Debit Air Sungai Maros Menurun Drastis – FAJAR.co.id

FAJAR.co.id

Makassar

Debit Air Sungai Maros Menurun Drastis

FAJARONLINE,MAROS — Kemarau panjang yang terjadi di seluruh wilayah Sulsel juga berdampak di Maros. Sungai Maros yang selama ini menjadi sumber air bersih di bumi Butta Salewangan, mengalami penuurunan debit air yang drastis.
Direktur Utama PDAM Maros, Abdul Baddar menyebut debit air sungai Maros dihari-hari normal mencapai 2000 liter per detik. Namun pada puncak kemarau ini, debit air turun hingga hanya 100 liter per detik. “Ini mengkhawatirkan, meskipun konsumsi PDAM sendiri hanya kita pakai 60 liter per detik,” jelasnya.
Baddar menyebut, menurunnya debit air itu, selain disebabkan kemarau panjang, juga karena air tertahan di bendungan Lekopancing. Namun demikian, dirinya memprediksi stok air baku masih bisa mencukupi kebutuhan warga Maros hingga satu bulan kedepan. “Jadi pas saat awal musim hujan, hanya saja kebutuhan air dibidang lain belum tentu terjamin,” urainya.
PDAM sendiri mengakui air PDAM biasanya tidak mengalir pada pagi hari di beberapa tempat. Hal itu disebabkan puncak penggunaan air terjadi di pagi hari. “Satu orang menghabiskan 60 liter per hari. Kami himbau agar menghemat, tampung air saat mengalir,” sarannya.
Sementara itu, air irigasi di pelbagai kecamatan telah kering sama sekali. Di Kecamatan Lau misalnya, petani telah berminggu-minggu tidak menikmati air dari irigasi. Akibatnya 300 hektare sawah terancam gagal panen. “Kemarau kali ini membuat petani tidak bisa panen tiga kali setahun. Air irigasi tidak pernah lagi sampai ke sawah-sawah kami,” ujar Camat Lau, Erhan Haris.
Suplay air dari sungai Maros selama ini dibagi oleh PDAM, industri strategis dan pertanian. Namun air minum menjadi prioritas untuk dipenuhi. Industri strategis juga dituntut menciptakan sumber air mandiri agar tidak mengurangi air untuk kebutuhan petani yang kerap dirugikan. (ris)

Click to comment
Makassar

Debit Air Sungai Maros Menurun Drastis

FAJARONLINE,MAROS — Kemarau panjang yang terjadi di seluruh wilayah Sulsel juga berdampak di Maros. Sungai Maros yang selama ini menjadi sumber air bersih di bumi Butta Salewangan, mengalami penuurunan debit air yang drastis.
Direktur Utama PDAM Maros, Abdul Baddar menyebut debit air sungai Maros dihari-hari normal mencapai 2000 liter per detik. Namun pada puncak kemarau ini, debit air turun hingga hanya 100 liter per detik. “Ini mengkhawatirkan, meskipun konsumsi PDAM sendiri hanya kita pakai 60 liter per detik,” jelasnya.
Baddar menyebut, menurunnya debit air itu, selain disebabkan kemarau panjang, juga karena air tertahan di bendungan Lekopancing. Namun demikian, dirinya memprediksi stok air baku masih bisa mencukupi kebutuhan warga Maros hingga satu bulan kedepan. “Jadi pas saat awal musim hujan, hanya saja kebutuhan air dibidang lain belum tentu terjamin,” urainya.
PDAM sendiri mengakui air PDAM biasanya tidak mengalir pada pagi hari di beberapa tempat. Hal itu disebabkan puncak penggunaan air terjadi di pagi hari. “Satu orang menghabiskan 60 liter per hari. Kami himbau agar menghemat, tampung air saat mengalir,” sarannya.
Sementara itu, air irigasi di pelbagai kecamatan telah kering sama sekali. Di Kecamatan Lau misalnya, petani telah berminggu-minggu tidak menikmati air dari irigasi. Akibatnya 300 hektare sawah terancam gagal panen. “Kemarau kali ini membuat petani tidak bisa panen tiga kali setahun. Air irigasi tidak pernah lagi sampai ke sawah-sawah kami,” ujar Camat Lau, Erhan Haris.
Suplay air dari sungai Maros selama ini dibagi oleh PDAM, industri strategis dan pertanian. Namun air minum menjadi prioritas untuk dipenuhi. Industri strategis juga dituntut menciptakan sumber air mandiri agar tidak mengurangi air untuk kebutuhan petani yang kerap dirugikan. (ris)

Click to comment
To Top