Aisyiyah Berharap Perempuan Tetap Diakomodir

FAJARONLINE, MAKASSAR — Hasil perhitungan sementara calon formatur Pimpinan Pusat Muhammadiyah Periode 2015-2020 sudah dapat terakses secara online melalui peritungan elektronik. Meskipun belum secara resmi diumumkan, nama-nama yang tersaring dari 82 menjadi 39 calon sudah beredar secara otomatis. Harus disyukuri bahwa agenda pemilihan di sidang Tanwir Muhammadiyah berjalan dengan tertib dan lancar serta dinamis dengan hasil yang terakses secara meluas dengan sistem online.

Sayangnya dari daftar nama 39 Calon Pimpinan tersebut tidak satupun nama perempuan yang lolos, padahal ada nama-nama kader terbaik Muhammadiyah dari unsur perempuan seperti Dra. Hj. Siti Noordjannah Djohantini, MM. M. Si, Rahmawati Husein, Ph. D, Dr. Hj. Isnawati Rais, MA dan Dra. Dyah Siti Nuraini.

Norma Sari, Ketum PP Nasyiatul Aisyiyah mengatakan, realitanya bahwa semua bidang garap dakwah Muhammadiyah tetap perlu perspektif perempuan dan anak. Muhammadiyah juga tetap akan lebih ramah terhadap isu perempuan dan anak jika dalam jajaran kepemimpinannya ada unsur perempuan. Sejalan dengan tema Muktamar, Gerakan pencerahan merupakan praksis Islam yang berkemajuan untuk membebaskan, memberdayakan, dan memajukan kehidupan.

“Gerakan ini juga berkomitmen untuk mengembangkan relasi sosial yang berkeadilan tanpa diskriminasi, memuliakan martabat manusia laki-laki dan perempuan,” ujar Norma melalui siaran pers-nya

Ia melanjutkan, kenyataannya ladang dakwah Muhammadiyah di bumi Indonesia maupun belahan dunia lainnya masih diwarnai dengan kualitas hidup perempuan dan anak yang masih sangat perlu ditingkatkan, dengan segala problema yang menjerat mereka.

Harapan masuknya unsur perempuan dalam kepemimpinan inti di Muhammadiyah samasekali tidak mengerdilkan arti dari kiprah gerakan sayap perempuan ‘Aisyiyah dan Nasyiatul Aisyiyah.

Adalah kemajuan yang sangat positif bahwa sejak Muktamar Muhammadiyah ke 46 di Yogyakarta, salah satu unsur ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah adalah Ketua Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah secara ex officio. Hal ini mestinya dilanjutkan dengan tetap adanya unsur perempuan di luar ex officio tersebut. Karena dalam sejarah Muhammadiyah perempuan pernah masuk dalam jajaran pimpinan seperti Ibu Siti Baroroh Baried.

“Kiranya harapan ini tidak berlebihan mengingat sejak awal didirikan organisasi ini secara prinsip sangat mendorong kemajuan kaum perempuan. Muhammadiyah selama ini juga mendorong dan mensupport penuh perempuan untuk berkiprah lebih luas mengisi posisi jabatan publik. Perempuan adalah mitra dalam Muhammadiyah, bukan kompetitor apalagi sekedar kanca wingking,” paparnaya.

Harapan untuk Muktamar kali ini adalah bagaimana 13 pimpinan yang terpilih nanti tetap mengakomodir beberapa perempuan dalam unsur inti kepemimpinan Muhammadiyah. Sekali lagi bukan memaksakan keberadaan perempuan, tetapi agar Gerakan Berkemajuan semakin dekat dengan cita-cita yang dicapai salah satunya soal perempuan dan anak. (iad)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top