Kelapa Sawit Untuk Massenrempulu? – FAJAR.co.id

FAJAR.co.id

Ekonomi & Bisnis

Kelapa Sawit Untuk Massenrempulu?

PENDAHULUAN

Sawit adalah buah bibir yang cukup banyak dibicarakan oleh Masyarakat di Bumi Massenrempulu saat ini. Mulai kelompok pemuda, aktivis sosial, mahasiswa, intelektual, hingga pengusaha yang merasa punya hubungan darah Massenrempulu seolah ingin terlibat penuh untuk membincangkan terkait rencana Pemerintah Daerah Kabupaten Enrekang membuka lahan perkebunan kelapa sawit di Bumi Massenrempulu. Menurut info yang berkembang Bapak H. Muslimin Bando selaku Kepala Daerah Kabupaten Enrekang akan membuka perkebunan sawit dengan kerja sama Investor Asing asal Negeri Jiran Malaysia.

Oleh kalangan mahasiswa Massenrempulu yang ada di DKI Jakarta dan tergabung dalam Himpunan Mahasiswa Massenrempulu (HIMA MASPUL) Jakarta pun tidak ketinggalan dan telah melakukan serangkaian dialog internal terkait plus minus adanya perkebunan Sawit di tanah leluhur.

Walau dengan bahasa sederhana kelompok intelektual Muda HIMA MASPUL menilai bahwa perlu pengkajian yang lebih luas dan kritis terhadap rencana tersebut di atas. Pada saat bersamaan kita pun berprasangka baik kepada Kepala Daerah, bahwa rencana demikian tidak lain dari konsep dan realisasi pemerataan ekonomi dalam tubuh masyarakat Massenrenpulu.

Dalam forum dialog HIMA MASPUL, Wajah polos mahasiswa Massenrenpulu DKI Jakarta, bertanya secara gambalang, apakah pembukaan Lahan perkebunan kelapa sawit di Kabupaten Enrekang akan berdampak baik pada pendapatan orang tua kita di sana?

Dengan bahasa yang lebih lugas, apakah pembukaan lahan perkebunan kelapa Sawit untuk kebaikan semua masyarakat Enrekang? Apakah perkebunan kelapa sawit keinginan warga atau elit? Dan masih banyak pertanyaan polos mahasiswa Massenrempulu di tanah rantau, khususnya yang ada di Jakarta. Namun pertanyaan yang berseliuran di atas sangat boleh jadi mewakili kita sebagai orang yang berketurunan dan atau berasal dari Bumi Massenrenpulu.
Pertanyaan demikian dianggap wajar mengingat banyak wilayah sebaran perkebunan kelapa sawit di seluruh pelosok Indonesia. Dan tidak jarang kontra produktif dari niat awal, yaitu sebagai jalan menuju kesejahteraan warga.

SAWIT DALAM TINJAUAN KEBUTUHAN

Sebagaimana diketahui bersama dalam kalangan yang berkecimpng di bidang ini, Sawit adalah salah satu jenis tanaman palma yang berasal dari Afrika Barat. Tanaman ini memang berasal dari gurun dan membtuhkan air yang cukup banyak. Sehingga dapat dipastikan tanaman ini akan mengurangi pasokan air bersih untuk masyarakat Massrenpulu di masa mendatang.

Dalam tinjauan sejarah di Indonesia, Sawit pertama kali diperkenalkan dan ditanam di wilayah Bogor oleh kalangan Belanda pada tahun 1848. Selanjutnya di budidayakan dan dikomersilkan pada tahun 1911. Pada masa kependudukan Belanda, tepatnya tahun 1919 ekspor Sawit ke sangat gencar pesat hingga mengalahkan Afrika yang nota bene sebagai asal tanaman ini. Singkat cerita, setelah Pemerintah kolonial Belanda dan Jepang meninggalkan Indonesia, perkebunan Sawit yang tersebar di beberapa Wilayah diambil alih oleh pemerintah dengan alasan keamanan sosial politik. (diolah dari berbagai sumber).

Membaca sekilas sejarah awal mula sawit Indonesia memberi gambaran sederhana: pembukaan dan pengembangan lahan perkebunan kelapa sawit pada awalnya bukan kebutuhan dasar manusia Indonesia. Spirit penanaman sawit tidak lebih karena kebutuhan pasar dunia. Sedangkan eksportir Sawit hanya melihat secara pragmatis, yaitu keuntungan ekonomis yang didapatkan tanpa melihat dampak jangka panjang yang ditumbulkan serta efek sosial yang diakibatkan. Secara singkat dapat kita katakan bahwa, sejak awal Sawit di Indonesia mempunyai Cacat bawaan.

Namun pada saat bersamaan, kita perlu tegaskan, bawa Catat bawaan atau dosa masa lalu penanaman dan pembukaan lahan Kelapa sawit secara besar-besaran tidak berarti menolak Rencana perkebunan Kelapa Sawit di Bumi Massenrempulu.

Dosa masa lalu disebutkan dalam tinjauan ini hanya sebagai pengingat untuk semua kalangan pengambil kebijakan agar lebih berhati-hati ketika memberikan Izin pembukaan lahan perkebunan Sawit. Pun demikian, catat bawaan perkebunan kelapa sawit disebutkan disini sebagai pesan kepada Kepala Daerah Kabupaten Enrekang, H. Muslimin Bando untuk melibatkan semua elemen Bumi Massenrempulu jika memang hal itu akan direalisasikan.

HARUSKAH SAWIT?

Mahasiswa Massenrempulu di Jakarta dan mungkin mayoritas masyarakat Bumi Massenrempulu tidak menyangsikan niatan baik Kepala Daerah dalam pembangunan, pemerataan Ekonomi, serta peningkatan kesejahteraan Masyarakat Massenrempulu. Namun pertanyaannya tetap sama Haruskah sawit sebagai solusi?

Atau apakah sawit adalah solusi terbaik saat ini menuju jalan kesejahteraan itu? Pertanyaan-petanyaan sederhana demikian diharapkan sebagai bahan renungan Kepala Daerah Kabupaten Enrekang beserta Jajajarannya sebagai orang dan kelompok yang paling dimintai pertanggung jawaban dalam catatan sejarah Bumi Masseenpulu jika dikemudian hari dampak negatif lebih dominan dibanding dampak positif.

Pertanyaan ini pun menghantarkan kita pada keniscayaan sejarah lainnya : semua kalangan Bumi Massenrempulu dimana pun berada memerlukan dialog di ruang demokratis. Dialog seperti ini dianggap penting untuk kita lepas dan bukan bagian dari orang-orang yang akan dipersalahkan oleh generasi Massenrempulu di masa datang. Kalangan pengusaha, intelektual muda, Aktivis sosial, Mahasiswa saatnya proaktif membangun Bumi Massenrempulu dan tidak membebankan kepada Kepala Daerah beserta jajarannya semata. Toh kita jualah sebagai Masyarakat Massenrempulu yang memberikan kepercayaan kepada H. Muslimin Bando sebagai Bupati untuk mengantarkan Bumi Massenrempulu menuju GERBANG EMAS. Dan mungkin pembukaan Lahan perkebunan Sawit adalah jembatan EMASnya? Amin.

=========

DATA PENULIS
NAMA : DARWIS EMBONG BULAN
ALAMAT : Jl. Talang No. 39 Pegangsaan Menteng Jakarta Pusat.
FACEBOOK : facebook.com/darwis.eb
TWITTER : @D_EBulan
PHONE : 0821 8228 2345

To Top