DSC: Usaha Dagang Paling Diminati – FAJAR.co.id

FAJAR.co.id

exciting-banten
Nasional

DSC: Usaha Dagang Paling Diminati

JAKARTA — Diplomat Success Challenge (DSC) yang merupakan program kompetisi wirausaha untuk mendapatkan modal hingga Rp2 miliar sudah berhasil menjaring setidaknya 6.600 proposal usaha. Program yang dicetuskan Wismilak Diplomat dan Wismilak Foundation ini pun telah menyaring sebanyak 90 challenger terbaik.
Hal yang menarik dari penjaringan wirausahawan ini yakni sebagian besar calon atau peminas usaha masih tertarik pada usaha dalam sektor perdagangan. Persentasenya yakni jenis usaha perdagangan yang mencapai (41%), diikuti oleh kuliner (27%), industri kreatif (14%) dan agro industry (8%). Minat di bidang Teknologi hijau, energy dan pariwisata jumlahnya masih belum signifikan.
Penjaringan wirausahawan DSC kali ini meningkat drastis dari tahun sebelumnya. Selain berasal dari berbagai kalangan, pemula, dan mereka yang telah menjalankan usahanya, saat pendaftaran ditutup 12 Juni lalu jumlahnya jumlahnya 10 kalo lipat dari tahun lalu. “Tahun ini kami kebanjiran peminat, ada 6.600an proposal yang terjaring masuk,” ujar Ketua Dewan Komisioner, Surjanto Yasaputera.
Suryanto menegaskan, berdasarkan domisili peserta, kompetisi wirausaha ini dibagi menjadi tiga area. Yakni kawasan Indonesia Timur, Tengah dan Barat. Jumlah peserta paling banyak datang dari Central Region (Kalimantan, DIY dan Jawa Tengah) yakni sebanyak 55%, diikuti oleh peserta dari West Region (Sumatera, Kep Riau, DKI Jakarta dan Jawa Barat) sebanyak 26% dan dari East Region (Sulawesi, Jawa Timur dan Indonesia Timur) sebanyak 19%.  Di antaranya bahkan ada peserta dari luar negeri yang ikut berkompetisi.
Seleksi awal dilakukan oleh satu tim yang terdiri dari 10 orang, mereka meneliti proposal yang masuk. “Pertama kali kami melihat kelengkapan administrasi yang diminta dalam proposal, ada beberapa proposal yang tidak bisa diloloskan karena tidak lengkap,termasuk tidak adanya perhitungan cash flow” ujar pria yang akrab disapa Pak Surini.
Setelah memeriksa kelengkapan, Panitia masih disibukkan meneliti akurasi ribuan proposal yang lolos. Salah satu tolak ukurnya adalah cash flow atau kinerja keuangan. DSC tidak menuntut perhitungan keuangan yang sempurna, namun proposal yang sama sekali tidak disertai perhitungan keuangan, sudah pasti langsung dicoret.
Feasibility Sebuah proposal usaha memang langsung tergambar dari rencana keuangan, terutama dari perhitungan modal yang diperlukan serta keuntungan yang akan dihasilkan.
Selain kelayakan usaha, kriteria penilaian antara lain juga mencakup keunikan ide, potensi pasar, prospek pertumbuhannya, sampai orisinalitas bentuk usaha. Dampak positif terhadap masyarakat sekitar, termasuk adanya unsur pemberdayaan juga menjadi nilai tambah.
“Ide yang unik dan menarik tidak hanya terkait produk atau jasa yang ditawarkan, namun bisa juga dari proses bisnisnya. Mungkin produknya biasa saja yang sudah kita kenal sehari-hari, tapi bisa menjadi baru dan menarik kalau dipasarkan dengan cara baru.
Panitia mengatakan dengan tegas bahwa format proposal tidak boleh dikurangi atau diubah sistematikanya. Namun proposal boleh ditambah dan dilengkapi, antara lain dengan bagan dan foto atau gambar mengenai detil produk. Beberapa bahkan menambahkan foto-foto proses produksi. Tambahan foto produk sangat membantu tim seleksi dalam membuat keputusan, sebab langsung terlihat jelas, jadi memudahkan penilaian.
“Di tiap region atau kawasan ada 30 kandidat, yang untuk selanjutnya kami sebut challenger, mereka semua langsung dikontak untuk mengikuti tahapan selanjutnya yakni audisi,” ujar Pak Sur. Mereka yang lolos tidak terbatas pada kegiatan wirausaha yang sudah berjalan, namun juga yang masih dalam bentuk idea atau konsep usaha.
Pada tahap audisi, seluruh challenger  yang lolos diminta hadir menyajikan proposal usahanya di depan dewan juri. Untuk peserta dari Indonesia Barat, presentasi akan diadakan tanggal pada 19 Agustus 2015, bertempat di Hotel Aston Tropicana, Bandung. Challenger dari Indonesia Tengah diminta hadir di Hotel Melia Purosani, Yogyakarta pada tanggal 21 Agustus 2015. Sedangkan untuk Indonesia Timur, presentasi challenger diadakan di Hotel Novotel, Surabaya pada tanggal 23 Agustus 2015.
Saat presentasi, setiap challenger diberi waktu 10 menit untuk memaparkan rencana usahanya. Setelah presentasi, dewan juri yang terdiri dari 3 orang akan mengajukan pertanyaan untuk menguji. Karena itu Pak Sur menghimbau agar para challenger  yang terpilih mempersiapkan diri, membuat bahan presentasi yang menarik dan mengesankan. (arm)
loading...
Click to comment
To Top