Rupiah Terus Melemah, Picu PHK Besar-Besaran – FAJAR.co.id

FAJAR.co.id

Ragam

Rupiah Terus Melemah, Picu PHK Besar-Besaran

JAKARTA – Kondisi Ekonomi Indonesia masih terus berada dalam level terendah. Hal ini bisa berdampak pada banyak pelaku usaha yang terkena pelemahan rupiah. Pasalnya, masih banyak industry nasional yang ketergantungan terhadap bahan baku impor. Begitu yang diungkapkan Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, Yugi Prayanto.

“Seperti industri tekstil atau industri baja. Meskipun mereka ekpor tapi bahan baku banyak juga yang harus impor,” tegasnya.

Olehnya itu, jika kondisi seperti ini terus dibiarkan, maka pelemahan rupiah ini akan membuat biaya operasional perusahaan-perusahaan yang ketergantungan impornya tinggi semakin tertekan. Dikhawatirkan hal itu bisa membuat perusahaan tersebut gulung tikar.

“Kalau itu terjadi maka bisa memicu PHK (pemutusan hubungan kerja) besar-besaran. Kita tidak ingin itu terjadi,” tukasnya.

Dia menilai rupiah terus melemah adalah karena faktor global. Itu terjadi karena Federal Reserve (The Fed) Amerika Serikat berencana menaikkan suku bunganya. Termasuk karena Yuan Tiongkok sedang melemah dan pasar modal Tiongkok merugi tajam dalam tempo singkat. “Itu faktor eksternal, kita tidak bisa ikut campur,” sebutnya.

Sebab, berdasar disekusi dengan Gubernur Bank Indonesia, lanjut Yugi, fundamental ekonomi nasional pada dasarnya masih cukup bagus. Namun selain faktor eksternal, ada juga faktor internal yang menyebabkan rupiah melemah.

“Kebutuhan dolar sedang meninggi di dalam negeri karena banyak yang lebih memilih dolar AS. Untuk kebutuhan proyek atau bayar utang luar negeri,” katanya.

[NEXT-FAJAR]

Satu-satunya yang bisa dilakukan saat ini adalah mengurangi pengunaan dolar dan meningkatkan ekspor. “Pemerintah perlu membantui dan memberikan insentif pada sektor-sektor yang mendorong ekspor. Beri permodalan kalau perlu. Kita sebagai warga negara juga jangan beli barang impor. Pelaku usaha juga sudah banyak yang mengurangi pemakaian dolar dan bahan baku impor,” sebutnya.

Ketua Umum Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API), Ade Sudarjat menambahkan, sekitar 40 persen industri tekstil fokus menggarap pasar domestik. Mereka sangat terpukul akibat melemahnya rupiah.

“Karena mayoritas industri tersebut memiliki kandungan impor yang terbilang tinggi di atas 50 persen. Seperti pasokan bahan baku, bahan baku penolong, pelembut pakaian dan pembersih bakteri yang biasa diimpor dari Jepang, Eropa dan Korea,” cetusnya.

Terlebih, lanjut Ade, daya beli masyarakat terhadap tekstil yang termasuk kebutuhan sekunder, kian menurun. Pelaku usaha akhirnya tidak berani menaikkan harga. Sebab itu sama saja mematikan daya beli masyarakat yang sudah melemah.

“Susah kalau harga mau dinaikkan. Masyarakat beli kebutuhan primer seperti beras saja sudah ketar-ketir. Ini kalau harga tekstil naik, bisa-bisa tidak ada yang beli,” tambahnya. (dee/ken/dim/wir/gen/jpnn)

Click to comment
To Top