Pemahaman 4 Pilar Rendah, Mudah Terjadi Konflik Horizontal – FAJAR.co.id

FAJAR.co.id

exciting-banten
Ragam

Pemahaman 4 Pilar Rendah, Mudah Terjadi Konflik Horizontal

JAKARTA—Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) terus melakukan sosialisasi empat pilar kebangsaan. Senin (28/7) lalu, bertempat di aula Gunung Mutis, Soe, Kabupaten TTS, anggota MPR RI, Abraham Paul Liyanto menggelar sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan dan Kehidupan Berbangsa dan Bernegara.

Sosisalisasi itu diikuti 103 orang yang berasal dari pengurus PGRI, para kepala sekolah, pejabat Dinas Pendidikan Kebudayaan, dan para guru di Kota Soe, TTS.

Sosialisasi tersebut, dipimpin oleh Wakil Bupati Kabupaten TTS, Obet Naitboho dan dilanjutkan dengan penyampaian materi sosialisasi empat Pilar kebangsaan. Setelah penyampai materi, dilanjutkan dengan diskusi dengan seluruh peserta.

Wakil Bupati TTS, Obet Naitboho, dalam sambutannya mengemukakan, Empat pilar kebangsaan, Pancasila, UUD 1945, NKRI dan Bhineka Tunggal Ika sangat penting untuk dijadikan pegangan, dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Dikatakan, akibat rendahnya pemahaman terkait empat pilar kebangsaan, muncul berbagai peristiwa dan konflik horizontal, salah satunya peristiwa di Tolikara. Hal ini perlu diwaspadai. Hal ini terjadi akibat ketidakpaham warga negara tentang apa yang dimaksudkan dengan NKRI.

Sementara itu, anggota MPR RI, Abraham Paul Liyanto, dalam sosialisasinya mengemukakan, Empat Pilar Kebangsaan, perlu dimaknai.

Disebutkan, Pancasila telah menjadi ideologi bangsa. Oleh karena itu setiap warga negara harus memegang teguh ideologi tersebut. “Mari kita pegang teguh Pancasila sebagai pegangan hidup kita,” papar Wakil Ketua Komite III DPD RI itu.

Tidak saja itu, kita juga perlu mengedepankan UUD 1945, Bhineka Tunggal Ika, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Dengan begitu, negara Indonesia akan tetap kokoh, dan makin kuat pada masa mendatang.

Bernadina Mega, salah satu guru Guru SMPN II Soe, dalam diskusi berharap agar negara mengelola potensi daerah untuk masyarakat. Dia mencontohkan, Pantai Kolbano, Timor ternyata mengandung potensi minyak bumi di Timor, tetapi isu ini sekarang lenyap begitu saja.

Kedepan hendaknya dikelola potensi daerah tersebut, demi kesejahteraan masyarakat. Bila kesejahteraan masyarakat, maka negara akan semakin kuat dan kokoh. (lok/fmc)

loading...
Click to comment
To Top