Karang Merah dan Togas Ancam Gantikan Trend Batu Akik – FAJAR.co.id

FAJAR.co.id

Hiburan

Karang Merah dan Togas Ancam Gantikan Trend Batu Akik

SALAKAN – Trend batu akik lambat laun mulai ditinggalkan masyarakat. Meski disisi lain masih ada sebagain orang yang masih berburu batu akik, baik untuk dikoleksi bahkan dijual. Khusus di daerah Bangkep trend batu akik sudah tidak seheboh dulu.

Jika dulunya para penggila batu akik lebih fokus mengoleksi berbagai jenis batu akik dari hasil pertambangan di tanah dan pegunungan, kini mereka mulai melirik batu akik yang diambil dari dasar laut.

Karang merah atau yang biasa disebut warga Bangkep dengan nama Marjan, menjadi buruan utama para penghobi batu akik, untuk dijadikan aksesoris cincin dan liontin.  Karena unik dan memiliki corak warna yang menarik, aksesoris dari karang merah  tidak hanya diminati oleh penggila batu akik lokal di Bangkep, namun mereka yang berasal dari luar daerah, juga banyak yang memburunya.

Pengambilan karang merah belakangan ramai dilakukan warga Bangkep. Itu karena tingginya permintaan pasar. Entah ini berkah atau sebaliknya, tetapi bagi warga tingginya permintaan penggila batu akik terhadap karang merah telah mendatangkan keuntungan.

Secara langsung tentunya, pemburuan karang merah dari habitatnya tersebut, telah berdampak negatif pada keberadaan biota laut. Sebab, kerusakan terumbu karang sudah pasti akan semakin parah dengan aktifitas perburuan karang merah untuk kepentingan pembuatan aksesoris ini.

Selain karang merah, togas atau akar bahar, yang merupakan salah satu jenis tumbuhan laut yang banyak terdapat di perairan Bangkep, ikut diburu oleh masyarakat. Sama halnya dengan karang merah, togas juga diburu untuk dijadikan sebagai bahan dasar pembuatan aksesoris berupa gelang.

Pemerharti lingkungan, Sarli, kepada wartawan akhir pekan kemarin, berharap agar pemerintah tidak membiarkan hal tersebut terus terjadi.  Upaya nyata menghentikan pengambilan karang merah dan togas  harus segera dilakukan demi menyelamatkan kelestarian alam bawah laut di Bangkep.

Menurut Sarli, kerusakan terumbuk karang di Bangkep sudah sangat memprihatinkan. Penyebab utamanya adalah pengeboman ikan yang dilakukan oleh nelayan. Pengambilan karang merah dan togas untuk kepentingan pembuatan aksesoris, adalah penyebab baru yang akan semakin membuat kerusakan terumbuk karang di Bangkep.

“Pemerintah harus mengeluarkan larangan perburuan karang merah dan togas. Ini upaya nyata untuk menyelamatkan terumbuk karang di perairan Bangkep,” saran Sarli seperti dilansir Indopos (Fajar Onling Group) . (wan)

loading...
Click to comment
Hiburan

Karang Merah dan Togas Ancam Gantikan Trend Batu Akik

SALAKAN – Trend batu akik lambat laun mulai ditinggalkan masyarakat. Meski disisi lain masih ada sebagain orang yang masih berburu batu akik, baik untuk dikoleksi bahkan dijual. Khusus di daerah Bangkep trend batu akik sudah tidak seheboh dulu.

Jika dulunya para penggila batu akik lebih fokus mengoleksi berbagai jenis batu akik dari hasil pertambangan di tanah dan pegunungan, kini mereka mulai melirik batu akik yang diambil dari dasar laut.

Karang merah atau yang biasa disebut warga Bangkep dengan nama Marjan, menjadi buruan utama para penghobi batu akik, untuk dijadikan aksesoris cincin dan liontin.  Karena unik dan memiliki corak warna yang menarik, aksesoris dari karang merah  tidak hanya diminati oleh penggila batu akik lokal di Bangkep, namun mereka yang berasal dari luar daerah, juga banyak yang memburunya.

Pengambilan karang merah belakangan ramai dilakukan warga Bangkep. Itu karena tingginya permintaan pasar. Entah ini berkah atau sebaliknya, tetapi bagi warga tingginya permintaan penggila batu akik terhadap karang merah telah mendatangkan keuntungan.

Secara langsung tentunya, pemburuan karang merah dari habitatnya tersebut, telah berdampak negatif pada keberadaan biota laut. Sebab, kerusakan terumbu karang sudah pasti akan semakin parah dengan aktifitas perburuan karang merah untuk kepentingan pembuatan aksesoris ini.

Selain karang merah, togas atau akar bahar, yang merupakan salah satu jenis tumbuhan laut yang banyak terdapat di perairan Bangkep, ikut diburu oleh masyarakat. Sama halnya dengan karang merah, togas juga diburu untuk dijadikan sebagai bahan dasar pembuatan aksesoris berupa gelang.

Pemerharti lingkungan, Sarli, kepada wartawan akhir pekan kemarin, berharap agar pemerintah tidak membiarkan hal tersebut terus terjadi.  Upaya nyata menghentikan pengambilan karang merah dan togas  harus segera dilakukan demi menyelamatkan kelestarian alam bawah laut di Bangkep.

Menurut Sarli, kerusakan terumbuk karang di Bangkep sudah sangat memprihatinkan. Penyebab utamanya adalah pengeboman ikan yang dilakukan oleh nelayan. Pengambilan karang merah dan togas untuk kepentingan pembuatan aksesoris, adalah penyebab baru yang akan semakin membuat kerusakan terumbuk karang di Bangkep.

“Pemerintah harus mengeluarkan larangan perburuan karang merah dan togas. Ini upaya nyata untuk menyelamatkan terumbuk karang di perairan Bangkep,” saran Sarli seperti dilansir Indopos (Fajar Onling Group) . (wan)

loading...
Click to comment
Hiburan

Karang Merah dan Togas Ancam Gantikan Trend Batu Akik

SALAKAN – Trend batu akik lambat laun mulai ditinggalkan masyarakat. Meski disisi lain masih ada sebagain orang yang masih berburu batu akik, baik untuk dikoleksi bahkan dijual. Khusus di daerah Bangkep trend batu akik sudah tidak seheboh dulu.

Jika dulunya para penggila batu akik lebih fokus mengoleksi berbagai jenis batu akik dari hasil pertambangan di tanah dan pegunungan, kini mereka mulai melirik batu akik yang diambil dari dasar laut.

Karang merah atau yang biasa disebut warga Bangkep dengan nama Marjan, menjadi buruan utama para penghobi batu akik, untuk dijadikan aksesoris cincin dan liontin.  Karena unik dan memiliki corak warna yang menarik, aksesoris dari karang merah  tidak hanya diminati oleh penggila batu akik lokal di Bangkep, namun mereka yang berasal dari luar daerah, juga banyak yang memburunya.

Pengambilan karang merah belakangan ramai dilakukan warga Bangkep. Itu karena tingginya permintaan pasar. Entah ini berkah atau sebaliknya, tetapi bagi warga tingginya permintaan penggila batu akik terhadap karang merah telah mendatangkan keuntungan.

Secara langsung tentunya, pemburuan karang merah dari habitatnya tersebut, telah berdampak negatif pada keberadaan biota laut. Sebab, kerusakan terumbu karang sudah pasti akan semakin parah dengan aktifitas perburuan karang merah untuk kepentingan pembuatan aksesoris ini.

Selain karang merah, togas atau akar bahar, yang merupakan salah satu jenis tumbuhan laut yang banyak terdapat di perairan Bangkep, ikut diburu oleh masyarakat. Sama halnya dengan karang merah, togas juga diburu untuk dijadikan sebagai bahan dasar pembuatan aksesoris berupa gelang.

Pemerharti lingkungan, Sarli, kepada wartawan akhir pekan kemarin, berharap agar pemerintah tidak membiarkan hal tersebut terus terjadi.  Upaya nyata menghentikan pengambilan karang merah dan togas  harus segera dilakukan demi menyelamatkan kelestarian alam bawah laut di Bangkep.

Menurut Sarli, kerusakan terumbuk karang di Bangkep sudah sangat memprihatinkan. Penyebab utamanya adalah pengeboman ikan yang dilakukan oleh nelayan. Pengambilan karang merah dan togas untuk kepentingan pembuatan aksesoris, adalah penyebab baru yang akan semakin membuat kerusakan terumbuk karang di Bangkep.

“Pemerintah harus mengeluarkan larangan perburuan karang merah dan togas. Ini upaya nyata untuk menyelamatkan terumbuk karang di perairan Bangkep,” saran Sarli seperti dilansir Indopos (Fajar Onling Group) . (wan)

loading...
Click to comment
To Top