Astaga…!! Ekonomi Indonesia Kembali Melambat – FAJAR.co.id

FAJAR.co.id

Ekonomi & Bisnis

Astaga…!! Ekonomi Indonesia Kembali Melambat

JAKARTA-Ekonomi Indonesia kembali mengalami perlambatan di kuartal II tahun ini. Pertumbuhan ekonomi dibawah kendali Menko Perekonomian sedikit melambat dibandingkan kuartal I sebesar 4,76%.

Jika dibandingkan dengan kuartal II-2014, ekonomi Indonesia juga masih melambat. Dalam periode April-Juni 2014 lalu ekonomi Indonesia tumbuh 5,12 persen.

“Secara kumulatif per semester I-2015 tumbuh 4,7 persen dibandingkan dengan semester I-2014,” ujar Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suryamin saat berbincang dengan wartawan di kantornya, Rabu (5/8).

Menurut Suryamin, ekonomi Indonesia sudah melambat sejak 2013 lalu. Pada kuartal II-2013 ekonomi RI tumbuh melambat jadi 5,18 persen dilanjutkan dengan kuartal II-2014 kembali turun jadi hanya 5,12 persen, dan tahun ini jadi 4,67 persen.

“Pertumbuhan ekonomi kuartal II-2015 ini masih dalam batas prediksi analis sebesar 4,6 hingga 4,7 persen,”kata Suryamin

Lebih lanjut, Suryamin pun membeberkan jika pertumbuhan yang melambat ini tak lepas dari  lesunya ekonomi dunia dan negara-negara mitra dagang Indonesia.

“Perekonomian global yang dipantau bahwa kuartal II-2015 diperkirakan melambat di beberapa negara,”beber Suryamin

Pertumbuhan ekonomi negara mitra dagang yang melambat, terutama pada negara dengan pangsa pasar ekspor Indonesia yang terbesar. Seperti ekonomi Amerika Serikat (AS) hanya tumbuh 2,3 persen di kuartal II dari 2,9 persen di kuartal I. Sementara ekonomi China stagnan di 7 persen.

Begitupun Singapura yang mengalami pertumbuhan hanya 1,7 persen di kuartal II. Padahal di kuartal I pertumbuhan negeri jiran itu 2,1 persen. Sementara ekonomi Inggris dan Korea Selatan hanya tumbuh di bawah 3 persen.

Selain itu, kata Suryamin melambatnya ekonomi Indonesia juga dipengaruhi harga komoditas-komoditas yang turun, baik itu migas maupun non migas.

“Misalnya gandum, jagung, beras, kedelai, daging, ikan, dan gula cenderung penurunan. Kemudian batu bara, biji besi, nikel, dan timah juga menurun,” tambah Suryamin

Selain itu, jika dilihat dari harga minyak dunia, kata Suryamin, memang mengalami kenaikan 19,07 persen secara kuartalan, tapi secara tahunan masih anjlok 43,3 persen.

“Memang naik sedikit beberapa waktu terakhir tapi diband‎ingkan tahun lalu masih jauh,” aku Suryamin

Namun demikian, Suryamin membantah jika perlambatan ini artinya Indonesia sedang alami resesi.

“Resesi itu kalau dua kuartalan sudah mengalami penurunan negatif. Minimal dua kuartal. Dalam dua kuartal terakhir, ekonomi Indonesia masih bisa tumbuh di atas 4 persen. Kinerja ekonomi ini masih jauh lebih tinggi dibandingkan negara-negara maju yang hanya tumbuh maksimal 1 persen,” papar Suryamin.

Terakhir kali Indonesia masuk masa resesi ekonomi adalah pada krisis moneter 1998. Suryamin mengatakan, pada saat itu ekonomi Indonesia sempat minus hingga 13,9 persen.

“Kalau sekarang kan masih 4,67 persen. Jepang itu masih 1 persen sekian tapi tidak ngomong resesi. Jadi 4 persen itu dibandingkan negara lain masih lebih baik,” demikian Suryamin.[dem/rmol]

Click to comment
To Top