KEMERIAHAN MENYAMBUT HUT RI KE-70; Dari Lomba Jembatan Goyang Hingga Panjat Pisang – FAJAR.co.id

FAJAR.co.id

Ragam

KEMERIAHAN MENYAMBUT HUT RI KE-70; Dari Lomba Jembatan Goyang Hingga Panjat Pisang

DEMAK – Sorakan ria bercampur canda tawa mewarnai lomba melewati jembatan goyang yang terbentang di atas Sungai Meong Dukuh Pututan, Desa Sriwulan, Kecamatan Sayung, Kabupaten Demak, Senin (17/8) siang.

Bahan jembatan yang terbuat dari satu batang bambu itu terlumuri pelumas oil yang di ujungnya terdapat beraneka macam hadiah.
Muniroh (39) warga Pututan RT 1, RW 1, Desa Sriwulan peserta lomba melewati jembatan goyang tersebut mengaku senang saat mengikutinya dengan penuh perjuangan.
“Saya sangat senang dan terkesan, karena lomba (jembatan goyang) ini memiliki arti perjuangan untuk mendapatkan hadiah,” kata Muniroh.
Meski sering tercebur di sungai berulang kali saat mengikuti lomba yang digelar Pemerintah Desa Sriwulan, dirinya tetap bersemangat demi mendapatkan hadiah yang disediakan oleh panitia.
Sementara itu Zamroni, SE Pj Kepala Desa Sriwulan kepada Rakyat Jateng saat melihat langsung di lokasi lomba memperingati HUT RI ke-70 tersebut mengaku pihaknya sangat terhibur dengan aksi para ibu yang mengikuti lomba dengan penuh antusias dan sportif.
“Ibu-ibu memang kami libatkan langsung untuk mengikuti lomba jembatan goyang ini, agar sama-sama merasakan perjuangan dalam kebersamaan,” ungkapnya.
Selain itu Zamroni menambahkan, lomba jembatan goyang itu menggambarkan para pahlawan saat berjuang merebut kemerdekaan pada masa penjajahan. Meskipun hujan peluru menggoncang hingga membuat para pahlawan jatuh bangun, akan tetapi mereka tetap bertahan demi kemerdekaan hingga titik darah penghabisan.
Arti terpenting dari perlombaan tersebut, sambung Zamroni, pihaknya ingin memberi pesan kepada warga agar tetap menjaga kebersamaan dalam mencintai tanah air dan menjaga keutuhan NKRI, meski di wilayah desa yang dipimpinnya itu merupakan salah satu desa yang dilanda abrasi berkepanjangan.
Kemeriahan yang sama juga dirasakan ibu-ibu di Desa Pulosari RT 5 RW 2 Kecamatan Karangtengah, Demak. Mereka mengikuti lomba panjat pinang. Kali ini bukan pohon pinang yang harus ditaklukan namun pohon pisang. Batang pisang yang sudah dipotong dan dilumuri oli , digantungkan dengan diberi beberapa hadiah selayaknya lomba panjat pinang.
Para peserta yang berjumlah 25 dan mayoritas kaum hawa harus berjibaku memanjat pohon pisang tersebut dalam waktu 3 menit.
Berulang kali para peserta berusaha untuk sampai dipuncak, tetap saja mereka kembali runtuh kebawah akibat licinnya batang pisang tersebut. Bukan hanya sekali, mungkin sudah puluhan kali mereka berusaha akan tetapi tetap saja masih belum berhasil untuk menggapai puncak.
“Susah manjatnya, tapi seneng,” kata Jasmi (67), salah seorang peserta paling tua.
Menurut salah seorang panitia, Aliya Mulyono, kegiatan panjat pisang ini sengaja digelar untuk memeriahkan pesta kemerdekaan Indonesia di kampungnya.
Lomba panjat pisang itu mengandung sebuah nilai pembelajaran yang dapat kita ambil , bahwa untuk mencapai sebuah keberhasilan hidup tentunya melewati berbagai macam rintangan dan halangan yang kadang membuat kita terjatuh. Kejatuhan tersebut tentunya akan sangat menyakitkan jika dirasakan seorang diri. Namun, jika dalam menjalani kehidupan untuk menggapai kesuksesan dilakukan bersama-sama saling bahu membahu maka ketika salah satu terjatuh akan banyak tangan yang siap membantunya kembali bangkit dan ikut berjuang kembali.
“Kita ingin menumbuhkan semangat kegotong royongan. Dengan semangat kebersamaan kita bisa menggapai puncak atau tujuan,” terangnya. (fis/pit)

To Top