Halal Bi Halal Masyarakat Muna Diwarnai Dua Versi – FAJAR.co.id

FAJAR.co.id

exciting-banten
Ragam

Halal Bi Halal Masyarakat Muna Diwarnai Dua Versi

FAJARONLONE, JAKARTA – Dalam rangka mempererat silaturahim sekaligus masih dalam suasana bulan Syawal, masyarakat asal Kabupaten Muna yang berada dan bersomisili di Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi (Jabodetabek), menggekar halal bi halal.

Namun acara yang berlangsung pada Minggu (2/8) itu diwarnai dengan dua versi tempat dan penyelenggara halal bi halal. Forum Sesepuh Masyarakat Muna (Forsemma) menggelar acara di Gedung Panti Sosial, Tanjung Priok, Jakarta Utara sedangkan Kerukunan Keluarga Masyarakat Muna (KKMM) menggelar acara di Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta Selatan.

Sontak dengan adanya dua versi ini membuat kalangan sesepuh atau para orang-orang tua masyrakat Muna di Jabodetabek geram. Salah satunya Ketua Forsemma Laode Maulo. Ia menjelaskan bahwa KKMM sebenarnya tidak ada, yang ada hanyalah Ikatan Keluarga Masyarakat Muna (IKMM). Tetapi oleh Laode Pidana Bolombo dirubah namanya menjadi Kerukunan Keluarga Masyarakat Muna (KKMM) dan diketui oleh Laode Ahmad Pidana sendiri.

“Apa yang dilakukan Laode Ahmad Pidana adalah bentuk tidak adanya penghargaan kepada jasa para penggagas dan pendiri organisasi ini sejak tahun 1967, serta terhadap sesepuh dan tokoh masyarakat muna,” tegasnya.

Apalagi, lanjut dia bahwa perubahan nama organisasi telah melanggar AD/ART sebagaimana telah diamanatkan atau direkomendasikan dalam Mubes ke-6 tanggal 15 Maret 2015 di TMII. “Perubahan nama tersebut tidak sesuai dengan mekanisme organisasi. Dan Forse tidak mengakui kepemimpinan Laode Ahmad Pidana,” ujarnya.

Adanya dua versi halal bi halal ini juga dibenarkan sekretaris pantia halal bi halal versi Priok, Abu Umaya. Namun dihadapan masyarakat Muna yang hadir di gedung Panti Sosial siang itu, ia mengatakan bahwa yanh mengadakan halal bi halal di TMII itu juga masyarakat Muna tapi lebih pada anak-anak muda.

“Yang di TMII itu orang muna juga kayak kita tapi mereka anak-anak muda,” katanya.

Adanya dua versi ini sempat membingungkan para undangan. Salah satunya Ketua Kerukunan Keluarga Sulawesi Tenggara, Djeni Hasmar. Ia mengaku mendapat dua undangan yakni dari Priok dan dari TMII. Namun akhirnya mantan anggota DPR RI ini lebih memilih menghadiri acara di Priok.

“Saya bingung kenapa bisa ada dua undangan halal bi halal diwaktu yg bersamaan dan sama-sama dari masyarakat Muna. Tapi saya lebih memilih menghadiru acara di Priok ini karena di sini yang undang para sesepuh, yang tidak lain merupakan oranh-orany yang mempertahankan eksistensi IKMM,” ungkapnya.

Namun, Djeni menyayangkan adanya dua versi halal bi halal ini. Menurutnya halal bi halal yang tidak lain merupakan saranan mempererat silaturahin justru membuat adanya perpecahan. “Saya harap masalah inu bisa diselesaikan dengan baik demi organisasi bukan demi kepentingan pribadi,” katanya.

Pada acara di Priok ini sendiri selain Djeni Hasmar, turut hadir mantan Bupati Buton dua periode Sjafei Kahar dan imam besar Masjid Istiqlal KH Ali Hanafi.

loading...
Click to comment
To Top