Wao! Absen Lima Tahun, Karnaval Solo Dibanjiri Penonton – FAJAR.co.id

FAJAR.co.id

Ragam

Wao! Absen Lima Tahun, Karnaval Solo Dibanjiri Penonton

SOLO, RAJA – Untuk menyemarakkan perayaan kemerdekaan Republik Indonesia ke-70, Pemerintah Kota (Pemkot) Solo memberikan kado tontonan gratis bagi warga dengan penyelenggaraan Pawai Pembangunan, Selasa (18/8) sore. Pawai yang telah lima tahun absen digelar tersebut disambut antusias ribuan warga Soloraya.

Patung setinggi enam meter diboyong 10 anggota pemuda Karang Taruna RW 002 Losari, Semanggi, Pasar Kiwon. Dari kejauhan, sosok patung terlihat mengenakan kemeja berwarna putih, celana hitam, helm proyek, serta sepatu boots berwarna hijau. Saat melintasi penonton, wajah patung tersebut mulai terlihat akrab di antara penonton. “Pak Jokowi,” teriak beberapa warga yang berdiri di barisan penonton.

Patung replika Presiden RI ketujuh itu terlihat sedikit menunduk tanda memberi hormat kepada tamu undangan dan jajaran Musyawarah Pimpinan Daerah (Muspida) Kota Solo yang duduk di panggung kehormatan persis di seberang Plaza Sriwedari.

Gaya replika Jokowi tersebut dibuat mirip dengan sifat asli Presiden yang gemar blusukan. Dengan gestur setengah berlari dan membawa gulungan kertas, keberadaan replika patung menjadi salah satu magnet penonton yang menjejali Jl. Slamet Riyadi.

Arak-arakan patung replika dikawal belasan anggota pemuda Karang Taruna RW 002 Losari. Dengan mengenakan lurik untuk pemuda karang taruna, serta kebaya dan jarik untuk pemudi karang taruna, mereka kompak mengenakan caping sambil membawa tulisan berbunyi “Ayo Kerja!”. “Patung dari bambu dan sak semen bekas ini dibuat satu pekan oleh karang taruna dan warga. Biaya pembuatannya Rp3 juta yang didapat dari urunan warga,” terang Joko Santoso, Ketua Karang Taruna RW 002 Losari.

Tak hanya replika Jokowi, arak-arakan unik lainnya menampilkan aksi teatrikal yang dibawakan 22 anggota Teater Soekamto dari Kampus Unisri. Sepasang lelaki dan perempuan yang mengenakan toga dan jas wisuda, terlihat menggelindingkan roda ban truk yang ditempeli uang kertas tiruan. “Aksi teatrikal ini punya pesan kalau dalam keluarga ada yang mau kerja keras, anak-anaknya bisa jadi sarjana. Aksi ini dibuat sebagai implementasi Ayo Kerja yang digulirkan sebagai tema pawai pembangunan,” jelas Aan Kenthut, konseptor  aksi teatrikal dari Teater Soekamto.

Tak hanya melibatkan 30 unsur masyarakat mulai dari Paskibraka, SMKN 8 Solo, Akademi Militer, Komunitas Lembu Sura, Red Batik Indonesia, sampai Solo Batik Carnival, acara pawai tersebut juga menyuguhkan 60 karnaval mobil hias.

Dalam pawai mobil hias yang diikuti instansi pemerintah, kelurahan, LPMK, serta BUMN tersebut, rupanya cukup banyak perusahaan swasta yang tertarik ikut serta. Lorin Solo Hotel misalnya. Hotel yang berlokasi di Colomadu, Karanganyar tersebut menampilkan mobil yang dihiasi aneka tanaman dan bunga segar.

Pada sisi sebelah kanan, kiri, dan belakang mobil, dibubuhkan pesan berupa tulisan yang membuat sejumlah pejabat SKPD di lingkup Pemkot Solo tertawa. “Ayo Kerja! Kerja! Kerja! Kalau tidak boleh meeting di hotel, kapan kita kerja?” pesannya mengritik Kemenpan RB yang sempat menggulirkan kebijakan pelarangan rapat di hotel.

Kepala Disbudpar Solo, Eny Tyasni Suzana, menuturkan respons semua elemen masyarakat untuk mengikuti Pawai Pembangunan cukup baik. “Pawai ini untuk menampilkan semua potensi ekonomi, sosial, dan pemerintah. Harapannya mereka bisa bersinergi untuk bersama-sama membangun kota. Masyarakat juga menyambut baik acara ini,” jelasnya.

Evaluasi Program

Disinggung soal penyelenggaraan Pawai Pembangunan yang disambut meriah setelah lima tahun absen digelar, Eny menuturkan pihaknya berencana mengevaluasi total seluruh agenda tahunan yang rutin digelar pemerintah. “Semua event ke depan kami evaluasi. Seperti pawai ini. Meski responsnya bagus, kalau tahun depan tidak ada inovasi konsep, lebih baik tidak perlu diselenggarakan reguler. Orang sini punya kecenderungan jenuh untuk menonton acara yang sama,” ungkapnya.

Salah seorang penonton, Sri Sularmi, 46, mengaku terhibur dengan suguhan gratisan dari Pemkot tersebut. “Sudah lama tidak ada Pawai Pembangunan. Lumayan bagus acaranya. Mobil hiasnya juga unik-unik. Sayang penontonnya suka tidak tertib dan menghambat iring-iringan,” keluh warga yang tinggal di Kartasura, Sukoharjo ini.

Seperti laiknya acara arak-arakan, karnaval, kirab, dan sejenisnya, Pawai Pembangunan 2015 yang berlangsung selama kuran lebih 2,5 jam menyisakan masalah di akhir acara. Berbagai sampah bungkus makanan tersebar di sepanjang jalur karnaval di Jl. Slamet Riyadi-Jl. Jenderal Sudirman. Taman yang ada samping jalan protokol tersebut juga tak luput dari kerusakan karena terinjak-injak penonton. (Sp)

Click to comment
To Top