Said Aqil Diam-diam Kerjasama dengan Kampus Syiah di Iran, NU Marah – FAJAR.co.id

FAJAR.co.id

exciting-banten
Ragam

Said Aqil Diam-diam Kerjasama dengan Kampus Syiah di Iran, NU Marah

Nahdlatul Ulama (NU) menjadi pasar utama bagi paham seperti Syiah, Wahabi, Hizbut Tahrir (HT) dan Islam Liberal (Islib). Artinya, NU menjadi rebutan atau lahan yang dijadikan sasaran dakwah mereka.

“Karena NU paling besar maka Syiah, Wahabi, HTI dan Islam Liberal itu berusaha mendekati NU,” kata Wakil Ketua Lembaga Bahtsul Masail PBNU, KH. Cholil Nafis, PhD dalam keterangannya, Selasa (4/8).

Strategi yang dipakai mereka beragam. Untuk Syiah, lanjut Kiai Cholil Nafis, memakai strategi seolah-olah ajaran Syiah dan NU itu dekat, tak ada perbedaan.

“Padahal secara ushul (aqidah/teologi) Syiah dan NU jelas berbeda,” katanya.

Nah untuk Wahabi, lanjut Kiai Cholil Nafis, menggunakan strategi dengan cara menyalahkan ajaran NU. Begitu juga HTI dan sebagainya.

Dia melanjutkan, sekarang beberapa pimpinan NU, baik di PBNU maupun di daerah banyak yang tertarik dengan ajaran Syiah, Wahabi dan HTI. “Saya lihat di Jawa Barat, di Jawa Tengah, di Jawa Timur sudah ada semua,” katanya.

Ditekankan Kiai Cholil Nafis, kalau ketertarikan pengurus NU kepada Syiah, Wahabi, HTI dan Islam Liberal ini terus terjadi, maka tak mustahil NU nanti akan habis. Apalagi Syiah, Wahabi, dan lainnya memang punya target untuk menghabisi ajaran NU.

“Mereka menarget tahun 2050 NU akan habis,” katanya.

Ketua MUI Pusat Bidang Dakwah ini bahkan menuturkan bahwa Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siradj membuat nota kesepahaman (MoU) dengan Universitas al-Musthafa al-’Alamiyah, Qom, Iran. Qom adalah sebuah kota yang merupakan ibukota Provinsi Qom di Iran. Qom menjadi sebuah kota suci bagi penganut Islam Syi’ah. Kota ini merupakan pusat pendidikan Syi’ah terbesar di dunia.

Parahnya, dokumen kerjasama di bidang pendidikan, riset dan kebudayaan itu dilakukan tanpa sepengetahuan dan persetujuan Rais Am Syuriah PBNU yang saat itu dijabat KHA Sahal Mahfudz. Dokumen tertanggal 27 Oktober 2011 itu dibuat dalam dua bahasa, Persia dan Indonesia.

“Saya kopi yang berbahasa Indonesia karena saya gak begitu paham bahasa Persia,” katanya.

Kiai Cholil berharap Kiai Said tak mengelak perihal adanya kerja sama itu. Sebab, dokumen resminya kini sudah berada di tangan Kiai Cholil.

“Di PBNU ada, di Universitas al-Mustafa juga ada. Saya kesana mewakili UI dalam urusan akademik,” tegas dosen Universitas Indonesia (UI) itu.

Menurut dia, kerjasama itu berlaku selama 4 tahun. “Kalau tak ada pembatalan, kerjasama itu akan terus dan diperpanjang dengan sendirinya,” katanya.

MoU PBNU dengan Universitas al-Musthafa al-Alamiyah ini sempat heboh karena Rais Am PBNU yang saat itu dijabat KHA Sahal Mahfudz tak mengatahui MoU tersebut.

Hingga berita ini diturunkan redaksi (RMOL.co/Fajar Grup) masih berupaya mengkonfirmasi pihak-pihak terkait yang disebutkan dalam pemberitaan. [sam/rmol]

loading...
Click to comment
Ragam

Said Aqil Diam-diam Kerjasama dengan Kampus Syiah di Iran, NU Marah

Nahdlatul Ulama (NU) menjadi pasar utama bagi paham seperti Syiah, Wahabi, Hizbut Tahrir (HT) dan Islam Liberal (Islib). Artinya, NU menjadi rebutan atau lahan yang dijadikan sasaran dakwah mereka.

“Karena NU paling besar maka Syiah, Wahabi, HTI dan Islam Liberal itu berusaha mendekati NU,” kata Wakil Ketua Lembaga Bahtsul Masail PBNU, KH. Cholil Nafis, PhD dalam keterangannya, Selasa (4/8).

Strategi yang dipakai mereka beragam. Untuk Syiah, lanjut Kiai Cholil Nafis, memakai strategi seolah-olah ajaran Syiah dan NU itu dekat, tak ada perbedaan.

“Padahal secara ushul (aqidah/teologi) Syiah dan NU jelas berbeda,” katanya.

Nah untuk Wahabi, lanjut Kiai Cholil Nafis, menggunakan strategi dengan cara menyalahkan ajaran NU. Begitu juga HTI dan sebagainya.

Dia melanjutkan, sekarang beberapa pimpinan NU, baik di PBNU maupun di daerah banyak yang tertarik dengan ajaran Syiah, Wahabi dan HTI. “Saya lihat di Jawa Barat, di Jawa Tengah, di Jawa Timur sudah ada semua,” katanya.

Ditekankan Kiai Cholil Nafis, kalau ketertarikan pengurus NU kepada Syiah, Wahabi, HTI dan Islam Liberal ini terus terjadi, maka tak mustahil NU nanti akan habis. Apalagi Syiah, Wahabi, dan lainnya memang punya target untuk menghabisi ajaran NU.

“Mereka menarget tahun 2050 NU akan habis,” katanya.

Ketua MUI Pusat Bidang Dakwah ini bahkan menuturkan bahwa Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siradj membuat nota kesepahaman (MoU) dengan Universitas al-Musthafa al-’Alamiyah, Qom, Iran. Qom adalah sebuah kota yang merupakan ibukota Provinsi Qom di Iran. Qom menjadi sebuah kota suci bagi penganut Islam Syi’ah. Kota ini merupakan pusat pendidikan Syi’ah terbesar di dunia.

Parahnya, dokumen kerjasama di bidang pendidikan, riset dan kebudayaan itu dilakukan tanpa sepengetahuan dan persetujuan Rais Am Syuriah PBNU yang saat itu dijabat KHA Sahal Mahfudz. Dokumen tertanggal 27 Oktober 2011 itu dibuat dalam dua bahasa, Persia dan Indonesia.

“Saya kopi yang berbahasa Indonesia karena saya gak begitu paham bahasa Persia,” katanya.

Kiai Cholil berharap Kiai Said tak mengelak perihal adanya kerja sama itu. Sebab, dokumen resminya kini sudah berada di tangan Kiai Cholil.

“Di PBNU ada, di Universitas al-Mustafa juga ada. Saya kesana mewakili UI dalam urusan akademik,” tegas dosen Universitas Indonesia (UI) itu.

Menurut dia, kerjasama itu berlaku selama 4 tahun. “Kalau tak ada pembatalan, kerjasama itu akan terus dan diperpanjang dengan sendirinya,” katanya.

MoU PBNU dengan Universitas al-Musthafa al-Alamiyah ini sempat heboh karena Rais Am PBNU yang saat itu dijabat KHA Sahal Mahfudz tak mengatahui MoU tersebut.

Hingga berita ini diturunkan redaksi (RMOL.co/Fajar Grup) masih berupaya mengkonfirmasi pihak-pihak terkait yang disebutkan dalam pemberitaan. [sam/rmol]

loading...
Click to comment
To Top