Tidak Kebagian Sepatu, Paskibraka Bulukumba Mengeluh ke Dewan – FAJAR.co.id

FAJAR.co.id

exciting-banten
Makassar

Tidak Kebagian Sepatu, Paskibraka Bulukumba Mengeluh ke Dewan

FAJARONLINE, BULUKUMBA — Upacara Perhelatan sekali setahun untuk merayakan kemerdekaan Republik Indonesia  sangatlah membutuhkan persiapan yang matang untuk menampilkan yang terbaik pada hari kemerdekaan pada 17 Agustus itu. Salah satunya dengan pasukan pembawa bendera atau paskibraka. Pasukan yang beranggotakan 71 orang itu terpaksa menelan kesedihan usai tampil memukau pada acara HUT RI yang dipusatkan di lapangan Pemuda, Bulukumba.

Sebanyak 24 orang anggota pasukan pengibar bendera pusaka (paskibraka) Bulukumba, tidak kebagian sepatu dalam acara puncak proklamasi kemerdekaan 17 Agustus lalu. Akibatnya, sebagian anggota terpaksa menggunakan sepatu bawaan dari rumah. Padahal anggaran pelaksanaan paskibraka mencapai Rp572 juta lebih.

Kepala Seksi (Kasi) Pemberdayaan Pemudaan dan Olahraga
Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Bulukumba, Abd Azis, menjelaskan, anggaran paskibraka belum sepenuhnya dicairkan, masih tersisa hingga Rp200 juta lebih. Bahkan, tertundanya pencairan menyebabkan beberapa agenda ini tertahan, seperti rencana perjalanan dinas paskibraka ke Kabupaten Enrekeng.

Selain itu, biaya pelatihan, pemateri dan transportasi, sampai hari ini juga belum dianggarkan, sehingga dia mendorong perlunya ada dengar pendapat (hearing) terhadap masalah yang terjadi. Meski ini merupakan tanggungjawab dinas pendidikan sebenarnya. “Baju ini kan dipihakketigakan, dan ini sudah cair. Selebihnya belum ada yang cair, salah satunya biaya transportasi para paskibraka dan honor pelatihnya,” katanya.

Bukan hanya itu. Kendala lain juga terungkap seperti, tempat penginapan para paskibraka juga tidak layak, anggota tidur hanya menggunakan kasur tanpa sprei. Bagi yang melihat akan meneteskan air mata. Padahal, kata Abd Aziz, penginapan mestinya jauh lebih memadai dan lebih bagus, hanya kondisi di lokasi sangat memperhatinkan. Untung, kata dia, anggota tidak tidur melantai. “Kita mendorong Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) ini sebagai tempat penginapan mereka harus dibenahi. Disana tidak layak ditempati,” ungkapknya. (taq/wik)

loading...
Click to comment
To Top